Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Rusaknya Pilar Keluarga: Ancaman Nyata dalam Sistem Kapitalisme


Topswara.com -- Maraknya kasus perceraian menjadi trending topik dalam beberapa bulan terakhir di tahun 2025. Di Pengadilan Agama (PA) Bojonegoro, per akhir Oktober 2025 memutuskan sebanyak 2.240 perkara. 

Dari semua faktor yang menjadi pemicu utamanya adalah masalah ekonomi, karena banyaknya pemutusan hubungan kerja atau pemasukan di bawah UMR (pa-bojonegoro.go.id, 04/11/25).

Lebih mengejutkan, struktur perceraian didominasi oleh cerai gugat (gugatan oleh pihak istri). Angka perceraian berdasarkan Data Badan Pusat Statistik terdapat 399.921 kasus perceraian sepanjang tahun 2024 dan 308.956 kasus termasuk cerai gugat. 

Hal ini menunjukkan bahwa perempuan kini memiliki keberanian besar dengan alasan kemandirian finansial, hingga angka pernikahan kian menurun (voi.co.id, 9/11/25). 

Mengapa seolah perceraian menjadi pencapaian yang patut dibanggakan? Apakah ibadah dan nilai dari pernikahan hanya sebuah pelarian belaka mengejar status? Siapa yang harusnya menjadi pelindung dan penjaga dari agungnya pernikahan?

Kapitalisme Menihilkan Ruhiyah dan Merusak Fitrah

Pernikahan sejatinya ibadah teragung. Mitsaqan ghalizan yaitu perjanjian agung, bergetar arsy-Nya sebab suci pernikahan terucap ijab qabulnya. Pertanggung jawaban yang besar, sehingga keduanya harus memahami hak dan kewajiban, mengemban visi yang haq dan tidak hanya menyandang status sah. Pernikahan akan melahirkan generasi mulia, terjalin juga ikatan persaudaraan.

Setiap pernikahan pasti ada ujiannya, seperti halnya ibadah pasti akan diuji. Melihat faktor pemicu maraknya perceraian menunjukkan lemahnya pemahaman tentang pernikahan. Pemahaman butuh ilmu. 

Jika tidak, sulit untuk menguraikan masalah sehingga berlarut dan tidak ada ujungnya. Akhirnya berpisah, sebab tidak ada lagi solusi menengahi, ego menjadi bahan bakar, dan kurangnya ilmu semakin menjadi hilang arah dan tujuan.

Padahal pernikahan menjadikan suami istri ibarat menjalin persahabatan dan saling menyayangi, melengkapi serta menutupi layaknya pakaian. Tidak ada yang sempurna sehingga keduanya memantaskan dengan terus belajar. 

Pernikahan yang bernilai ibadah terjalin dengan sakinah, terwujud mawaddah tanpa saling menuntut, warahmah saling menyayangi dan mengasihi dalam kebaikan. Tertunaikanlah ketaatan bersama karena Allah Ta'ala. Sungguh indah dua insan yang saling menyayangi karena Allah.

Sayangnya, hari ini ruh dan nuansa Islam tidak hadir dalam kehidupan bahkan dalam menjalani pernikahan. Jauhnya kehidupan dari agama, ibarat bola salju bergulir dan membahayakan. Akhirnya, ditempuhlah jalan perpisahan.

Kehidupan yang menjauhkan agama dari pengaturan menjadi pintu gerbang kemaksiatan. Kebebasan pilihan hidup tanpa batasan mengikuti hawa nafsu belaka. Seperti maraknya terlilit judi, kekerasan dalam rumah tangga sebab amarah, perselingkuhan sebagai akibat ikatan tanpa sadar batasan sehingga jatuh kemaksiatan. 

Selain itu, ekonomi negara tidak mendukung rakyat untuk layak hidup dan tenang. Semua beban hidup di pundak masing-masing individunya. Ibadah pernikahan yang bernilai pahala justru terjebak hawa nafsu sesaat, menjadi beban dan kesengsaraan yang didapat.

Paradigma kehidupan yang memisahkan pengaturan dari aturan agama menjadikan ruh ibadah tidak hidup. Rumah tangga saling menuntut, bukan beramar makruf nahi mungkar. Ditambah negara tidak diatur dengan syariat dalam semua aspeknya. Sehingga memicu jatuhnya pernikahan ke jurang perceraian. 

Ekonomi makin memberatkan seorang suami untuk memberikan nafkah yang layak. Wanita pun dituntut menjadi tulang punggung saking beratnya beban kehidupan. 

Bahkan sistem sosial terkait pergaulan juga tidak ada batasan. Campur baur. Semua aspek ikut memperkeruh betapa peliknya menjalankan rumah tangga, seolah hanya menambah beban hidup. Gambaran kehidupan di bawah sistem kapitalisme, di mana negara tidak berperan dan menjadi tameng menjaga keutuhan rumah tangga atau pernikahan. 

Sistem Islam Jaga Keutuhan Pernikahan 

Pernikahan adalah bersatunya dua insan untuk tumbuh dalam kebaikan dan ketaatan. Sehingga membutuhkan orang yang memiliki kepribadian ahsan hingga saling menarik dalam kebaikan. Untuk itu, sejatinya setiap insan harus belajar sepanjang hayatnya, sebab ilmu yang menjaganya.

Sistem Islam memiliki pengaturan kehidupan yang mengacu pada syariat. Agama diposisikan sebagai pusat kehidupan. Sistem pendidikan Islam berperan penting mencetak insan, dengan menguatkan akidahnya. 

Keimanan kuat mengantarkan rasa takut kepada Allah, sehingga dalam pernikahan mereka menjalankan dengan khidmat mengikuti syariat. 

Tumbuhlah pribadi yang menjauhi maksiat. Lahir pula kepribadian Islam yang kokoh, pola pikir dan sikapnya sesuai Islam. Itu salah satu kunci menjaga keutuhan rumah tangga.

Kemudian dalam sistem sosial, Islam mengatur bahwa laki-laki dan perempuan sejatinya terpisah. Demikian agama mengajarkan agar terjaga marwah, dan juga mudahnya menundukkan pandangan. Sehingga menjauhi maksiat sangat ringan dan mudah. 

Ditambah sistem ekonomi Islam yang menjamin kehidupan setiap individunya. Kebutuhan pokok terjamin dan kebutuhan sekunder mudah didapatkan. Tidak ada lagi pilihan untuk melakukan transaksi haram seperti riba atau judi.  

Kesejahteraan keluarga terjamin dan didukung penuh oleh negara yang mengatur rakyatnya dengan aturan penciptanya. Keluarga harmonis tumbuh melalui ketakwaan individu, masyarakat bahkan negara.

Sebab negara berbasis syariat akan menempatkan hak Allah terlebih dahulu sehingga mudah dan ringan dalam menjalankan hak dirinya atas apa yang diperintahkan sesuai aturan pencipta, yaitu Allah Ta'ala.[]


Oleh: Nadia Fransiska Lutfiani 
(Pendidik, Aktivis Muslimah Semarang)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar