Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Laa Khaufun wa Laa Yahzanun: Cara Wali Allah Menatap Hari Ini dan Masa Depan


Topswara.com -- Di tengah dunia yang serba tak pasti, manusia biasa hidup dengan dua beban berat, yaitu takut akan hari esok dan sedih atas hari kemarin. Takut kehilangan, takut disakiti, takut gagal, takut ditinggalkan. Sedih karena masa lalu, pengkhianatan, luka, dan harapan yang tidak jadi nyata. 

Tetapi Al-Qur’an menghadirkan satu golongan istimewa, “Ala inna awliyaa-allaahi laa khaufun ‘alaihim wa laa hum yahzanun.” “Ingatlah, para wali Allah itu tidak memiliki rasa takut dan tidak pula bersedih.” (QS. Yunus: 62)

Ini bukan slogan kosong. Ini cara hidup. Apa itu “tidak takut dan tidak bersedih”?

Ibnu Abbas menjelaskan, “mereka tidak takut terhadap apa yang akan datang, dan tidak bersedih atas apa yang telah berlalu.”

Takut itu urusan masa depan. Sedih itu urusan masa lalu. Sedangkan wali Allah hidup di hari ini, bersama Allah. Kunci utama, yaitu menyerahkan segala urusan sepenuhnya kepada Allah.

Syaikh Ibnu Atha’illah As-Sakandari berkata dalam Al-Hikam, “istirahatkan dirimu dari mengatur urusanmu. Apa yang telah diatur untukmu oleh selainmu (Allah), jangan engkau sibuk mengaturnya untuk dirimu sendiri.”

Inilah rahasia ketenangan wali Allah. Mereka tidak stres karena masa depan, karena masa depan sudah diurus Allah. Mereka tidak tenggelam dalam luka masa lalu, karena masa lalu sudah ditakar oleh Allah dengan hikmah.

Manusia yang ingin mengatur takdir sendiri akan hidup penuh cemas. Wali Allah hidup ringan karena ia tahu bahwa Allah lebih sayang kepadanya daripada dirinya sendiri.

Mengapa orang beriman tetap tenang walau dunia runtuh? Imam Al-Ghazali berkata, “barang siapa mengenal Allah, maka semua ketakutannya akan lenyap kecuali kepada-Nya.”

Orang takut miskin karena tidak yakin rezekinya dijamin. Takut ditinggal karena tidak yakin Allah setia. Takut masa depan karena tidak yakin Allah Maha Mengatur. Padahal wali Allah memandang dunia seperti tamu yang datang sebentar, lalu pergi.

Syaikh Ibnu Atha’illah berkata, “jangan heran jika dunia tidak memenuhi keinginanmu, sebab dunia memang diciptakan untuk tidak memuaskanmu.”

Kalau dunia selalu sesuai keinginan, manusia akan lupa akhirat. Laa khaufun wa laa yahzanun bukan berarti hidup tanpa masalah. Wali Allah tetap diuji. Dikhianati. Difitnah. Kehilangan. Sakit. Miskin. Tetapi bedanya, hatinya tidak hancur. Karena mereka tahu bahwa yang menulis cerita hidupnya adalah Allah.

Imam Ibn Qayyim berkata, “hati yang bergantung kepada Allah akan tetap tenang, walaupun seluruh sebab dunia runtuh.”

Hidup hari ini, bukan di masa lalu atau masa depan. Ibnu Atha’illah berkata, “kesedihanmu atas apa yang luput darimu dan kegelisahanmu atas apa yang belum datang adalah tanda bahwa hatimu masih jauh dari Allah.”

Wali Allah tidak mengulang-ulang luka.
Dan tidak berandai-andai tentang masa depan. Mereka shalat hari ini. Bersabar hari ini. Bersyukur hari ini. Berjuang hari ini.

Masa depan? Urusan Allah. Masa lalu? Sudah diampuni atau diberi hikmah. Mengapa wali Allah tidak takut kehilangan? Karena mereka tidak merasa memiliki apa pun. Semua hanya titipan.

Ibnu Atha’illah berkata, “jika Allah ingin menampakkan kedudukanmu, Dia akan menjadikanmu merasa cukup dengan-Nya, bukan dengan makhluk.”

Orang yang bergantung pada manusia akan selalu takut ditinggal. Orang yang bergantung pada Allah akan selalu tenang.

Laa khaufun wa laa yahzanun bukan milik orang kaya, kuat, atau beruntung. Ia milik orang yang tawakkalnya sempurna. Wali Allah mungkin menangis, tetapi tidak putus asa. 

Mereka mungkin terluka, tetapi tidak hancur. Karena mereka hidup dengan satu keyakinan, “Yang mengurusku adalah Allah. Yang menulis masa depanku adalah Allah. Yang menggenggam hatiku adalah Allah.” Dan orang yang hatinya di tangan Allah, maka tidak perlu takut pada apa pun di dunia ini.[]


Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar