Topswara.com -- Palestina yang dikenal dengan julukan Al Ard Al Muqaddasah masih berada dalam situasi yang mencekam dan jauh dari kedamaian.
Meskipun berbagai resolusi dan gencatan senjata dilakukan, nyatanya tidak membuat Palestina merdeka secara hakiki. Di tengah gencatan senjata yang disepakati, pelaparan sistematis, serangan udara dan darat pun menjadi realita yang harus dihadapi warga Palestina setiap hari.
Tidak cukup sampai disana, Israel malah terus mendirikan 19 pemukiman baru di Tepi Barat. Dilansir dari antaranews, kabinet Keamanan Israel menyetujui pembangunan permukiman baru, dan mengabaikan resolusi Dewan Keamanan PBB pada 2016 yang melarang Israel membangun pemukiman illegal di wilayah Palestina yang diduduki. (antaranews.com, 27/12/2025).
Deretan fakta yang berulang ini, menunjukkan berbagai kesepakatan gencatan senjata, solusi dua negara, serta resolusi 20 poin perdamaian yang diusung Trump tidak ada artinya.
Justru kesepakatan tersebut adalah cengkraman AS dan Israel dengan bentuk racun berbalut madu yang membahayakan nasib Palestina kedepan. Israel tidak akan pernah berhenti menyerang Palestina sampai semua wilayahnya terkuasai.
Motif kebengisan dan kejahatan penguasa Israel dan AS bukan sekedar motif dominasi ekonomi dan politik, melainkan lebih dari itu.
Kejatuhan Palestina adalah tujuan besar Israel dan AS untuk menjatuhkan Islam dan pemeluknya yang masih memegang Islam sebagai sandaran hidup. Hal ini begitu jelas terlihat dengan serangan yang begitu brutal, tidak manusiawi, dengan menelan korban bayi, anak-anak, dan wanita.
Arogansi dan dendam Israel, nyatanya tidak bisa dihentikan oleh siapapun dan negara manapun.
Dua juta muslim di Palestina harus berperang habis-habisan ditengah dua milyar kaum muslim di seluruh penjuru dunia yang menyaksikan. Sungguh kenyataan pahit dan ironis yang harus diterima oleh saudara kita di Palestina.
Kaum muslim hari ini bagai buih di lautan, mereka banyak tapi tidak berarti. Kaum muslim hari ini terdistraksi dengan pemikiran asing yang menjauhkan dari jati diri sebagai muslim, belum lagi kapitalisme yang bertengger sebagai kapitalisme mempengerahui pola pikir dan pola sikap kaum muslim saat ini.
Ketika Palestina digiring untuk masuk dalam solusi dua negara, solusi gencatan senjata, dan setuju dengan kesepakatan 20 poin perdamaian Trump, kaum muslim begitu larut dalam euforia yang semu, seakan-akan nasib Palestina akan lebih baik.
Namun, hari ini kita menyaksikan sendiri bahwa semua upaya diatas hanya kamuflase yang justru menyakiti rakyat Palestina, mereka seperti di berikan harapan dengan berbagai macam diplomasi dan solusi 2 negara, padahal itu pelegalan penjajahan dan dominasi cengkraman AS dan Israel semakin kuat.
Semestinya, sebagai muslim kita menentukan sikap sebagaimana Al Quran mengarahkan. Dan Telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu:
“Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar”. (QS. Al-Isra [17]: 4).
Ayat ini menggambarkan bagaimana sifat Bani Israil yang membawa kerusakan. Maka tidak pantas, jika kaum muslim masih berharap pada AS, PBB, dan pihak kafir lainnya yang jelas berdampingan dengan kepentingan Israel untuk menolong kaum muslim di Palestina.
Semua solusi yang diberikan hanyalah jebakan maut yang menambah luka warga Palestina, sekaligus mendistraksi gerakan kaum muslim yang hakiki untuk memperjuangkan saudaranya di tanah para nabi, supaya mereka terbawa narasi penyelesaian Palestina dengan cara yang penjajah kafir inginkan.
Sesungguhnya, Islam telah menegaskan sikap yang harus diambil oleh kaum muslim ketika menghadap kafir harbi yang nyata menyerang dan menjatuhkan kehormatan Islam.
Satu-satunya solusi yang bisa menyelamatkan Palestina dari tangan kafir penjajah hanyalah dengan mengirim pasukan muslim untuk jihad fisabilillah melawan serangan brutal Israel dan sekutunya.
Namun saat ini, tidak ada satupun yang berani mengirim pasukan perang karena semua penguasa di negeri-negeri muslim takut dan tunduk pada AS sebagai penguasa hegemoni saat ini. padahal yang dibutuhkan Palestina bukan hanya bantuan kemanusiaan yang berulang tiap kali perang, melainkan kedamaian sejati dengan mengusir penjajah Israel dan sekutunya yang menjadi akar masalah sistemis yang terjadi hingga hari ini.
Hanya khilafah Islamiah yang menyatukan kekuatan negeri-negeri muslim yang mampu menggerakan pasukan dan berperang melawan kezaliman para penjajah kafir.
Sebagaimana langkah yang diambil oleh Rasulullah dengan hijrah ke Madinah, dan membangun negara dengan ekosistem Islam dari segala aspek, hingga akhirnya berani melawan pasukan Quraisy yang lancang merendahkan Islam, dan membuka gerbang dakwah di jazirah Arab, hingga Persia menuju Roma. Cerminan langkah Nabi Muhammad saw menjadi panduan terbaik untuk menyelematkan Palestina hari ini.
Oleh: Sheila Nurazizah
Aktivis Muslimah

0 Komentar