Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Cara Islam Atasi Kekerasan


Topswara.com -- Meninggalkan tahun 2025, Indonesia masih memiliki banyak PR besar yang terus membayangi. Salah satunya adalah kasus kekerasan, terutama yang menimpa perempuan dan anak. Mirisnya, kebanyakan kasus tersebut terjadi dalam rumah tangga atau lingkungan keluarga.

Bila kita mengunjungi Sistem Informasi Online Perlindungan terhadap Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA), maka dapat melihat rincian data kekerasan yang terjadi di Indonesia selama 2025. Berdasarkan data yang diinput dari 1 Januari 2025 hingga kini (real time), terdapat 32.027 kasus kekerasan dengan korban perempuan sebanyak 27.393, sedangkan korban laki-laki mencapai 6.750 kasus. 

Kasus kekerasan terbanyak terjadi di Jawa Barat dengan 3.247 kasus, Jawa Timur dengan 2.903 kasus, dan Jawa Tengah sebanyak 2.779 kasus. Adapun rumah tangga menjadi tempat kekerasan paling tinggi dengan jumlah 18.842. 

Kekerasan seksual dan fisik mendominasi dengan angka 13.877 dan 11.064 kasus. Pelaku dengan status pacar/teman menjadi yang terbanyak dalam kekerasan dengan jumlah 5.188, sedangkan pelaku suami/istri mencapai 4.694 kasus.

Tingginya kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan sepanjang tahun 2025 memperlihatkan kegagalan negara dalam memberikan jaminan keamanan. Faktor ekonomi kerap kali menjadi pemicu. Tekanan finansial menjadi sumber konflik dalam keluarga yang tak berkesudahan.  

Selain itu, buruknya pengendalian emosi membuat orang mudah sekali terpancing amarah dan melakukan kekerasan kepada orang terdekatnya, yakni pasangan dan anak. Amarah yang tak terkendali menggelapkan mata hingga ia melampiaskan nafsunya kepada orang yang harusnya dilindunginya. 

Pengaruh media juga tak kalah ngerinya. Kita lihat betapa bebasnya media hari ini, terutama di media sosial. Berbagai konten yang mengandung kekerasan, kebencian, ataupun mendorong tindakan agresif yang menginspirasi tindak kriminal menghiasi media kita. 

Begitu pula dengan perundungan di dunia maya yang kemudian sampai kejadian di dunia nyata juga tak kalah mengerikan.

Semua ini adalah bukti lemahnya negara dalam memberikan jaminan perlindungan dan keamanan secara utuh. Negara tidak mampu mengatur media sehingga konten-konten buruk bertebaran dan dikonsumsi masyarakat dari berbagai kalangan tanpa filter. 

Negara juga gagal dalam menjamin ekonomi rakyatnya sehingga menekan psikis dan menyulut konflik dalam keluarga dan sosial. 

Inilah konsekuensi penerapan sistem sekuler kapitalisme dalam kehidupan. Sistem ini menjadikan negara gagal berfungsi sebagai pelayan, pelindung, dan pengatur kehidupan rakyat. Bukan hanya tak mampu memenuhi kebutuhan pokok, negara juga gagal menjamin keamanan rakyatnya. 

Berbeda halnya bila negara menerapkan sistem Islam. Negara dengan sistem Islam akan bertindak sebagai pengurus rakyat, termasuk dalam masalah penjagaan keamanan. 

Dalam Islam, keamanan merupakan kebutuhan dasar rakyat yang wajib dipenuhi negara. Penjagaan atas jiwa menjadi salah satu tujuan dari penerapan syariat Islam. Negara akan menjadikan keamanan rakyatnya sebagai prioritas. 

Untuk itu, negara akan mengerahkan segenap upaya untuk menjamin keamanan bagi seluruh rakyat. Dengan sumber daya yang dimiliki negara mampu menyelenggarakan keamanan dengan baik. Penerapan syariat Islam menjadi kuncinya. Di mana Islam diterapkan di seluruh aspek kehidupan.

Dalam aspek ekonomi, negara akan menerapkan sistem ekonomi Islam yang akan mengatur pengelolaan sumber daya alam wajib dikelola negara sehingga mampu menghasilkan pemasukan untuk kebutuhan rakyat. 

Pengelolaan SDA oleh negara juga dapat membuka lapangan pekerjaan yang luas bagi rakyat. Para ayah dapat mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan keluarganya secara layak. 

Setiap orang berkesempatan memperoleh harta dengan jalan yang sesuai syariat dan meraih kesejahteraan. Kekayaan pun dapat terdistribusi secara adil dan merata.

Negara juga akan menerapkan sistem pendidikan berbasis akidah Islam guna membentuk kepribadian islami. Dari sini, lahirlah pribadi yang bertakwa. Ketakwaan inilah yang akan menuntun pada tindakan yang sesuai syariat dan menjauhi kekerasan yang dilarang agama.

Ditambah lagi dengan penerapan sistem sanksi yang tegas, rasa aman di tengah masyarakat makin terjaga. Sanksi yang tegas ini dapat memberi efek jera sehingga mampu mencegah berulangnya kejahatan sekaligus menghentikannya.

Kehidupan sosial masyarakat yang tersuasanakan dengan ketakwaan juga menghidupkan spirit amar makruf nahi mungkar. Kontrol sosial berjalan dengan baik sehingga bibit penyimpangan dapat dideteksi lebih dini dan dicegah sebelum terjadi.

Negara juga akan mengatur media dengan tidak membiarkan konten negatif yang merusak masyarakat. Departemen penerangan dan informasi negara akan mengawasi proses penyaringan informasi dan konten digital secara ketat.

Inilah ketika sistem Islam diterapkan secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Hanya dengan sistem ini, negara mampu menjamin keamanan, kesejahteraan, dan keadilan yang hakiki bagi seluruh jiwa.


Oleh: Nurcahyani 
Aktivis Muslimah 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar