Topswara.com -- Pemuda Muslim di Indonesia kini menghadapi tantangan besar dalam hal moral dan identitas di tengah perkembangan digital.
Di tengah globalisasi dan akses informasi yang semakin mudah, banyak pemuda justru terjerumus ke perilaku negatif yang menggambarkan krisis moral, seperti tawuran, perundungan, penggunaan narkoba, serta penurunan etika sosial yang sering ditemukan dalam berbagai penelitian akademis.
Menurut beberapa studi, proses digitalisasi memberikan peluang besar bagi budaya pop yang sering kali merusak nilai-nilai luhur dan menggeser pola pikir generasi muda dari fokus pada nilai moral menjadi mencari kesenangan segera.
Data juga menunjukkan bahwa perilaku seks bebas menjadi salah satu tanda krisis moral yang muncul di kalangan remaja. Termasuk laporan besar dari survei BKKBN yang menunjukkan jumlah remaja yang melakukan hubungan seksual di usia 15 sampai 19 tahun tergolong tinggi (muslimahtimes.com, 5/09/2025).
Di sisi lain, konten digital yang tidak bermoral seperti pornografi dan kekerasan siber hampir menguasai ruang maya yang digunakan generasi muda, menguatkan bahwa media digital sekarang bukan hanya sekadar alat teknologi netral, melainkan menjadi ruang sekularisme yang mengaburkan arah hidup umat Islam.
Degradasi Peran Ibu: Pilar Peradaban yang Dipinggirkan Sistem
Kaum ibu juga tidak terlepas dari dampak sistem sekuler-kapitalistik. Tekanan ekonomi, biaya hidup yang tinggi, dan narasi kesuksesan berbasis materi mendorong perempuan, termasuk ibu, untuk masuk ke pasar tanpa perlindungan yang memadai dari pemerintah.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan peningkatan partisipasi kerja perempuan, namun tidak diimbangi dengan peran domestik dan pendidikan mereka. Akibatnya, ibu harus menanggung beban ganda, yaitu tuntutan ekonomi sekaligus tanggung jawab keluarga.
Dalam situasi ini, peran ibu sebagai ummun wa rabbatul bayt serta pendidik generasi muda semakin terancam. Selain itu, arus konten digital juga menargetkan kaum ibu dengan gaya hidup konsumtif dan pendidikan anak yang pragmatis, membuat keluarga menjadi rapuh secara ideologis.
Jika ibu tidak dibimbing dengan Islam yang utuh, maka proses pewarisan nilai Islam kepada generasi muda akan melemah sejak rumah.
Jamaah Dakwah Islam Ideologis sebagai Solusi Sistemis Peradaban
Krisis generasi dan penurunan peran ibu menunjukkan bahwa masalah umat tidak hanya bersifat moral pribadi, melainkan sistemik dan ideologis. Oleh karena itu, solusi yang diperlukan juga harus bersifat ideologis dan terstruktur.
Di sini terlihat pentingnya jamaah dakwah Islam ideologis sebagai jalannya kebangkitan umat. Jamaah dakwah hadir bukan hanya untuk memberi peringatan moral, tetapi juga untuk membina umat dengan Islam sebagai aqidah dan sistem kehidupan.
Dengan proses pembinaan (tasqif) yang intensif dan terus-menerus, jamaah dakwah membentuk kepribadian Islam pada ibu dan generasi muda, sehingga mereka mampu memahami kehidupan dengan perspektif Islam, menganalisis masalah berdasarkan hukum syarak, serta menentukan arah perjuangan yang benar.
Pembinaan terhadap ibu bertujuan agar mereka menyadari peran pentingnya dalam menghasilkan generasi yang membawa risalah Islam, bukan hanya sebagai pengasuh atau pelengkap sistem ekonomi.
Sementara pembinaan terhadap pemuda bertujuan melahirkan generasi yang kritis terhadap sistem kapitalisme, berani melawan sekularisme, dan siap menjadi pelopor perubahan.
Hal ini sesuai dengan yang dijelaskan dalam QS. Ali Imran ayat 104 tentang wajibnya ada sekelompok umat yang terorganisir untuk menyeru pada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Ayat ini menjadi dasar lahirnya jamaah dakwah yang memiliki visi perubahan sistemik, bukan hanya perbaikan kecil.
Sejarah dakwah Rasulullah SAW menjadi contoh nyata.Perubahan peradaban Islam tidak dimulai dengan kekuasaan, melainkan dari pembinaan ideologis di Makkah. Rasulullah ï·º membina individu-individu terpilih, termasuk pemuda dan perempuan, hingga terbentuk generasi sahabat yang kuat dalam aqidah dan jernih pemikirannya.
Setelah itu, dakwah dilanjutkan dengan interaksi politik dan sosial kepada masyarakat, hingga akhirnya tercapai istilamul hukmi, yaitu penyerahan kekuasaan untuk menerapkan Islam secara kaffah. Metode ini menegaskan bahwa kebangkitan Islam hanya dapat terjadi melalui dakwah ideologis yang konsisten dan terorganisir.
Dengan demikian, keberadaan jamaah dakwah Islam ideologis bukan hanya sebagai opsi, melainkan kebutuhan sejarah di tengah dominasi sistem kapitalisme global.
Melalui jamaah ini, ibu kembali ke perannya sebagai pilar peradaban, dan generasi muda bangkit sebagai pelopor perubahan yang memperjuangkan Islam kaffah sebagai solusi bagi kehidupan manusia.
Oleh: Wulandari, SP., S.Pd.
Pendidik

0 Komentar