Topswara.com -- Menjadi ibu di zaman ini penuh tantangan. Bukan lagi sekadar urusan domestik yang hanya memastikan perut anak kenyang atau nilai rapor anaknya sempurna.
Di bahu seorang ibu terdapat tanggung jawab dan martabat yang sangat besar, yaitu menjamin bahwa peradaban yang pernah bersinar di bawah ajaran Islam dapat berlanjut.
Dalam ajaran Islam, sosok ibu diakui sebagai pendidik utama (al umm wa madrasatun al ula). Sebagai pendidik utama, seorang ibu wajib memastikan keyakinan Islam tertanam dengan kuat dalam jiwa anak-anaknya.
Peranan yang sempurna bagi seorang ibu adalah membentuk generasi pemimpin dan penakluk peradaban. Generasi yang tidak gentar terhadap apapun dan siapapun kecuali kepada Allah SWT. Anak-anak yang tumbuh dengan keyakinan yang benar akan mendapatkan keberanian, keteguhan nilai, dan pola pikir visioner.
Pandangan mereka tidak hanya berorientasi pada kesuksesan duniawi, namun melampaui hingga ke langit, mengarah pada keridhaan dan surga Allah. Inilah generasi yang hidup dengan misi, bergerak dengan kesadaran penuh, dan berjuang dengan keyakinan.
Namun di bawah sistem kapitalisme sekuler saat ini, fungsi seorang ibu mengalami pergeseran. Peran keibuan dipisahkan dari tujuan peradaban. Anak-anak diarahkan untuk mengejar kesuksesan materi, bukan untuk mencapai kemuliaan Islam.
Sistem pendidikan menjadi kosong dari nilai-nilai akidah, sementara media merusak fitrah dan identitas generasi muda. Sebagai akibatnya, muncul generasi yang cerdas namun bingung dengan arah hidup, berani tapi tanpa visi, kritis tetapi menolak Islam, dan sering kali ibu dipaksa untuk sekadar menyaksikan, bahkan menjadi korban dari sistem yang menjauhkan Islam dari kehidupan sehari-hari.
Belum lagi adanya serangan masif di dunia digital. Perangkat dan platform sosial kini sebagai penggerak baru yang lebih sering didengarkan anak-anak ketimbang orang tua mereka. Konten instan, gaya hidup hedonis, serta paham liberal memasuki tanpa adanya saringan, menjadikan akidah dan adab tergerus.
Ibu diharuskan untuk lebih waspada dan bijak agar rumah tetap menjadi benteng utama dalam pendidikan, bukan sekadar tempat transisi. Di satu sisi, mereka dituntut untuk aktif di ranah publik untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, sementara di sisi lain, tetap diharapkan sempurna di dalam rumah.
Sistem yang ada tidak mendukung peran ibu, bahkan sering kali mengeksploitasi perempuan atas nama produktivitas dan kebebasan.
Di tengah kondisi ini, fungsi nyata seorang ibu saat ini menjadi sangat penting. Pertama, ibu perlu mengatur visi pendidikan yang jelas untuk anak-anaknya yaitu sebagai hamba Allah yang penuh dengan ketaatan beribadah.
Khalifah di bumi yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan dunia dengan syariat Allah, dan khairu ummah yang mengajak kepada kebaikan serta mencegah kemungkaran. Visi ini berfungsi sebagai panduan dalam setiap keputusan terkait pendidikan di rumah.
Kedua, ibu perlu menjadi teladan sehingga anak lebih banyak belajar dari pengamatan dibandingkan dengan pendengaran. Keteguhan iman, akhlak yang mulia, semangat dalam mengejar ilmu, dan kepedulian kepada umat harus tampak dalam kehidupan sehari-hari ibu. Keteladanan seperti inilah yang menjadi dakwah paling efektif dan berkesan.
Terakhir, peran ibu yang ideologis harus disertai dengan upaya untuk memperbaiki sistem yang rusak. Kapitalisme sekuler terbukti menyulitkan dan merusak struktur keluarga.
Oleh karena itu, perjuangan ibu tidak hanya terbatas di ranah domestik, tetapi juga mendukung terwujudnya sistem Islam yang benar dan membuat sejahtera. Dengan cara ini, ibu tidak hanya membesarkan anak, tetapi juga turut serta dalam membangun peradaban.
Di dalam sistem Islam, seorang ibu tidak sedang sendirian. Ia berperan dalam proyek peradaban yang luas, yang didukung oleh negara, komunitas, dan sistem yang terintegrasi, yakni menjadikan Islam sebagai berkah bagi seluruh umat.
Demikian, perjuangan ideologis Islam bukanlah semata milik para aktivis di jalanan atau intelektual di atas mimbar. Akan tetapi, hal itu juga tercermin dalam sosok ibu yang dengan sabar membesarkan anaknya dengan akidah, keberanian, dan kesadaran akan perjuangan.
Setiap doa yang dipanjatkan oleh ibu, setiap pelukan yang berarti, setiap nasihat mengenai Islam adalah komponen kecil yang membangun peradaban yang besar. Sebab, sejarah mencatat bahwa ketika seorang ibu memahami ideologi, lahirlah generasi yang mampu mengubah peradaban. []
Oleh: Dewi Nur Hasanah
(Aktivis Muslimah)

0 Komentar