Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Jomblo Jangan Takut Menikah, Hanya Karena Takut Diselingkuhi


Topswara.com -- Di tengah banyaknya kisah rumah tangga yang pahit, sebagian jomblo mulai takut melangkah. Bukan takut pada akadnya, tetapi pada kemungkinan dikhianati.

Padahal, menikah bukan soal mempertaruhkan harga diri, tetapi menjalankan ibadah panjang. Ibadah yang diniatkan hanya untuk Allah, bukan untuk kesempurnaan manusia.

Menikah adalah ibadah seumur hidup. Sekali melangkah, niatnya tentu ingin selamanya. Namun takdir tidak selalu mengikuti skenario manusia. Kadang cinta dijaga Allah sampai tua, kadang Allah sudahi lebih cepat dan jika takdir membawa ujian, poin terpenting bukanlah siapa yang pergi, tapi siapa yang tetap menjaga nilai dirinya.

Ulama besar Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa amal seorang hamba dilihat dari keikhlasan niat dan kesesuaian dengan syariat. Ia berkata, “Pondasi ibadah ada dua, niat yang ikhlas dan mengikuti tuntunan syariat.” (I‘lam al-Muwaqqi‘in, 1/333).

Artinya, menikah adalah ibadah yang bernilai mulia bukan karena pasangan selalu sempurna, tetapi karena kita menjalaninya dengan niat yang benar. Jika seseorang sudah berusaha menjadi pasangan yang setia dan tak melanggar batas Allah, maka ia telah menjaga ibadahnya.

Katakanlah suatu hari ujian itu datang perselingkuhan, kecurangan, atau pengkhianatan. Jika itu bukan perbuatan kita, maka marwah kita tetap utuh. Kita tetap terhormat di mata anak, orang tua, keluarga besar, dan yang paling penting terhormat di sisi Allah. Kehormatan seorang mukmin tidak runtuh hanya karena perlakuan buruk orang lain.

Sebaliknya, ulama menjelaskan bahwa aib yang terbongkar adalah bagian dari hukuman dunia sebelum hukuman akhirat. Nabi SAW bersabda, “barang siapa menutupi aib seorang muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim).

Sebaliknya, jika Allah sudah membuka aib seseorang, itu pertanda hilangnya penjagaan-Nya. 

Imam Al-Ghazali berkata dalam Ihya’ Ulumiddin bahwa terbukanya aib seseorang adalah tanda Allah telah mengangkat penutup-Nya, sehingga ia jatuh dalam kehinaan yang ia buat sendiri.

Karena itu, seseorang yang berbuat khianat lalu aibnya tersingkap, sesungguhnya ia sedang menanggung kerugian yang jauh lebih besar daripada sekadar kehilangan pasangan, yaitu ia kehilangan penjagaan Allah.

Maka wahai para jomblo, jangan takut menikah hanya karena takut disakiti. Takut itu normal, tapi jangan sampai menghalangi ibadah yang Allah syariatkan. Syekh Muhammad Shalih Al-Utsaimin pernah menasihati,

“Siapa yang bertawakal kepada Allah, Allah akan menjaganya dari arah yang tidak ia sangka.” (Syarh Riyadhus Shalihin, 1/132).

Menikahlah ketika mampu, dan melangkahlah dengan iman. Rawat rumah tanggamu dengan takwa, karena takwa adalah pagar terkuat terhadap kehancuran. Menikah karena Allah, mencintai karena Allah, dan jika suatu hari terpaksa berpisah pun lakukan itu karena Allah, bukan karena emosi, bukan karena tekanan manusia.

Allah tidak menilai panjangnya hubungan, tetapi bagaimana kita menjaga adab dan ketaatan selama berada di dalamnya. Yang bersalah akan menanggung akibatnya, yang menjaga dirinya akan Allah jaga kemuliaannya. Jadi jangan takut. Perjalanan panjang ini lebih aman jika kau bawa Allah sebagai kompasnya.

Melangkahlah dengan hati yang bertawakal, karena Allah tak pernah mengecewakan hamba yang sungguh-sungguh menjaga diri. []


Oleh: Nabila Zidane 
(Jurnalis)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar