Topswara.com -- Di penghujung tahun alam seolah-olah menumpahkan keluh kesahnya, bencana alam dimana-mana, banjir bandang, tanah longsor, angin badai, gempa bumi hingga gunung meletus, seolah-olah ingin menyampaikan amarahnya kepada para manusia yang saat ini sangat rakus mengeksploitasi Sumber Daya Alam (SDA) tanah air ini.
Pray Sumbar dan Sumut menjadi tagline diberbagai media dan dunia maya saat ini sehingga menjadi berita utama. Kejadian musibah yang diabadikan dengan camera HP berseliweran di jagat maya, menunjukan betapa hebatnya kuasa Illahi ketika alam sudah tidak sanggup lagi menahan beban kerusakan akibat keserakahan para manusia khianat.
Seperti dilansir di media Detik.com (26/11/2025), banjir bandang dan tanah longsor melanda enam kabupaten/kota di Sumatera Utara (Sumut), yakni Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Sibolga, Mandailing Natal, dan Nias. Akibat bencana alam tersebut, 10 orang tewas.
Faktor Penyebab Bencana
Bencana yang terjadi tidaklah tiba-tiba, banyak faktor yang menjadi pemicu musibah banjir dan longsor tersebut.
Pertama, akibat curah hujan yang tinggi akhir-akhir ini sehingga mengakibatkan meluapnya sungai yang ada disekitaran Sumbar dan Sumut dan debit air yang tinggi tidak bisa diserap maksimal oleh tanah.
Kedua, adanya ekploitasi besar-besaran terhadap hutan Sumatera, yang mengalih-fungsikan hutan menjadi perkebunan sawit, sehingga daerah serapan air berkurang. Akibatnya tidak sedikit titik longsoran karena tidak ada penopang tanah yang disebabkan hutan gundul.
Ketiga, adanya kerusakan ekologis, dimana beralihnya fungsi hutan dan daerah serapan air menjadi pemukiman warga disepanjang aliran sungai.
Sudah menjadi tugas pemerintah memberikan edukasi kepada rakyat agar tidak sembarangan menebang pohon, kalaupun mau menebang harusnya dilakukan reboisasi (penanaman kembali hutan), sehingga ada regenerasi dari pohon yang sudah ditebang.
Selain itu perlunya tindakan tegas kepada pihak swasta atau perusahaan yang akan mengalih-fungsikan hutan menjadi perkebunan sawit. Pemerintah seharusnya memikirkan dampak kedepannya bukan hanya sekedar mencari keuntungam materi semata.
Perlu juga disosialisasikan kepada rakyat untuk tidak membangun rumah dibantaran kali, karena selain membahayakan juga membuat aliran air terhalangi.
Lebih utama pemerintah wajib tanggap bencana, misal dengan melakukan mitigasi bencana dan mengedukasi warga jika sewaktu-waktu terjadi bencana. Upaya-upaya tersebut bisa dilakukan agar meminimalisir adanya korban jiwa.
Islam Menyikapi Bencana
Bencana alam bisa dikategorikan sebuah musibah juga sebagai teguran dari Sang Khaliq. Selama ini banyak bencana diakibatkan oleh tangan manusia, karena keserakahan dan kerakusan akan SDA yang ada.
Sebagaimana Allah SWT memperingatkan kita dalam Q.S Ar-Rum ayat 41:
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)".
Untuk itu seharusnya manusia senantiasa mengingat dan mengindahkan peringatan Allah, agar terhindar dari musibah yang bukan hanya merugikan diri sendiri namun dampaknya sangat luas bagi orang banyak.
Maka disini perlunya ammar makruf nahi mungkar, senantiasa mengingatkan para penguasa agar berfungsi sebagai penguasa, meriayah rakyat dengan sebaik-baiknya, menanggulangi berbagai bencana dengan kekuasaan dan kekuatannya.
Begitu pun dengan rakyat harus senantiasa sadar akan pentingnya menjaga hutan tidak merusaknya apalagi mengekploitasi besar-besaran. Sehingga hidup tenang tanpa dihantui rasa takut akan datangnya bencana.
Wallahu'alam.
Oleh: Haryati. S.Pd.I.
Pendidik di Kota Bogor

0 Komentar