Topswara.com -- Di banyak sudut kota hari ini, kita menyaksikan paradoks yang menyakitkan, yaitu orang dewasa sibuk menata citra, memamerkan barang bermerek, dan memburu pengakuan sosial, sementara di balik pintu rumah ada anak-anak yang tumbuh dalam sepi.
Lebih menyedihkan lagi, sebagian dari mereka adalah anak dibawah umur yang lebih membutuhkan perhatian, pendampingan, dan pendidikan ekstra.
Fenomena ini bukan sekadar soal uang. Ini adalah krisis prioritas dan krisis iman. Ketika sekolah, biaya kesehatan, dan pendampingan anak dianggap “terlalu mahal”, tetapi kafe, gawai, dan gaya hidup tetap berjalan, yang sedang terjadi adalah pertukaran amanah dengan kesenangan.
Syaikh Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari mengingatkan dalam Al-Hikam,
“Jangan sampai kesibukanmu pada selain Allah memalingkanmu dari kewajiban yang Allah titipkan kepadamu.”
Anak adalah amanah. Ia bukan aksesori kehidupan orang tua. Ia adalah jiwa yang Allah titipkan untuk dijaga, dibimbing, dan ditumbuhkan. Mengabaikan kebutuhan dasarnya, terutama pendidikan, kesehatan, dan kehadiran, berarti mengkhianati amanah yang paling suci.
Psikologi perkembangan mengajarkan bahwa anak membutuhkan tiga hal dasar, yaitu kehadiran yang konsisten, struktur yang aman, dan relasi yang hangat. Tanpa itu, anak akan menanggung luka yang tak kasat mata, seperti rasa tidak berharga, kecemasan, dan ketergantungan pada layar gadget sebagai pelarian.
Diamnya anak sering disalahartikan sebagai “baik-baik saja”, padahal sering kali itu adalah tanda berhenti berharap. Ketika perhatian datang sesekali, misalnya diajak keluar seminggu sekali, namun selebihnya anak ditinggal, dan momen kebersamaan pun diisi kamera dan pameran, yang terbentuk adalah kelekatan tidak aman.
Anak tidak tahu kapan ia akan dipilih. Rasa aman yang rapuh ini kelak muncul sebagai kesulitan percaya, kecemasan berpisah, atau pencarian perhatian yang menyakitkan di masa depan.
Namun fenomena ini tidak lahir dalam ruang hampa. Ia adalah buah dari pendidikan sekuler yang memisahkan iman dari tujuan hidup. Sistem ini mengajarkan perempuan termasuk ibu bahwa nilai dirinya diukur dari citra, kesenangan, dan aktualisasi diri, bukan dari keberhasilan menjaga amanah. Maka lahirlah ibu yang rajin tampil di medsos tetapi lalai hadir untuk anak-anaknya.
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menegaskan bahwa ibu adalah pilar utama pembentukan kepribadian umat. Dalam pandangannya, masyarakat tidak akan lurus jika keluarga rusak, dan keluarga tidak akan kokoh jika ibu kehilangan orientasi hidupnya.
Karena itu, beliau menolak sistem sekuler yang menggeser peran ibu dari misi peradaban menjadi sekadar pengejar kepuasan diri.
Menurut beliau, negara Islam wajib membentuk perempuan (terutama ibu) dengan akidah yang menjadikan mendidik generasi sebagai ibadah dan tanggung jawab strategis.
Ibu tidak diarahkan untuk mengejar pengakuan, melainkan untuk membangun manusia beriman, berakhlak, dan berilmu. Ketika orientasi ini hilang, anak-anak akan menjadi korban dari nilai hidup yang keliru.
Ulama besar seperti Imam Al-Ghazali pun menegaskan bahwa pendidikan anak adalah kewajiban orang tua yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Anak yang diabaikan kebutuhan akal dan jiwanya bukan hanya dirugikan di dunia, tetapi menjadi beban hisab di akhirat.
Syaikh Ibnu ‘Atha’illah juga berkata, “Tanda kebutaan hati adalah ketika engkau sibuk memperindah lahir, tetapi membiarkan amanah di dalam runtuh.”
Masyarakat sering terpukau oleh tampilan. Namun Allah menilai kejujuran amanah. Jika sumber daya terbatas, yang seharusnya dikorbankan adalah gaya hidup, bukan pendidikan, kesehatan, dan kehadiran bagi anak.
Opini ini bukan untuk menunjuk siapa pun. Ini adalah cermin bagi kita semua bahwa anak bukan latar belakang kehidupan orang tua, tapi anak adalah pusat tanggung jawabnya. Tanpa kamera, tanpa filter, tanpa sorak, mereka hanya membutuhkan satu hal, yaitu dipilih dan dihadiri dan di sanalah iman seorang ibu benar-benar diuji. []
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)

0 Komentar