Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Krisis Identitas di Era Digital, Umat Islam harus Kembali Memimpin


Topswara.com -- Di era digital hari ini, kita hidup dalam arus informasi yang begitu deras, sampai banyak orang tidak lagi mampu membedakan mana hiburan dan mana racun.

Ruang digital sudah berubah dari sekadar tempat berbagi cerita atau mencari ilmu, menjadi pasar bebas bagi konten yang merusak pola pikir dan karakter generasi muda. 

Pornografi, judi online, pinjaman online, cyberbullying, hingga konten liberal dan moderasi beragama yang mengacak-acak akidah, semua tersedia dalam hitungan detik, satu sentuhan layar, lalu perlahan terbentuk kebiasaan dan membentuk pola pikir, bahkan cara pandang hidup.

Dampaknya akan sangat terasa dan sudah terlihat, banyak generasi Muslim yang bingung dengan identitasnya sendiri. Di satu sisi ingin terlihat religius, tapi di sisi lain larut dalam budaya permisif digital yang serba bebas. 

Mereka tumbuh dalam kegamangan, fisiknya ada di masjid atau sekolah Islam, tapi pikirannya terseret algoritma yang mempromosikan gaya hidup sekuler. 

Akhirnya lahirlah generasi dengan kepribadian terbelah di dunia nyata menjunjung nilai Islam, namun di dunia digital menikmati hal-hal yang jelas bertentangan dengan ajaran Islam.

Kini teknologi bukan lagi sekadar alat untuk mencari informasi, seolah ada kesan kuat bahwa ia sedang diarahkan, dikendalikan, dan dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang punya agenda tertentu. Terutama terhadap umat Islam.

Banyak konten yang mengalir deras di ruang digital bukan hanya sekadar hiburan kosong, tetapi seperti racun yang pelan-pelan memutus keterikatan umat dengan agamanya, melemahkan karakter, dan menjauhkan mereka dari identitas Islam.

Seolah ada tangan yang tidak terlihat yang sengaja menormalisasi kebebasan tanpa batas, merusak standar moral, dan menanamkan pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Akhirnya banyak dari generasi muda kehilangan arah, kehilangan rasa malu, bahkan kehilangan pegangan hidup. Mereka dijejali gaya hidup sekuler, diajari untuk memandang halal dan haram hanya sebagai pilihan personal, bukan lagi menjadi aturan Allah yang wajib ditaati.

Padahal umat Islam memiliki sejarah sebagai pembawa ilmu, akhlak, dan peradaban. Namun di era digital ini, justru generasi mudanya banyak terjebak dalam konten dangkal dan merusak, konten kosong yang tidak bermakna diagungkan, sedangkan konten yang menguatkan iman dipersempit dan dibatasi. 

Ini bukan kebetulan. Ada ideologi yang ingin mengikis kekuatan Islam dari akarnya, akidah, moral, dan persatuan umat.

Teknologi sebenarnya bisa menjadi sarana dakwah, pendidikan, dan kebangkitan. Tetapi selama penguasa hari ini membiarkan algoritma kapitalis dan ideologi sekuler memimpin, ruang digital akan tetap menjadi medan perang yang tidak seimbang di mana generasi kita diserang pemikirannya tanpa pertahanan yang memadai.

Padahal generasi adalah aset terbesar sebuah umat. Jika rusak dari akhlak, goyah dalam akidah, dan kosong dari visi perjuangan Islam, maka masa depan umat pun ikut runtuh.

Ini berbeda dengan sistem Islam. Dalam khilafah, negara bukan hanya mengatur urusan administratif, tetapi menjadi raa’in dan junnah, pemelihara sekaligus pelindung bagi umat. 

Ruang digital tidak dibiarkan bebas seperti rimba, tetapi dipastikan menjadi tempat aman yang mendukung pendidikan, dakwah, dan penguatan kepribadian Islam.

Karena itu, kita butuh sistem yang bukan hanya sadar bahaya ini, tetapi mampu menutup pintu-pintu kerusakan dan mengarahkan teknologi untuk mendukung terbentuknya generasi Islam yang kuat dalam iman, bersih dalam akhlak, dan tajam dalam pemikiran. 

Inilah alasan mengapa penegakan syariat Islam secara kaffah bukan sekadar wacana, tetapi kebutuhan mendesak untuk menyelamatkan masa depan umat.

Wallahu'alam bishawab.


Oleh: Nilam Astriati 
Aktivis Muslimah 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar