Topswara.com -- Ketika seseorang telah menemukan pasangan yang “pas”, maka sesungguhnya yang dimaksud bukanlah kesempurnaan, melainkan kecocokan dalam berjalan menuju Allah.
Di titik itu, cinta bukan lagi soal membandingkan, melainkan soal menjaga. Menutup mata dari yang menggiurkan, menutup telinga dari yang menghasut, lalu membuka hati untuk menerima kekurangan dan mensyukuri kelebihan.
Syaikh Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari berkata dalam Al-Hikam, “Tanda engkau bergantung pada selain Allah adalah ketika engkau gelisah saat kehilangan dan berlebihan saat memiliki.”
Dalam rumah tangga, kegelisahan sering lahir bukan karena pasangan buruk, tetapi karena hati masih sibuk membandingkan dengan yang lain. Padahal ketenangan justru hadir saat seseorang berkata, “Ini yang Allah pilihkan untukku, dan aku ridha.”
Mencintai pasangan berarti berhenti mencari versi lain yang lebih “wah”. Dunia akan selalu menyediakan godaan yang tampak lebih menarik, lebih kaya, lebih halus tutur katanya. Namun orang yang matang dalam iman tahu bahwa rumah tangga bukan ajang upgrade pasangan, melainkan ladang menyempurnakan amanah.
Di sinilah makna kalimat, tutup mata dan tutup telinga. Bukan buta dan tuli secara harfiah, tetapi menjaga diri dari bisikan perbandingan dan godaan.
Kekurangan pasangan tidak dijadikan bahan komplain, tetapi ladang kesabaran. Kelebihannya tidak dijadikan alat kesombongan, tetapi bahan syukur.
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menegaskan bahwa tujuan pernikahan dalam Islam bukan sekadar kebahagiaan pribadi, tetapi membangun unit masyarakat yang taat kepada Allah.
Pernikahan adalah institusi yang melahirkan ketenangan (sakinah), kasih sayang (mawaddah), dan rahmat (rahmah) agar dua insan bisa bersama-sama meniti jalan menuju ridha Allah.
Karena itu, pasangan hidup bukanlah proyek ego. Ia adalah rekan jihad dalam kehidupan. Jihad menahan hawa nafsu, jihad menjaga amanah, jihad membesarkan anak-anak dalam iman, dan jihad melawan bisikan setan yang ingin merusak rumah tangga.
Masalah rumah tangga hari ini sering bukan karena pasangan kurang baik, melainkan karena manusia terlalu mudah membiarkan hatinya tergoda.
Media sosial, lingkungan, dan budaya sekuler menanamkan ilusi bahwa selalu ada pilihan yang lebih baik di luar sana. Akibatnya, orang lupa bahwa yang terbaik adalah yang Allah tetapkan dan kita rawat dengan iman.
Syaikh Ibnu ‘Atha’illah mengingatkan, “Jika engkau ridha dengan takdir, engkau akan merasakan kelapangan. Jika engkau menolaknya, engkau akan terbelenggu.”
Rumah tangga yang lapang bukanlah yang tanpa masalah, tetapi yang diisi oleh dua orang yang ridha. Ridha pada pasangan, ridha pada proses, dan ridha pada ujian.
Maka ketika telah menemukan yang pas, tugas kita bukan lagi mencari yang lain, tetapi menjadi yang pantas, yaitu pantas disayangi, pantas dipercaya, dan pantas diajak menua bersama dalam ketaatan.
Karena sejatinya, pernikahan bukan tentang siapa yang paling sempurna, tetapi tentang dua insan yang sama-sama ingin pulang kepada Allah dengan selamat.[]
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)

0 Komentar