Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Jadikan Hobimu Jalan Pengabdian kepada Allah


Topswara.com -- Ada satu rahasia sederhana untuk tetap hidup penuh makna, yaitu jadikan hobimu sebagai jalan ibadah. Ketika apa yang kau cintai bertemu dengan apa yang Allah cintai, maka lelah berubah menjadi nikmat, dan kesibukan berubah menjadi pahala.

Menulis bagi sebagian orang hanyalah hobi. Tapi bagi orang beriman, menulis bisa menjadi senjata kesadaran, pena perlawanan terhadap kebatilan, dan tangga menuju akhirat. 

Di mana pun berada, apakah di kafe, di ruang tunggu, di pinggir jalan, selama masih ada waktu dan napas, seorang penulis ideologis akan selalu membuka laptop dan menghidupkan pikirannya. Karena yang ia tulis bukan sekadar kata-kata, tetapi kebenaran.

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menegaskan bahwa umat Islam tidak boleh menjadi umat yang pasif. Islam bukan agama ritual semata, tetapi ideologi yang mengatur kehidupan. Maka setiap Muslim yang memahami Islam secara benar wajib terlibat dalam amar makruf nahi mungkar, termasuk melalui pena dan pemikiran.

Dalam kitab-kitabnya, beliau menjelaskan bahwa dakwah adalah aktivitas politik tertinggi, karena ia mengoreksi sistem, meluruskan kekuasaan, dan membebaskan manusia dari kezaliman hukum buatan manusia. 

Menulis opini, menyuarakan ketidakadilan, dan membongkar kebijakan yang merugikan umat adalah bagian dari tugas ideologis seorang Muslim. Inilah mengapa menulis tidak boleh sekadar menjadi pelarian, tetapi harus menjadi perjuangan.

Syaikh Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari mengingatkan, “Jangan meremehkan sebuah amal kecil jika ia dilakukan dengan ikhlas, karena Allah melihat hati, bukan besarnya perbuatan.”

Satu artikel yang ditulis dengan niat membela kebenaran bisa lebih berat di sisi Allah daripada seribu aktivitas yang kosong dari ruh iman. Setiap kalimat yang mengingatkan manusia kepada Allah, setiap kritik yang membela kaum tertindas, setiap tulisan yang membuka mata umat, semuanya akan menjadi saksi di akhirat.

Maka jika menulis adalah hobimu, jangan jadikan ia sekadar hiburan. Jadikan ia jalan pengabdian. Biarkan setiap huruf yang kau ketik menjadi doa yang berjalan, menjadi dakwah yang hidup, dan menjadi jejak yang tidak akan hilang meski tubuh telah tiada.

Di dunia yang dipenuhi kebohongan, propaganda, dan kebijakan zalim, umat Islam membutuhkan pena-pena yang jujur. Pena yang tidak dibeli, tidak takut, dan tidak tunduk pada kepentingan. Pena yang hanya tunduk kepada Allah.

Menulis tentang kezaliman bukanlah kebencian. Itu adalah cinta kepada keadilan. Menulis tentang kesalahan kebijakan bukanlah pemberontakan. Itu adalah tanggung jawab iman.

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa umat adalah pemilik hak muhasabah, yaitu hak dan kewajiban untuk mengoreksi penguasa. Ketika penguasa menyimpang, diam adalah dosa, dan bicara adalah kewajiban. Dalam konteks zaman ini, bicara itu sering berbentuk tulisan dan di sinilah hobi bertemu dengan jihad.

Sementara Syaikh Ibnu ‘Atha’illah berkata, “Jika Allah membuka bagimu pintu amal, maka itu adalah tanda Dia menginginkanmu.”

Jika Allah memberi kemampuan menulis, gagasan yang tajam, dan hati yang peka terhadap ketidakadilan, itu bukan kebetulan. Itu adalah panggilan.

Maka jangan menunggu waktu luang. Jangan menunggu kondisi ideal. Menulislah di mana pun engkau berada. Karena setiap detik yang kau gunakan untuk menyuarakan kebenaran adalah tabungan yang tidak akan bangkrut di akhirat.

Jadikan hobimu pekerjaan ruhani. Jadikan tulisanmu amal jariyah dan jadikan hidupmu, meski sederhana, bermakna di sisi Allah. []


Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar