Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Pemicu Konflik Mertua dan Menantu


Topswara.com -- Konflik mertua dan menantu itu kadang bukan karena sambal terlalu pedas atau menantu kurang senyum. Banyak rumah tangga yang kelihatannya baik-baik saja dari luar, tetapi di dalamnya penuh gesekan halus yang kalau nggak dibereskan, bisa berubah jadi drama panjang dan sering kali, pemicunya bukan hal teknis, melainkan cara pandang hidup yang salah kaprah.

Pertama, cara pandang sekuler. Ini biang kerok utama. Ketika hidup dipisah-pisah antara agama dan urusan rumah, orang jadi menjalani pernikahan dengan standar perasaan, gengsi, dan budaya, bukan dengan standar Allah.

Padahal hubungan menantu dan mertua itu masuk bab akhlak dan keluarga dalam syariat. Tetapi karena sekularisme sudah lama menggerogoti, muncullah mindset “yang penting aku bahagia”, “rumah tanggaku, aturanku”, “orang tua jangan ikut campur” padahal peran orang tua tetap ada, hanya saja porsinya harus sesuai syariat.

Kedua, tak paham syariat. Banyak mertua menuntut menantu seperti mereka menuntut anak kandung. Banyak menantu memperlakukan mertua seperti orang asing yang mengganggu privasi. Akhirnya muncul gesekan, batasan akhlak tak ditegakkan, adab tak dipakai, hak dan kewajiban tak dipahami. 

Dalam Islam, menantu wajib berakhlak baik, hormat, lembut. Tetapi mertua juga enggak boleh menuntut hal yang bukan kewajiban menantu, apalagi mengatur sampai ke dapur rumah tangga anaknya. Ada batas, ada adab, ada koridor.

Ketiga, overthinking. Ini masalah klasik. Mertua sensitif, menantu defensif. Dikit-dikit baper, “kayaknya ibu enggak suka aku.” “Kayaknya menantu enggak hormat.” Semua yang dilihat jadi prasangka. 

Padahal dalam Islam, prasangka itu racun yang dilarang. Kaidahnya jelas, husnuzan dulu, tabayun dulu, jangan lebay duluan.

Keempat, konsep rezeki kacau. Banyak konflik terjadi karena orang tua merasa takut anaknya kekurangan setelah menikah, sementara menantu merasa tertekan dengan ekspektasi keluarga pasangan. 

Ada mertua yang merasa “aku sudah membesarkan anakku, jangan sampai hidupnya susah setelah menikah”, tetapi lalu ikut campur terlalu jauh. Ada menantu yang merasa dinilai dari materi, bukan akhlak.

Padahal dalam Islam, rezeki itu dari Allah, bukan dari menantu atau mertua. Bukan tugas menantu bikin keluarga pasangan kaya raya, bukan tugas mertua memastikan semua berjalan sesuai standar dunianya.

Kelima, luka masa lalu. Banyak mertua membawa trauma dari pernikahan mereka sendiri. Mungkin dulu diperlakukan tidak adil, kurang dihargai, atau merasa hidup terlalu berat. Lalu trauma itu tanpa sadar dibebankan ke menantu.

Banyak menantu membawa luka dari pola asuh masa kecil, lalu mudah tersinggung dengan ucapan mertua. Luka yang tak disembuhkan akhirnya jadi sumber ledakan kecil sehari-hari.

Keenam, takut ditinggal. Banyak ibu kehilangan anak laki-lakinya secara emosional setelah sang anak menikah. Rasa takut ditinggal itu sering muncul dalam bentuk kritik, intervensi, atau kontrol.

Padahal sebenarnya bukan benci menantu, tapi takut posisinya berubah. Di sisi lain, menantu merasa diserang terus, padahal akar masalahnya adalah rasa kehilangan yang tak pernah diucapkan.

Ketujuh, cinta anak berlebihan. Kadang anak laki-laki dianggap seperti “tabungan emosional”. Begitu menikah, ibu merasa ada yang mengambil jatah cintanya. Maka hadir lah “adu peran” antara istri baru dan ibu. 

Padahal dalam Islam, cinta itu bukan kompetisi. Ada porsi cinta suami untuk ibu, ada porsi untuk istri. Keduanya mulia, tetapi tidak bisa ditumpuk di tempat yang sama.

Solusi Islam

Islam tidak membiarkan manusia mengandalkan feeling dan ego. Islam memberi aturan yang menentramkan.

Pertama, menata ulang cara pandang. Pernikahan adalah ibadah. Relasi mertua-menantu juga ibadah. Semua harus dibangun dengan standar Allah. Bukan sekulerisme yang membebaskan hawa nafsu.

Kedua, tegakkan adab dan batasan. Menantu harus hormat, lembut, sopan. Mertua harus adil, tidak menuntut berlebihan, tidak menyakiti dengan ucapan, dan tidak mengatur rumah tangga anak. Suami wajib menjadi tameng bagi istrinya bukan membiarkan istrinya terluka oleh siapapun, termasuk keluarganya sendiri.

Ketiga, kurangi prasangka, perbanyak tabayun. Syariat melarang su’uzan. Kalau ada yang mengganjal, bicarakan dengan baik, bukan disimpan jadi bisul hati.

Keempat, letakkan rezeki pada tempatnya. Rezeki bukan mekanisme mertua menantu. Allah yang menjamin. Tugas masing-masing adalah menjalankan peran sesuai syariat, bukan mengejar standar dunia.

Kelima, sembuhkan luka masing-masing. Islam mengajarkan tazkiyatun nafs membersihkan jiwa. Mertua belajar menerima perubahan. Menantu belajar memaafkan. Suami sebagai pemimpin menjadi penengah.

Keenam, cinta yang proporsional. Setiap yang dicintai harus dicintai karena Allah. Bukan karena memiliki, bukan karena takut kehilangan.

Jika syariat ditegakkan, konflik mertua-menantu bisa dicegah. Karena Islam datang bukan untuk membuat orang sekadar “akrab”, tapi untuk menghadirkan keluarga yang sakinah, yang damai karena Allah, bukan karena semua orang selalu sepakat.[]


Oleh: Nabila Zidane
Jurnalis
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar