Topswara.com -- Kasus Warda dan Inara kembali membuka mata kita bahwa masalah dalam rumah tangga seringkali bukan pada poligaminya, tetapi pada pelakunya.
Banyak lelaki berlindung di balik dalih “sudah talak”, “sedang proses cerai”, atau “istri tidak mengerti”, padahal kehidupan rumah tangga masih berjalan normal. Istri pertama tidak pernah diberi tahu, calon istri kedua dibuai janji, dan akhirnya dua perempuan tersakiti oleh satu laki-laki yang tidak jujur.
Sungguh, poligami yang diawali dengan kebohongan bukan hanya menyakiti istri, tetapi juga mencederai kehormatan syariat.
Pernikahan seperti itu ibarat bangunan di atas pasir, terlihat kokoh sebentar, tetapi pasti runtuh ketika kebenaran datang. Laki-laki itu mungkin merasa menang di awal, tetapi ia sedang membangun malapetaka yang akan menghancurkan dirinya sendiri.
Padahal dalam Islam, poligami bukan ruang bermain nafsu. Ia adalah amanah besar. Allah membolehkannya, tetapi dengan konsekuensi yang sangat berat, adil. Dan keadilan tidak mungkin lahir dari hati yang penuh kebohongan.
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa poligami adalah bagian dari hukum syariat yang halal, namun seorang laki-laki wajib memahami bahwa syariat ini terkait langsung dengan tanggung jawab, bukan kesenangan.
Dalam Nizham Ijtima’i fil Islam, beliau menegaskan bahwa keadilan dalam poligami bukan hanya soal materi dan giliran, tetapi juga perlakuan, perasaan, keamanan, dan ketenangan yang diberikan kepada setiap istri. Jika seseorang tahu dirinya tidak mampu, maka ia seharusnya tidak melakukannya.
Poligami tidak pernah menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah laki-laki yang mengkhianati amanah. Yang menikah lagi diam-diam, menipu istri pertama, dan membuat calon istri kedua terjebak dalam kesalahan yang sama sekali tidak mereka pahami. Ini bukan poligami, ini kecurangan.
Lalu, bagaimana poligami yang baik?
Pertama, kejujuran. Tanpa kejujuran, tidak ada poligami yang sah secara akhlak meski sah secara fikih. Laki-laki yang beriman tidak akan menginjak perasaan istri pertama dengan menikah sembunyi-sembunyi sambil berpura-pura rumah tangga baik-baik saja. Jika seorang suami berani menikah lagi, ia harus berani jujur lebih dulu.
Kedua, pendidikan agama untuk istri pertama dan calon istri kedua. Poligami bukan hal kecil. Ia memerlukan pemahaman tentang syariat, hak dan kewajiban, mental yang siap, dan hati yang luas. Istri pertama perlu diberi ruang, waktu, dan pendampingan sebelum suami memutuskan menikah lagi. Begitu juga calon istri kedua, ia harus tahu posisi dirinya, batas-batasnya, dan konsekuensi besar yang akan ia pikul.
Ketiga, memuliakan istri pertama. Tidak ada seorang pun yang berhak dilukai diam-diam, terutama perempuan yang telah setia mendampingi dari nol hingga berhasil. Jika seorang suami tidak mampu menghargai perempuan yang telah menemaninya bertahun-tahun, bagaimana mungkin ia pantas menambah amanah istri kedua?
Istri pertama memaafkan bukan karena ia lemah, tetapi karena hatinya besar. Dan kelapangan hati perempuan adalah sesuatu yang seharusnya membuat laki-laki semakin malu, bukan semakin berani menyakiti.
Keempat, persiapan mental anak-anak. Poligami bukan hanya tentang suami dan istri. Ada anak-anak yang hatinya harus dijaga. Mereka berhak tumbuh tanpa trauma, tanpa merasa rumahnya retak tiba-tiba akibat kebohongan ayahnya.
Laki-laki yang baik mungkin tidak selalu monogami. Tapi laki-laki yang buruk pasti tidak akan pernah bisa adil, sekalipun hanya pada satu istri.
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani juga menegaskan bahwa hukum syariat harus dijalankan dengan ketakwaan, bukan dengan tipu daya. Karena ketika syariat dijalankan tanpa ketakwaan, yang terjadi bukanlah keluarga sakinah, tetapi luka sosial yang panjang.
Pahami Sob, ujian poligami bukan hanya milik perempuan. Justru laki-lakilah yang diuji paling berat. Sebab adil itu bukan sekadar membagi giliran malam. Adil itu kemampuan menjaga hati dua perempuan tanpa ada satu pun yang merasa diabaikan dan itu tidak mungkin dicapai dengan jalan sembunyi-sembunyi.
Pada akhirnya, pernikahan yang dibangun dengan kebohongan akan runtuh dengan sendirinya. Kebenaran hanya menunggu waktu untuk menyapanya dan Allah Maha Mengetahui setiap air mata yang jatuh diam-diam. []
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)

0 Komentar