Topswara.com -- Mendidik anak di zaman sekarang rasanya lebih berat dibanding mendidik anak sebelum tahun milenium. Zaman dulu, katakan tahun 1990an, sebelum ada HP bahkan internet, seorang ibu walaupun memiliki banyak anak tetapi kondisi fisik mereka sehat, mental mereka pun aman.
Jarang ditemukan kasus baby blues syndrome, postpartum depression atau mungkin mereka mengalaminya tapi tidak separah sekarang. Bandingkan dengan zaman sekarang, pernah dijumpai beberapa kasus orang tua yang melukai bahkan membunuh bayinya hanya karena bayinya rewel. Naudzubillah min dzalik.
Zaman dulu, informasi mendidik anak hanya mereka peroleh turun temurun dari orang tua. Tak ada ilmu parenting atau kajian pra nikah seperti saat ini. Misal, Generasi X dan Y (milenial) adalah generasi yang lahir di masa HP dan internet belum ada.
Para orang tua (generasi Boomer) mendidik gen X dan gen Y ini dengan gaya parenting ala VOC. Ini istilah yang dikatakan untuk parenting zaman dulu yang tegas dan keras, berlawanan dengan gentle parenting atau pola asuh yang lembut.
Parenting VOC ini melahirkan generasi yang tangguh dan kuat mentalnya. Karena, orang tua bisa sangat galak dalam mendisiplinkan anaknya, anak pun patuh karena takut. Pola asuh seperti ini bisa membuat mereka survive di tengah kehidupan, terlebih di sistem sekuler kapitalis.
Namun, pola asuh VOC ini pun ternyata menyimpan luka bagi anak. Luka pengasuhan di masa kecil mereka simpan sampai dewasa.
Parenting VOC tak menciptakan ruang diskusi dengan anak, anak dipaksa harus menuruti perintah orang tua. Banyak orang tua berkata "anak laki-laki tidak boleh menangis". Padahal, menangis adalah perasaan yang harus disalurkan dan itu fitrah.
Akhirnya ia tumbuh menjadi laki-laki dewasa yang nirempati dan kasar. Luka pengasuhan lainnya seperti sering diabaikan perasaannya, dibandingkan dengan saudaranya, dipukul, atau dicubit terbawa dalam memori mereka sampai mereka menjadi orang tua.
Di zaman sekarang, berbanding terbalik dengan zaman dulu. Informasi dan ilmu sangat mudah didapatkan. Bahkan ada seminar atau kelas pra menikah. Kemudian, setelah menikah ada ilmu kehamilan, bahkan ilmu menyusui. Ilmu parenting pun bertebaran. Informasi parenting ini menghiasi algoritma sosial media ibu-ibu muda.
Attachment parenting, gentle parenting, tiger parenting, slow parenting, dan lain-lain adalah jenis pola asuh modern, orang tua tinggal memilih mau menerapkan parenting yang mana pada anaknya.
Tetapi satu hal yang menarik dan penting diperhatikan, dari sekian banyak ilmu parenting kuncinya ada pada diri kita. Jadilah ibu terbaik versi kita sendiri. Jadilah ibu yang bahagia, ibu yang lebih baik dari hari kemarin.
Mengapa ada ibu yang tega melukai anaknya hanya karena rewel? Tentu banyak faktor, di sistem sekuler kapitalisme seperti ini, ekonomi tak menentu. Bisa makan saja sudah bersyukur. Mental ibu sering rapuh. Ibu yang terlalu banyak scrolling dan mendapatkan tsunami informasi juga bisa stres dan burnout, merasa diri belum bisa jadi ibu sempurna, tidak ideal, tidak sesuai dengan ilmu parenting.
Maka dari itu, wahai ibu, di tengah sistem kehidupan yang jauh dari fitrah seorang ibu. Jadikanlah waktu dengan anak-anak menjadi waktu yang berkah. Semua orang memiliki 24 jam yang sama, namun tidak semua mendapatkan waktu yang berkah.
Tidak apa bila ibu bekerja dan hanya punya waktu satu atau dua jam dengan anak. Namun, bagaimana mengelola waktu yang sedikit itu agar bisa mendapat keberkahan Allah SWT.
Allah menyukai amalan yang sedikit namun konsisten. Stop membawa HP saat membersamai anak, hadir sepenuhnya dengan anak-anak. Beri mereka ilmu dan hikmah dalam setiap dialog dengannya. Bukankah kita adalah madrastul'ula bagi anak-anak kita?
Di tengah badai informasi pola asuh modern, supaya tidak burnout dan terlalu banyak menerima ilmu parenting, maka kita harus memiliki batasan tegas, apa yang boleh dan tidak boleh ditolerir oleh anak.
Menurut DR. Musthofa Abu Sa'ad, 3 perilaku anak yang tidak boleh ditolerir yakni: Pertama, semua perilaku yang berbahaya untuk keselamatan anak dan lingkungan (misal bermain api, bermain di dekat kompor, dan lain-lain). Kedua, semua perilaku yang melanggar peraturan sosial/masyarakat (misal balapan liar, tidak memiliki sim, dan lain-lain). Ketiga, semua perilaku yang diharamkan agama (akun instagram @ratno.abumuhammad, 4/1/2026).
Nasihat tersebut bisa menjadi acuan pola asuh kita di rumah. Maka di luar perilaku itu, seperti anak bermain tanah, bermain hujan, tak sengaja menumpahkan minuman atau hal sepele lainnya, tak perlu kita menjadi emosi dan marah-marah berlebihan yang malah membuat anak menjadi cemas dan ibu pun menjadi mudah stres.
Dari tiga batasan itu pula, akhirnya kita sebagai orang tua tidak terjebak dalam gaya parenting Barat. Seperti gentle parenting yang tidak menganjurkan orang tua untuk berkata 'jangan' pada anak. Padahal Rasulullah SAW pun tidak menerapkan ilmu pengasuhan seperti itu.
Ketika anak melanggar batasan tadi bahkan melakukan pelanggaran hukum syara, sebagai orang tua kita boleh berkata 'jangan' bahkan marah pun boleh untuk kebaikan anak. Semoga para ibu kuat dan istiqomah dalam mendidik anak-anak hingga mampu membesarkan calon pemimpin peradaban Islam.[]
Oleh: Anisa Bella Fathia.S.Si.
Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok

0 Komentar