Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Hakikat Takwa


Topswara.com -- Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَ نْـتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 102)

Takwa. Satu kata yang diucapkan seorang Muslim sebagai pengakuan keimanannya kepada Allah SWT. Takwa juga menjadi prasyarat seseorang mendapatkan ridha dari Allah SWT sehingga layak untuk mendapatkan surgaNya. 

Takwa, juga acapkali dijadikan sebagai syarat ketika seseorang hendak menduduki jabatan atau amanah tertentu di dunia. Sayangnya, ada sebagian kaum muslimin yang begitu mudah mengatakan bahwa dirinya beriman dan bertakwa tanpa tahu hakikat takwa yang sebenarnya. 

Sehingga lisannya mengaku bertakwa tapi amal perbuatannya justru tidak mencerminkan ketakwaannya. Ini tentu satu hal yang ironis. Sehingga umat Islam harusnya benar-benar memahami makna takwa yang sebenarnya, sekaligus mau menjalankan segala bentuk konsekuensi dari ketakwaannya.

Makna Takwa

Secara etimologi takwa berasal dari kata waqayaqiwiqayah yang artinya menjaga diri, menghindari dan menjauhi. 

Sedangkan pengertian takwa secara terminologi, takwa adalah takut kepada Allah berdasarkan kesadaran dengan mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya serta takut terjerumus dalam perbuatan dosa. (percikaniman.org.)

Kata 'takwa' diulang dalam Al-Qur'an sebanyak 259 kali dengan makna yang cukup beragam, di antaranya: memelihara, menghindari, menjauhi, menutupi, dan menyembunyikan.

Sedangkan Ibnu Qayyim berkata, “Hakikat takwa adalah menaati Allah atas dasar iman dan ihtisab, baik terhadap perkara yang diperintahkan atau pun perkara yang dilarang. Oleh karena itu, seseorang melakukan perintah itu karena imannya, yang diperintahkan-Nya disertai dengan pembenaran terhadap janji-janji-Nya. Dengan imannya itu pula, ia meninggalkan yang dilarang Allah dan takut terhadap ancaman-Nya.

MasyaAllah. Begitu dalam makna takwa yang sebenarnya. Ada konsekuensi logis dari pengakuan takwa yang diucapkan oleh seorang Muslim.

Ketika seorang Muslim mengaku bertakwa, berarti dia takut kepada Allah dengan penuh kesadaran, berikutnya dia akan menjalankan segala perintah Allah. 

Segala perintah. Bukan separuhnya, atau sebagian kecilnya. Bukan hanya perintah yang menurut manusia menguntungkan saja, kemudian meninggalkan perintah lain yang menurut manusia merugikan. Bukan. Tetapi semua perintah Allah harus dilaksanakan oleh seorang muslim tanpa terkecuali. 

Apakah mungkin seorang Muslim melaksanakan semua perintah Allah? Manusia kan terbatas, serba kekurangan?

Bisa! Pasti bisa! Karena Allah Yang Maha Tahu tidak akan memberikan perintah yang tidak mampu dilaksanakan oleh hambaNya.

Selanjutnya, seorang Muslim yang mengaku bertakwa akan menjauhi segala larangan Allah tanpa terkecuali. Meski ia harus meninggalkan kenikmatan duniawi yang ternyata haram dan menjerumuskannya kepada murka Allah.

Tak Cukup Takwa Individu

Islam berisi syariat/ aturan yang sempurna dan menyeluruh untuk mengatur seluruh umat manusia. Syariat Islam mengatur hubungan manusia dengan dirinya, hubungan manusia dengan sesama manusia, serta hubungan manusia dengan Allah SWT. Jadi ada syariat yang bisa dilaksanakan oleh setiap individu sendiri, ada syariat yang hanya bisa dilaksanakan oleh sistem/ negara.

Padahal seorang Muslim harus melaksanakan semua syariat Allah sebagai wujud ketakwaannya. Tapi ada syariat yang tidak bisa dilakukannya sendiri tanpa peran sistem atau negara. 

Misalnya urusan sanksi, muamalah sesama muslim dan banyak lagi syariat lainnya. Sehingga butuh sistem yang mendukung terwujudnya ketakwaan individu. Dengan kata lain butuh sistem yang bertakwa juga.

Alhasil, ketika seorang Muslim mengaku bertakwa maka ia harus menjalankan semua syariat Allah secara sempurna tanpa terkecuali, diupayakan secara individu sekaligus juga didukung oleh sistem yang bertakwa juga.

Wallahu a' lam bishshawab.


Oleh: Salma
Aktivis Muslimah 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar