Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Sampai Kapan Palestina Menderita?


Topswara.com -- Tahun berganti, namun air mata dan darah di tanah palestina belum berhenti mengalir. Justru, penderitaan kaum muslim di sana semakin menyayat hati. Kabar terbaru kembali menyentak kesadaran kita yaitu serangan brutal, pembunuhan massal, dan pencaplokan wilayah terus dilakukan oleh entitas penjajah Israel.

Fakta dilapangan menunjukan eskalasi yang mengerikan. Korban tewas akibat agresi Gaza menembus angka lebih dari 71.000 jiwa. Dilansir dari antaranews.com. Gaza- Jumlah korban tewas akibat agresi Israel di Jalur Gaza Oktober 2023 mencapai 71.269 orang, sementara 171.232 lainnya mengalami luka, menurut berbagai sumber medis pada Rabu (31/12/2025).

Tidak cukup dengan membunuh fisik, penjajah juga membunuh harapan hidup. Otoritas Palestina belakangan ini mengutuk keras keputusan Israel yang melarang 37 organisasi kemanusiaan beroperasi. 

Langkah keji ini jelas bertujuan memutus urat nadi kehidupan rakyat Palestina, dengan membiarkan mereka mati perlahan dalam kelaparan dan blockade total. Pertanyaannya, sampai kapan penderitaan ini akan terus berulang?

Ilusi Perdamaian 

Dunia internasional, termasuk negara Barat seperti Kanada dan Inggris, menyatakan keprihatinan atas situasi yang buruk. Namun, “keprihatinan” tanpa tindakan nyata hanyalah hipokrisi. 

Di sisi lain, tawaran penyelesaian yang dipimpin oleh Amerika Serikat (AS), seperti proposal gencatan senjata, terbukti hanyalah “obat penenang” yang mematikan.

Faktanya, gencatan senjata yang digadang-gadang hanyalah tipuan. Data mencatat selama masa jeda sebelumnya, terjadi ratusan pelanggaran oleh Zionis. Bahkan, Mesir menyebut Netanyahu sengaja menghambat tahap kedua gencatan senjata. 

Ini membuktikan bahwa berbagai tawaran damai ala Barat tidak lebih dari sekedar mengulur waktu bagi Israel untuk menyusun ulang kekuatan, sementara rakyat Palestina dibiarkan lengah dan terus menderita.

Tentu saja ini menunjukan bahwa membiarkan Israel tetap eksis, diakui maupun tidak sama artinya membiarkan Palestina menderita selamanya. Ambisi mereka bukan sekedar bertahan, melainkan mewujudkan “Israel Raya” (Greater Israel). Hal ini terkonfirmasi dengan rekor ekspansi pemukiman ilegal di tepi barat sepanjang tahun 2025. Artinya mereka ingin menguasai tanah Palestina dan menghabisi pemiliknya.

Oleh karena itu berharap pada PBB, mengutuk tindakan Israel, atau sekadar memohon agar pintu bantuan dibuka, tidak akan pernah cukup karena tidak menyentuh akar masalah. Akar masalahnya adalah keberadaan entitas penjajah itu sendiri di jantung negeri muslim.

Penghianatan Penguasa dan Absennya Perisai Umat

Di tengah pembantaian ini, di mana para penguasa negeri muslim? Meraka memiliki tentara, tank, dan jet tempur, namun hanya diam terpaku di balik sekat nasionalisme. Diamnya mereka adalah bentuk pengkhianatan yang nyata terhadap darah saudara seiman. Mereka lebih takut pada ancaman AS daripada murka Allah Swt. 

Umat Islam harus sadar bahwa penderitaan Palestina tidak akan berakhir melalui meja perundingan, melainkan melalui persatuan umat di bawah naungan institusi politik Islam.

Status tanah Palestina adalah tanah kharajiah, tanah yang dibebaskan oleh Khalifah Umar bin Khattab dan dipertahankan oleh Shalahuddin Al-Ayyubi serta para khalifah Utsmaniah. Tanah ini adalah milik seluruh umat Islam di dunia hingga hari kiamat. Maka, haram hukumnya menyerahkan walau sejengkal tanah Palestina kepada penjajah.

Solusi Hakiki

Hanya institusi Islam yakni khilafah yang mampu menjadi junnah (perisai). Khilafah akan menyatukan potensi militer umat Islam untuk mengusir penjajah dan membebaskan Palestina secara tuntas. Sejarah membuktikan, Palestina mulia di bawah naungan Islam dan terhina saat Islam (khilafah) tiada.

Maka, konstruksi perjuangan kita hari ini harus diarahkan pada dua hal yaitu menghentikan pengkhianatan penguasa dan menegakkan institusi Islam (Khilafah).

Wahai kaum muslim, penderitaan Palestina adalah ujian bagi keimanan kita. Allah Swt berfirman: “Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usir lah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah)…” (QS.Al-Baqarah 191).

Kesimpulan

Penderitaan saudara kita di Palestina bukan sekadar tragedi kemanusiaan, melainkan tragedi akibat hilangnya kepemimpinan Islam. Air mata, donasi, dan kutukan memang wujud kepedulian, namun semua itu tidak akan menghentikan peluru dan bom Zionis. Fakta 71.000 syuhada dan blokade bantuan kemanusiaan adalah bukti nyata bahwa musuh tidak mengenal bahasa belas kasih.

Oleh karena itu, perjuangan kita hari ini tidak boleh berhenti pada simpati. Kita harus bergerak menyadarkan umat bahwa Palestina butuh tentara, butuh negara, dan butuh khilafah sebagai perisai hakiki.

Semoga Allah menyatukan hati kaum muslim untuk segera mewujudkan janji-Nya, menegakkan kembali khilafah yang akan membebaskan Alaqsa dan mengakhiri penderitaan Palestina selamanya.

Wallahu a’lam.


Oleh: Khurunninun Q.A'
Aktivis Dakwah 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar