Topswara.com -- Jujur saja, yang bikin panik itu sering bukan poligaminya, tapi overthinkingnya. Baru dengar kata “poligami”, langsung muncul film drama lengkap dengan soundtrack sedih, air mata mengalir, dan skenario suami berubah jadi penjahat romantis. Padahal, kalau dipikir tenang, yang bertambah berat itu justru beban dunia-akhiratnya suami, bukan istri.
Kita? Santai saja. Makruf, lanjut. Zalim, tinggal. Sesederhana itu sebenarnya, tapi dunia suka bikin ribet.
Masalahnya, banyak istri masuk pernikahan tanpa fondasi niat yang lurus. Kalau sejak awal menikah niatnya sudah rapi (menikah karena Allah, bukan karena gengsi atau ingin kemapanan ekonomi) maka poligami bukan momok. Kalau suami memilih jalan makruf, alhamdulillah.
Kalau memilih jalan zalim, ya sudah mundur terhormat. Tidak perlu jadi penggemar setia drama “Istri tersakiti episode 1000”.
Dan jujur saja, dalam banyak kasus, yang rugi itu suami. Meninggalkan istri salihah demi sesuatu yang “belum teruji” adalah perjudian hidup. Bukan hanya taruhan rumah tangga, tapi taruhan akhirat. Karena menikah bukan soal selera, tetapi amanah. Dikira lebih baik dari istri pertama, nyatanya zonk. Alhasil, rumah tangga kedua yang seharusnya sakinah, berubah menjadi rumah tangga ala "Tom and Jerry" ribut terus.
Syaikh Ibnu Atha’illah mengingatkan dengan sangat halus tapi menampar, “Siapa yang tidak ridha dengan takdir Allah, berarti ia menantang hikmah-Nya.”
Artinya, poligami terjadi bukan kebetulan, tapi bagian dari skenario Ilahi. Tugas kita bukan melawan takdir, tapi menyikapinya dengan iman. Kalau dizalimi? Komunikasi dulu. Kalau mentok? Ya sudah, mundur terhormat. Tidak ada pahala dalam bertahan di tempat yang hanya melukai hati.
Ibnu Atha’illah juga mengajarkan bahwa ketenangan datang bukan dari menguasai keadaan, tetapi dari menyerahkan diri kepada Allah. Maka bagi istri pertama, poligami itu berada di luar kuasa. Bukan wilayah kita untuk mengontrol segalanya. Yang bisa kita kontrol hanya sikap, adab, dan kualitas ibadah kita.
Di sinilah sering terjadi kekeliruan besar, banyak istri lebih sibuk mengawasi suami daripada memperbaiki diri. Padahal, fokus terbaik tetap pada amal kita sendiri. Perbaiki shalat, jaga lisan, perkuat sabar, dan perbanyak doa. Karena perempuan yang kuat secara iman tidak akan hancur oleh keputusan orang lain.
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menegaskan bahwa pernikahan dalam Islam bukan sekadar kontrak sosial, tetapi ikatan hukum syar’i yang punya standar keadilan. Poligami bukan kebebasan liar, tetapi tanggung jawab berat yang diatur syariat. Suami wajib adil lahir batin, jika tidak mampu, maka ia berdosa.
Jadi kalau suami sembrono poligami tanpa ilmu agama dan materi cukup, maka bukan istri yang rugi, tapi justru ia sedang menjerumuskan dirinya sendiri.
Beliau juga menekankan bahwa standar kemuliaan bukan pada banyaknya pasangan, tetapi pada ketakwaan dan keadilan.
Sistem Islam memuliakan perempuan, melindungi haknya, dan menutup pintu kezaliman. Maka istri salihah tidak perlu takut pada poligami, tetapi pada ketidakadilan dan itu pun bukan untuk ditakuti, melainkan disikapi dengan hikmah.
Yang sering dilupakan para wanita adalah cinta kepada suami itu penting, tetapi cinta kepada Allah harus lebih besar. Karena manusia bisa mengecewakan, Allah tidak pernah. Jika suatu hari kita harus melepaskan, yakinlah Allah Maha Adil. Dia tidak mengambil sesuatu kecuali untuk menggantinya dengan yang lebih baik bagi hamba-Nya yang sabar.
Ibnu Atha’illah berkata, “kadang Allah menutup pintu yang kau sukai, agar membukakan pintu yang lebih baik.”
Jadi, kalau suami memilih jalan lain, jangan merasa hidup selesai. Bisa jadi itu cara Allah menyelamatkan kita dari masa depan yang lebih menyakitkan.
Pada akhirnya, poligami bukan soal siapa menang siapa kalah, tetapi siapa yang paling tenang hatinya. Istri salihah tidak gentar pada kemungkinan poligami, karena sandarannya bukan pada manusia, melainkan pada Allah.
Makruf? Kita dukung dengan adab.
Zalim? Kita mundur dengan marwah.
Tanpa drama, tanpa dendam, tanpa menyiksa diri. Karena perempuan yang beriman tidak ditentukan oleh pilihan suaminya, tetapi oleh keteguhan hatinya kepada Allah dan insyaAllah, siapa pun yang berjalan lurus, maka Allah sendiri yang akan memuliakannya di dunia atau di akhirat.[]
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)

0 Komentar