Topswara.com -- Di tengah dunia yang dipenuhi tekanan, kompetisi, dan konflik sosial, banyak orang mencari rahasia hidup sehat dan awet muda lewat makanan mahal, perawatan canggih, atau gaya hidup elite.
Namun kenyataannya, banyak dari mereka justru tampak cepat lelah, cepat tua, dan penuh kegelisahan. Ini menunjukkan satu fakta penting bahwa kesehatan sejati tidak hanya berasal dari tubuh, tetapi dari hati.
Dalam Islam, kondisi batin menentukan kondisi fisik. Jiwa yang dipenuhi amarah, kecemasan, dan kebencian akan menggerogoti tubuhnya sendiri.
Sebaliknya, jiwa yang dipenuhi ridha, tawakal, dan ketenangan akan memancarkan kesehatan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Karena itu, ridha bukan hanya konsep spiritual, tetapi juga terapi kehidupan.
Syaikh Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari dalam Al-Hikam menyampaikan sebuah kaidah besar, “Istirahatkan dirimu dari mengatur apa yang telah diatur oleh Allah.”
Kegelisahan manusia modern lahir dari keinginan mengontrol segalanya, seperti perasaan orang lain, keputusan pihak lain, arah hidup, dan bahkan takdir. Ketika kenyataan tidak sesuai rencana, muncullah stres, marah, kecewa, dan kelelahan batin.
Padahal, Islam membagi kehidupan ke dalam dua wilayah, yaitu wilayah ikhtiar dan wilayah takdir. Tugas manusia hanya mengelola yang pertama. Yang kedua adalah wilayah Allah.
Ketika seseorang sibuk mengurusi hal-hal di luar kuasanya, ia sedang menyalahi sunnatullah. Dan tubuh akan membayar mahal pelanggaran itu lewat kelelahan, gangguan imun, dan penyakit psikosomatik.
Itulah sebabnya, orang yang fokus pada amanah dan menyerahkan hasil kepada Allah justru lebih sehat dan lebih awet muda.
Lebih jauh, banyak orang jatuh sakit bukan karena ujian itu sendiri, tetapi karena kebencian terhadap orang yang menjadi jalan ujian. Dalam Islam, manusia hanyalah wasilah. Yang mengatur tetap Allah.
Syaikh Ibnu ‘Atha’illah mengingatkan, “Tidak ada sesuatu pun yang bergerak kecuali dengan izin-Nya.”
Membenci manusia karena ujian yang kita terima sama saja seperti marah kepada pisau ketika kita terluka, padahal yang menggerakkan pisau adalah tangan.
Kebencian menyimpan racun di dalam jiwa, dan racun itu merusak tubuh pelan-pelan. Sebaliknya, ketika seseorang berkata dengan jujur, “Aku ridha ya Allah atas semua takdir-Mu,”
Maka, ia sedang membebaskan dirinya dari racun itu. Ridha menutup pintu stres kronis dan membuka pintu ketenangan. Dan ketenangan adalah fondasi dari sistem imun yang kuat, hormon yang seimbang, dan daya tahan tubuh yang stabil.
Dalam perspektif sistem Islam, sebagaimana dijelaskan Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, manusia dibentuk oleh akidah yang menenangkan jiwa. Sistem kapitalisme membuat manusia hidup dalam kecemasan tanpa akhir, seperti takut kalah, takut miskin, takut tidak cukup.
Islam membebaskan manusia dari ketakutan itu dengan satu keyakinan besar bahwa semua rezeki, semua ujian, dan semua takdir berada di tangan Allah.
Ketika keyakinan ini hidup, manusia tidak lagi tertekan oleh dunia.
Ia bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi hatinya tetap tenang. Ia berjuang, tetapi tidak hancur ketika hasilnya tidak sesuai harapan dan inilah kondisi psikologis yang melahirkan kesehatan sejati.
Pada akhirnya, hidup sehat dan awet muda bukan sekadar soal apa yang masuk ke dalam tubuh, tetapi apa yang kita simpan di dalam hati. Simpanlah ridha, iman, dan tawakal. Buanglah dendam, benci, dan keinginan mengendalikan segalanya.
Karena di sanalah terletak rahasia kesehatan yang tidak pernah bisa dikalahkan oleh usia. []
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)

0 Komentar