Topswara.com -- Fakta pembungkaman kritik sosial masyarakat kian mencuat. Berbagai teror dialami para influencer dan aktivitis di tanah air setelah melakukan sorotan pada penanganan bencana Sumatera (mediaindonesia.com, 31-12-2025).
Rakyat Kritis Dibungkam
Berdasarkan laporan, berbagai bentuk teror yang diterima berupa ancaman fisik, vandalisme, doxing, peretasan digital hingga ancaman pada keluarga. Salah satunya dialami oleh aktivis Greenpeace, Iqbal Damanik, Manager Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia yang sering mengkritisi kebijakan pembangunan dan kerusakan ekologis yang menjadi sebab utama bencana Sumatera.
Pada tanggal 30 Desember 2025 lalu, rumah Iqbal dikirimi paket bangkai ayam dan secarik kertas yang bertuliskan ancaman, "Jaga lisanmu, apabila anda ingin menjaga keluargamu".
Jelas, berbagai bentuk ancaman ini menimbulkan kekhawatiran publik. Fakta buruk yang harusnya diperbaiki melalui kritisi justru dibungkam dengan berbagai ancaman yang melukai hak suara masyarakat.
Konsep ini telah terang-terangan menyampaikan pesan bahwa rakyat tidak memiliki hak suara. Rakyat pun dipaksa agar nurut manut dengan segala keinginan penguasa. Konsep tersebut jelas telah bertentangan dengan demokrasi yang diklaim sebagai sistem yang menjaga suara rakyat.
Justru sebaliknya, suara rakyat dibungkam agar keburukan kebijakan yang diterapkan penguasa tetap melenggang leluasa. Parahnya lagi, sistem demokrasi yang kini diadopsi pun telah melanggar hak-hak rakyat.
Inilah rezim antikritik yang semakin menampakkan kegagalannya mengatur urusan rakyat. Fakta-fakta pembungkaman suara rakyat juga menjadi bukti bahwa sistem yang kini diterapkan adalah sistem demokrasi otoriter yang jauh dari makna keadilan.
Suara rakyat kian diabaikan, pengaturan urusan umat pun ditinggalkan. Semua dilakukan demi kepentingan yang hanya berorientasi pada kekayaan, jabatan dan kekuasaan. Kesenangan jasadiyah menjadi satu orientasi yang diutamakan. Akhirnya, urusan rakyat hanya dijadikan beban. Penguasa pun abai pada tugas utamanya sebagai penjaga dan pelindung rakyat.
Pandangan Islam
Dalam Islam, kritik kepada penguasa bukanlah tindakan membangkang. Kritik justru merupakan kewajiban mulia yang dikenal sebagai muhasabah lil hukkam, yaitu usaha untuk mengingatkan penguasa agar tetap berjalan sesuai hukum syariat dalam mengemban amanahnya sebagai pelayan dan penjaga umat. Karena dalam Islam, pemimpin merupakan ra'in (penggembala) sekaligus junnah (perisai) yang wajib menjaga umat.
Rasulullah SAW. bersabda,
“Setiap kalian adalah pemimpin (penggembala) dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.
Seorang imam (pemimpin negara) adalah pemimpin dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya" ( HR. Bukhori Muslim).
Islam juga mengatur mekanisme pengawasan yang tegas melalui institusi seperti Majelis Ummah sebagai perwakilan dari suara rakyat dan Qadhi Mazhalim yang memiliki kewenangan memeriksa dan mengadili pengaduan masyarakat terhadap penguasa.
Inilah mekanisme sistem Islam untuk menjamin keadilan ditegakkan. Dan menjadi strategi jitu agar kekuasaan tidak berjalan mengikuti hawa nafsu atau kepentingan kelompok tertentu, tetapi tunduk sepenuhnya pada hukum Allah SWT.
Al-Qur’an menegaskan bahwa segala tipu daya manusia tidak akan pernah mampu mengalahkan ketetapan Allah:
“Dan mereka membuat tipu daya, maka Allah membalas tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.”
(QS. Ali ‘Imran: 54)
Karena itu, amar makruf nahi mungkar merupakan kewajiban setiap muslim, termasuk dalam mengkoreksi pemimpin. Kritik yang berlandaskan hukum syarak bukanlah ancaman, melainkan bentuk kepedulian rakyat agar negara berada dalam wadah yang mampu menjamin keadilan bagi seluruh umat.
Pemimpin yang bersedia mendengar dan menerima kritik adalah pemimpin sejati. Pemimpin yang amanah dan mampu bertanggung jawab penuh adalah kriteria pemimpin idaman yang mampu menjadi perisai bagi seluruh umat.
Hanya dalam sistem Islam-lah kriteria pemimpin adil dan amanah mampu diwujudkan sempurna. Karena sistem Islam-lah yang menerapkan Islam secara menyeluruh. Sistem Islam dalam wadah yang dicontohkan Rasulullah SAW, Khilafah manhaj an Nubuwwah. Dengannya, negeri tercurah berkah, rakyat pun dinaungi rahmat berlimpah.
Wallahu a‘lam bisshawwab.
Oleh: Yuke Octavianty
Forum Literasi Muslimah Bogor

0 Komentar