Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Palestina yang Masih Terpenjara


Topswara.com -- Kita telah sampai di tahun 2026, namun kondisi di Palestina makin menyedihkan. Upaya penyelesaian yang dilakukan nyatanya penuh dengan konspirasi jahat dan jauh dari harapan. Sementara itu 2 milyar umat Muslim lainnya masih saja tenggelam dalam ketidaksadaran akan saudaranya yang berkutat dengan penderitaan.

Seolah lupa dengan genosida pelaparan di Gaza dan serangan pasca gencatan senjata, Israel terus saja menggusur dan mencaplok wilayah Palestina dengan pembangunan 19 pemukiman ilegal di Tepi Barat. Para pemukim ilegal ini bahkan menyerang warga Palestina dan mencuri 150 domba di Kota Deir Dibwan, sebelah timur Ramallah. 

Data resmi Colonization and Wall Resistance Commission menunjukkan bahwa tren kekerasan yang dilakukan warga zionis terhadap warga dan properti Palestina makin meningkat, sepanjang November 2025 saja telah tercatat sebanyak 621 serangan yang mereka lakukan. 

Serangan ini meliputi pencurian ternak, pembakaran kendaraan dan toko hingga penganiayaan fisik (CNN Indonesia, 26/12/2025). Upaya yang dilakukan zionis dinilai banyak pihak sebagai langkah sistematis untuk memaksa warga Palestina meninggalkan tanah mereka.

Keserakahan Israel tanpa batas, berbagai upaya mereka lakukan untuk merampas dan menguasai seluruh wilayah Palestina. Sejak awal, mereka tak ingin membiarkan Palestina bebas. 

Dendam dan kebencian Zionis terhadap Islam dan umatnya telah mendarah daging dan terus berjalan seiring kecaman dan protes dari dunia sekitarnya. Israel tetap menunjukkan arogansi untuk memimpin dan mendominasi politik dan ekonomi dunia. 

Upaya perdamaian yang kerap disuarakan hanya formalitas belaka. Berbagai upaya seperti solusi dua negara juga tak lebih dari konspirasi jahat mereka untuk menguasai Palestina seutuhnya.

Di sisi lain, dunia seolah tak berdaya, tindakan keji Zionis Israel dalam membuat kerusakan dan genosida terpapar nyata di depan mata, namun mereka hanya melihat tanpa mampu melakukan tindakan nyata. 

Demikian juga dengan umat Islam sendiri, hingga hari ini para penguasa negeri muslim tak sedikit pun peduli, justru berbagai sikap yang mereka ambil terkait krisis Palestina menunjukkan keberpihakan mereka kepada musuh, bahkan mereka rela berjalan beriringan demi sebuah kepentingan.

Sejatinya karakteristik Zionis Israel tetaplah sama seperti pada awalnya. Dalam Al-Qur’an, terutama di Surat Al-Baqarah (ayat 40-123), Al-Maidah (ayat 13,22-24) dan Al-Isra (ayat 4-7), telah menyebutkan berbagai sifat buruk dan kejahatan yang dilakukan Bani Israil atau orang Israel/Yahudi pada masa lalu. 

Sifat-sifat yang telah menyatu dengan jiwa mereka antara lain: suka melanggar perjanjian, mengubah firman Allah SWT, bersikap pengecut, suka membuat kerusakan, keras kepala dan membunuh para Nabi.

Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk tidak berwala’ (memberikan loyalitas penuh atau bantuan aktif yang membahayakan umat Islam) kepada orang kafir. 

Nabi Muhammad SAW juga bersikap tegas terhadap negara yang memusuhi Islam dan pengkhianat perjanjian. Perang Badar, Uhud dan Khandaq adalah bentuk respon yang dilakukan Rasulullah SAW terhadap ancaman eksistensial terhadap negara Islam saat itu. 

Seharusnya saat ini, tak ada kompromi lagi bagi para pelaku kerusakan di muka bumi, terutama bagi Zionis Israel yang terbukti jelas melanggar prinsip-prinsip kemanusiaan, merampas tanah dan hidup rakyat Palestina serta melakukan genosida. Terlebih sudah ribuan upaya dilakukan namun zionis Israel tetap tak bisa dibungkam.

Agresi militer Zionis dan genosida yang mereka lakukan serta berbagai perjanjian gencatan senjata yang sering dilanggar oleh mereka sendiri telah cukup membuktikan bahwa tak ada jalan lain untuk membungkam mereka selain jihad dan mengirimkan pasukan militer. 

Namun hingga detik ini, tak ada satu pun negeri yang mampu mewujudkan terkirimnya pasukan, semua masih bersikeras memprioritaskan perundingan padahal tindakan zionis Israel telah melewati batas kemanusiaan.

Saat ini kita butuh seorang pemimpin yang bisa memberikan komando jihad karena sejatinya Palestina membutuhkan tentara untuk merdeka, dan pemimpin yang akan memberi komando jihad dan mengirimkan pasukan hanya akan terwujud ketika umat Islam bersatu dalam naungan khilafah, karena ia merupakan institusi yang berperan sebagai junnah yang akan menyelamatkan umat Muslim seluruh dunia dari segala bentuk penderitaan dan cengkeraman penjajah.[]


Oleh: Irohima
(Aktivis Muslimah)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar