Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Dari Game ke Teror: Potret Absennya Negara Melindungi Generasi


Topswara.com -- Perjalanan dari layar game menuju kekerasan nyata bukan lagi sekadar kemungkinan, tetapi telah menjadi fakta sosial yang berulang. Ketika game online menjadikan kekerasan sebagai hiburan, pembunuhan sebagai tantangan, dan agresivitas sebagai prestasi, maka generasi sedang digiring menuju pola pikir yang berbahaya. Dari game ke teror, inilah potret nyata absennya negara dalam melindungi generasi.

Fakta menunjukkan dampak serius dari game online berbasis kekerasan. Di Medan, seorang anak tega membunuh ibunya sendiri. Kepolisian mengungkap pelaku kerap memainkan game online dengan konten kekerasan ekstrem dan mengalami perubahan emosi sebelum kejadian (Kompas, 29/12/2025).

Kasus lain terjadi di Depok. Seorang mahasiswa ditetapkan sebagai tersangka teror bom di 10 sekolah. Polisi mengungkap adanya pengaruh konten digital dan permainan daring yang membentuk pola pikir agresif dan destruktif (CNN Indonesia, 26/12/2025) 

Rangkaian kasus ini menegaskan bahwa game online dengan kekerasan bebas dan mudah diakses anak-anak telah berdampak serius pada emosi, empati, dan kesehatan mental. Ini bukan lagi persoalan individu atau keluarga semata, melainkan persoalan sistemis yang lahir dari pembiaran negara.

Platform digital tidak netral. Setiap game membawa nilai dan cara pandang. Kekerasan dinormalisasi, agresi dilegitimasi, dan empati disingkirkan. Semua itu dikemas menarik dan adiktif. Di baliknya, kapitalisme global menguasai ruang digital. 

Industri game bernilai triliunan dolar dan digerakkan oleh satu logika: keuntungan. Kerusakan akal dan masa depan generasi bukanlah pertimbangan.

Islam menempatkan penjagaan akal (hifzhul ‘aql) sebagai kewajiban syar’i. Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan” (QS. Al-Baqarah: 195). Ayat ini menjadi dasar larangan atas segala sarana yang merusak jiwa dan akal manusia.

Rasulullah ï·º bersabda, “Tidak boleh menimbulkan bahaya dan tidak boleh saling membahayakan” (HR. Ibnu Majah). 

Game online yang menormalisasi kekerasan dan merusak kesehatan mental jelas termasuk bahaya yang wajib dicegah. Lebih tegas lagi, Rasulullah ï·º menyatakan, “Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Namun dalam sistem sekuler-kapitalistik, negara justru kehilangan peran strategisnya. Negara tunduk pada korporasi global, tidak memiliki kedaulatan digital, dan gagal membendung arus konten destruktif. Selama sistem ini dipertahankan, perjalanan dari game ke teror akan terus berulang.

Islam menawarkan solusi mendasar melalui penerapan sistem Islam secara menyeluruh. Penjagaan generasi dilakukan melalui tiga pilar: ketakwaan individu, kontrol masyarakat dengan amar makruf nahi mungkar, serta perlindungan negara yang tegas. Semua pilar ini hanya efektif jika diterapkan dalam sistem politik, ekonomi, pendidikan, pergaulan dan sosial. 

Karena itu, persoalan game online dan kekerasan bukan sekadar isu teknologi. Ia adalah potret kegagalan sistem sekuler dalam melindungi generasi. 

Perubahan parsial tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah perubahan sistemis menuju penerapan Islam secara kaffah dalam institusi negara. Hanya dengan sistem Islam, akal, jiwa, dan masa depan generasi benar-benar bisa dijaga. []


Oleh: Zahida Ar-Rosyida
(Aktivis Muslimah Banua) 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar