Topswara.com -- Banyak kasus perselingkuhan berawal dari rekan bisnis. Begitulah banyak rumah tangga retak bukan karena badai besar, tetapi celah kecil yang dibiarkan terbuka, seperti pergaulan bebas tanpa batas, iman yang menipis, pikiran pendek, serta hawa nafsu yang diberi ruang lebih besar daripada rasa takut kepada Allah.
Di awal mungkin hanya obrolan kerja, bercanda ringan, curhat kisah sedih, lalu berlanjut jadi saling nyaman. Padahal Syaikh Ibnul Qayyim sudah mengingatkan, “Pandanglah awal perbuatan, karena fitnah itu berawal dari pandangan, lalu senyuman, lalu salam, lalu janji, hingga akhirnya pertemuan.”
Perselingkuhan tidak muncul tiba-tiba. Ia tumbuh dari hati yang tidak dijaga. Suami yang tak menjaga pandangan, perempuan lain yang tak menjaga harga diri, dan relasi kerja yang tak diberi batas syar’i, akhirnya menyeret keduanya dalam dosa besar.
Di sini, istri sah bukanlah penyebab kerusakan. Rasulullah SAW bersabda, “Seorang mukmin tidak akan membinasakan keluarganya sendiri.” Maka siapa yang berbuat zalim, dialah yang memikul dosa.
Para ulama pun sepakat bahwa menjalin kedekatan dengan lawan jenis tanpa kebutuhan syar’i adalah pintu kerusakan. Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa bercampur baur antara laki-laki dan perempuan tanpa batas jelas akan “melahirkan kerusakan yang tidak kecil”, karena hati manusia lemah.
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa interaksi antara laki-laki dan perempuan harus dibatasi sesuai syariat, sebab “hawa nafsu adalah tabiat manusia, maka syariatlah yang menjadi pagar agar tidak keluar dari batas.”
Perselingkuhan selalu punya pola yang sama, yaitu dimulai dari chat yang tak penting, diteruskan dengan curhat yang tak seharusnya, dilanjutkan dengan pertemuan yang tak perlu, dan diakhiri dengan pengkhianatan yang menyayat hidup banyak orang.
Ini bukan kesalahan istri sah. Ini kesalahan suami yang mengkhianati amanah Allah dan wanita penggoda yang merusak rumah tangga orang lain. Dalam syariat, pelakor bukan sekadar istilah sosial, tetapi masuk kategori muharrishah perempuan yang menghasut seorang lelaki agar meninggalkan istrinya.
Rasulullah SAW bersabda dengan tegas, “Bukan termasuk golongan kami wanita yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya”
(HR. Abu Dawud).
Betapa jelas larangannya. Betapa besar dosanya. Istri sah tidak bisa dipersalahkan. Ia bukan dalang, bukan pemicu. Rumah tangga bukan kompetisi melawan wanita ketiga, rumah tangga adalah amanah antara suami dan Allah. Bila suami berkhianat, itu murni keputusannya sendiri.
Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan, “Setiap pengkhianatan berawal dari hati yang tidak takut kepada Allah.”
Maka kesalahan ada pada pelaku, bukan pada korban. Pelakor pun bukan korban keadaan, tapi pelaku kerusakan.
Imam As-Suyuthi mengatakan dalam Al-Asybah wan-Nazha'ir, “Barang siapa merampas sesuatu dengan kebatilan, maka ia turut memikul dosa kerusakan yang ditimbulkannya.” Termasuk merampas perhatian, cinta, bahkan waktu seorang suami dari istrinya yang sah.
Maka ketika perselingkuhan terjadi, jangan bebankan luka pada istri. Jangan menyalahkan kelembutannya, kesibukannya, penampilannya, atau kekurangannya.
Sehebat apa pun istri, lelaki yang tak menjaga iman tetap bisa tergelincir. Perselingkuhan bukan karena istri kurang, tapi karena suami yang tak pandai bersyukur pada apa yang telah Allah halalkan.
Namun di balik semua ini, Islam tetap memberikan arah, segera kembali kepada taubat, kembali pada batas-batas syariat, kembali menjaga pandangan, menjaga hati, dan menjaga amanah pernikahan.
Allah tidak menutup pintu bagi mereka yang ingin memperbaiki diri, tapi juga tidak membenarkan siapa pun menjustifikasi dosa dengan alasan apa pun.
Karena pada akhirnya, rumah tangga hanya kokoh bila suami menjaga dirinya sebagaimana ia menjaga istrinya. Dan perempuan yang ikut merusak rumah tangga orang lain, meski mungkin berpura-pura menang, sebenarnya sedang menorehkan dosa yang berat dan kelak ia sendiri akan mempertanggung jawabkannya. []
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)

0 Komentar