Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Generasi Rusak Akibat Salah Guna Digital


Topswara.com -- Game online yang mudah diakses saat ini sangat berbahaya karena mengandung kekerasaan mampu mempengaruhi emosi dan kesehatan mental anak-anak. 

Ada banyak kasus yang terinspirasi dari game online ini, salah satunya adalah pembunuhan yang dilakukan seorang anak perempuan Al (12) terhadap ibu kandungnya F (42) di kota Medan. Kapolrestabes Medan Kombes Calvin Simanjuntak menyampaikan, Al menikam ibunya sebanyak 26 luka tikam (kompas.com, Senin 29/12/2025).

Masyakarat banyak yang belum menyadari bahaya game online, dimana dalam platform digital ini anak-anak secara tidak langsung disuguhkan nilai-nilai dan ajaran yang dapat merusak mental, namun dikemas secara menarik dalam bentuk game. 

Perlahan tetapi pasti bahwa anak-anak sedang dirusak mentalnya, pemikiran serta emosinya. Sehingga, ketika mereka mendapati suatu masalah akan mudah mengambil jalan pintas seperti yang mereka tonton dalam game online dengan melakukan kekerasaan tanpa berpikir akibatnya. 

Padahal kita tahu generasi muda adalah penerus peradaban, namun dengan adanya game online ini secara tidak langsung menghancurkan potensi mereka yang berharga dimasa depan. 

Ada banyak faktor yang mempengaruhi kenapa game online saat ini masih begitu marak. Pertama, karena saat ini negara menerapkan sistem kapitalisme, sistem ini memanfaatkan ruang digital untuk dapat meraup keuntungan sebanyak-banyaknya, tanpa memperdulikan kerusakan yang terjadi pada generasi dan kehidupan manusia karena asas dari kapitalisme adalah asas manfaat.

Kedua, aspek pendidikan pada sistem kapitalisme yang hanya melahirkan generasi pencetak uang saja tanpa menanamkan akidah membuat generasi jauh dari ketakwaan kepada Allah SWT. Sehingga anak-anak mudah rapuh, mudah terkontaminasi dengan hal-hal negatif, mudah berputus asa ketika dihadapkan dengan suatu persoalan mereka mengambil jalan pintas. 

Mereka tidak mampu berpikir secara mendalam seperti melakukan kejahatan dan kemaksiatan. Ketiga, peran keluarga dalam mengawasi anak. Namun, karena saat ini peran keluarga sudah hilang yang seharusnya menjadi pelindung dan garda terdepan dalam memberikan pendidikan kepada anak, kini peran ibu pun terkikis dengan aktivitas membantu perekonomian keluarga. 

Akhirnya anak terbengkalai, begitupun masyarakat dalam sistem kapitalisme yang individualis tidak beramar makruf hanya mementingkan dirinya sendiri. 

Keempat, faktor yang tidak kalah penting adalah tidak adanya peran negara yang seharusnya negara berperan dan mampu melindungi rakyat terutama generasi dari bahaya kerusakan mental dari akibat game online ini. 

Abainya negara terbukti dengan terus membiarkan game online ada beserta tayangan-tayangan kekerasaan. Sementara solusi yang ditawarkan hanya bersifat tambal sulam saja tanpa menyentuh akar masalahnya. Menutup satu game online namun kemudian muncul lagi game online lainnya.

Dalam Islam generasi adalah tonggak penerus peradaban, Islam mewajibkan menjaga dan melindungi generasi dari segala bentuk kerusakan dengan berbagai mekanisme yang sesuai dengan syariat Islam. 

Islam memiliki aturan yang sempurna yang berasal dari Allah SWT, dalam hal ini Islam tidak menolak adanya teknologi dan sains, namun Islam akan mengarahkan teknologi ini untuk kemaslahatan kaum muslim bukan merusaknya. Maka dari itu, Islam akan melawan hegemoni ruang digital ala kapitalisme. 

Dengan kekuatan kedaulatan digital Islam, karena hegemoni ruang digital ini adalah fenomena komplek dimana kekuatan besar di dunia digital membentuk realitas, mempengaruhi perilaku, nilai dan juga ekonomi.

Dalam aspek pendidikan, Islam yang berasaskan pada akidah Islam mampu melahirkan generasi berkepribadian Islami yang taat kepada Allah SWT. Generasi yang mampu membedakan antara hak dan batil, serta tidak mudah rapuh dan berputus asa karena berpikiran mendalam dalam menghadapi segala bentuk persoalan. 

Islam juga akan mendorong dan memfasilitasi generasi muda untuk produktif tanpa melanggar batas dan kehilangan tujuan hidupnya yaitu menggapai ridha Allah.

Keluarga Islam sangat dominan dalam mendidik karakter generasi. Peran ibu sangat penting dalam sebuah keluarga sebagai madrasah pertama bagi anaknya dengan menanamkan akidah yang kuat. Sedangkan ayah berperan sebagai pemimpin menjadi contoh bagi anak-anaknya, bertanggungjawab penuh untuk mencari nafkah tanpa mengurangi perannya dalam mendidik generasi. 

Generasi terpenuhi haknya mendapatkan pendidikan karakter dan mental yang lengkap dan kuat dari kedua orang tuanya sehingga tidak rapuh ketika ditempa hal-hal negatif.

Aspek ekonomi Islam juga memberikan jaminan dalam memenuhi kebutuhan dan kesehjateraan bagi semua rakyat. Maka seorang ibu akan terjaga peran serta fitrahnya sebagai madrasah pertama bagi anaknya karena tidak diwajibkan baginya untuk bekerja.

Begitupun dengan pengaturan media dalam Islam, sepenuhnya menjadi tanggung jawab negara. Negara akan memfilter semua tayangan yang dapat merusak akidah dan kesehatan mental generasi seperti game online.

Ada tiga pilar penting dalam Islam yang mampu menangkal persoalan kerusakan generasi saat ini. Pertama adanya kesadaran individu akan ketakwaan kepada Allah SWT, yang akan membentuk ketaatan dan ketakwaan serta mengetahui halal dan haram serta mampu berpikir secara mendalam dalam menghadapi berbagai persoalan. 

Kedua, peran masyarakat dalam beramar makruf sehingga mampu mencegah segala bentuk kejahatan dan kemaksiatan. Yang ketiga adanya peran negara secara penuh dan nyata dalam menjaga dan melindungi generasi, dan sebagai pelaksana hukum.

Maka, hanya dengan menerapkan sistem Islam secara kaffah lah yang mampu mengatasi segala persoalan umat saat ini secara tuntas. Islam mampu melahirkan generasi yang sadar akan visi, misi dan tujuan hidupnya, menjadi tonggak peradaban untuk mengawal perubahan yang sesuai dengan syariat Islam. Sejarah peradaban Islam yang gemilang selama belasan abad telah membuktikannya.

Wallahu a'lam bish shawab.


Oleh: Iske
Aktivis Muslimah 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar