Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Aplikasi BEKANTAN: Karpet Merah Menuju Ilusi Investasi


Topswara.com -- Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan meluncurkan aplikasi BEKANTAN (Berinvestasi di Kalimantan Selatan) sebagai wajah baru kemudahan berinvestasi. Aplikasi ini menyajikan peta potensi ekonomi dari perkebunan sampai pariwisata (Kalsel Daily, 14/11/2025). 

Dilansir Smart Banua (14/11/2025), menyebutnya sebagai terobosan digital terpadu untuk memanjakan calon investor. Bahkan Infobanua (14/11/2025) menilai BEKANTAN sebagai bukti pemerintah telah memangkas birokrasi dan memperkuat iklim usaha.

Begitulah narasi yang terus diperdengarkan: digital, cepat, modern. Seolah-olah yang dibutuhkan Banua untuk maju hanyalah satu hal investor. Dan aplikasi BEKANTAN tampil sebagai karpet merah yang digelar agar para pemilik modal tinggal melangkah masuk.

Namun jika ditelusuri lebih dalam, BEKANTAN bukan sekadar aplikasi. Ia adalah simbol dari satu ilusi besar sistem kapitalisme: bahwa modal adalah pahlawan yang akan menyelamatkan daerah dari ketertinggalan. Ilusi yang membuat negara rela bertransformasi dari pengurus rakyat menjadi marketing agency bagi investor.

Yang dijual jelas: potensi SDA. Yang dikejar: minat pemodal. Dan yang dipinggirkan diam-diam: kepentingan rakyat.

Dalam logika kapitalisme, modal itu “netral”. Mau berasal dari korporasi asing, lembaga berbiaya riba, atau investor yang menjadikan hutan dan tambang sebagai ladang cuan selama legal, semua dipersilakan. Negara cukup memoles, merapikan izin, dan membuka pintu selebar mungkin. Itulah peran yang bangga disebut “mempermudah investasi”.

Masalahnya, Islam tidak pernah memandang netralitas modal sebagai kebaikan. Islam mengajari bahwa teknologi itu mubah, tetapi arah penggunaannya menentukan nilai. Dan penggunaan aplikasi untuk membuka jalan penguasaan SDA jelas berada pada garis merah syariah.

Di sinilah ayat Allah memberi peringatan. Dalam QS. An-Nisa ayat 141 Allah menegaskan: “…dan Allah tidak akan memberi jalan bagi orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang mukmin.”

Ayat ini adalah alarm yang membunyikan pesan: jangan buka pintu yang memberi kekuasaan, kendali, atau akses strategis kepada pihak luar atas harta umat. Namun apa yang terjadi hari ini? Kita justru merayakan aplikasi yang secara terang-terangan “mengundang” investor untuk mengambil bagian dari potensi SDA Banua.

Aplikasi BEKANTAN memang terlihat modern. Tetapi modernitas tidak menghapus fakta bahwa negara sedang menyiapkan panggung bagi pemodal untuk masuk lebih dalam, lebih cepat, dan lebih bebas.

Padahal Nabi SAW dengan tegas mengingatkan: “Sesungguhnya imam (khalifah) adalah junnah (perisai). Umat berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Perisai seharusnya melindungi, bukan membuka celah. Perisai seharusnya menahan serangan, bukan menawarkan tanah dan kekayaan umat kepada pihak luar. Perisai seharusnya menghalangi monopoli, bukan memfasilitasinya.

Itulah mengapa persoalan BEKANTAN bukan soal digital atau tidak digital. Ini soal paradigma. Selama negara menjalankan peran sebagai pelayan pasar, bukan pemimpin umat, maka aplikasi apa pun hanya akan memperkuat struktur yang sama: modal di atas, rakyat di bawah.

Investasi akan terus dipromosikan sebagai kunci kemajuan, meski sejarah menunjukkan bahwa di banyak wilayah, investasi besar justru meninggalkan kerusakan ekologis, ketimpangan lahan, dan ketergantungan ekonomi yang sulit diputus.

Islam memiliki tawaran yang sama sekali berbeda. Dalam Khilafah, SDA tidak dijual ke pemodal, tetapi dikelola negara dan hasilnya dikembalikan kepada rakyat. Investasi hanya dibolehkan dalam akad yang halal, tanpa celah riba, tanpa privatisasi harta milik umum, dan tanpa dominasi asing. 

Teknologi tetap digunakan, tetapi arahnya bukan promosi potensi kepada investor, melainkan memperkuat pelayanan publik dan pengelolaan negara.

Karena itu, se-modern apa pun BEKANTAN, selama ia berdiri di atas paradigma kapitalisme, ia tetaplah ilusi. Ia mungkin memperindah wajah pembangunan, tetapi tidak mengubah kenyataan bahwa negara sedang berjalan semakin jauh dari fungsi aslinya menjadi junnah bagi umat.

Yang kita butuhkan bukan aplikasi yang mempersilakan modal masuk, tetapi negara yang berdiri tegak melindungi kekayaan umat. Tanpa itu, Banua akan terus menjadi pasar, bukan pemilik masa depan. []


Oleh: Zahida Ar-Rosyida 
(Aktivis Muslimah Banua) 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar