Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Hanya Islam yang Mampu Melahirkan Generasi Berakhlak Mulia

Topswara.com -- Indonesia memiliki visi untuk mewujudkan Indonesia Emas pada 2045 mendatang. Namun untuk mewujudkannya tentu banyak sekali tantangan yang dihadapi oleh semua elemen masyarakat.

Melansir dari fokussatu.id. Bupati Kabupaten Bandung Dadang Supriatna mengungkapkan bahwa pendidikan anak dan generasi milenial saat ini sangat penting untuk dilakukan, terutama peran keluarga, terlebih ibu sebagai pendidik pertama dan utama bagi anaknya.

“Guru yang pertama mendidik anak-anak itu ibu. Seorang ibulah yang tentunya harus dominan bisa membimbing anak-anaknya dengan upaya pendidikan, pelatihan termasuk pengajian seperti yang dilaksanakan di Gedung Moch Toha ini,” kata Bupati dalam keterangannya usai menghadiri pengajian rutin bulanan dan halal bi halal TP PKK Kabupaten Bandung di Gedung Moch Toha, Komplek Pemkab Bandung, Soreang, Rabu (8/5/2024).

Ia berharap dengan adanya pengajian-pengajian rutin akan meminimalisir persoalan-persoalan akhlak para generasi muda dan bangsa di masa depan.

Tidak Sebatas Akhlak

Harapan Bupati perlu diapresiasi, sebab realitas generasi saat ini memang sedang tidak baik-baik saja. Namun tidak sebatas akhlak, problem yang menimpa generasi sudah sangat miris. Mulai dari buruknya akhlak, pergaulan bebas, narkoba, judi online, kriminalitas, tawuran, sampai terlibat pinjol, dan masih banyak lagi persoalan lainnya. Ini menandakan ada masalah serius dalam tatanan sistem kehidupan saat ini.

Dalam tatanan kehidupan saat ini, bertebaran tanyangan-tayangan yang tidak mendidik. Tayangan tentang perilaku anak durhaka. Anak yang meninggalkan orang tuanya di panti asuhan, memperkarakan mereka ke pengadilan, bahkan ada yang membunuh orang tuanya.

Di samping itu banyak dipertontonkan kurangnya kewibawaan guru dan orang tua di hadapan remaja. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat untuk menimba ilmu digambarkan sebagai lelucon, ajang menampakkan aurat, flexing, pergaulan bebas dan lain sebagainya. Akhirnya tontonan menjadi panutan bagi para remaja.

Penerapan kurikulum merdeka belajar yang gencar dicanangkan juga belum memberikan kemajuan berarti, justru kerusakan-kerusakan terus mendera kalangan pelajar. Pembentukan karakter mulia memang tidak bisa dibentuk hanya dengan penerapan konsep belajar yang berbasis transfer ilmu semata.

Kita tentu prihatin menyaksikan realitas di atas, sebab generasi muda merupakan aset yang sangat penting bagi keberlangsungan suatu bangsa, negara dan agama. Baik buruknya suatu bangsa di masa yang akan datang bisa dilihat dari kualitas generasi muda hari ini.

Jika ditelisik secara mendalam persoalan yang menimpa generasi muda merupakan bentukan dari sistem yang ada, yaitu penerapan sistem kehidupan sekuler yang menjauhkan agama dari kehidupan, termasuk kehidupan remaja.

Prinsip kehidupan sekuler yang hanya memburu kesenangan duniawi, memperturutkan hawa nafsu membentuk watak generasi muda menjadi generasi hedonis, serba bebas, hura-hura, santai, serta tidak paham akan makna tanggung jawab.

Pendidikan hanya berorientasi pada kepentingan materi semata. Sekolah saat ini, seolah hanya menjadi mesin pencetak para pegawai yang siap terjun di industri-industri di bawah arahan telunjuk para kapitalis pemilik modal. Tidak hanya itu mereka dijajah dengan budaya Barat yang merusak akidah serta pemikiran yang jauh dari agama.

Oleh karena itu jika orang tua atau siapapun menghendaki generasi mudanya berakhlak mulia, menjadi generasi pembangun peradaban dunia, tidak bisa mengandalkan sistem yang ada, karena sistem yang ada justru menjadi akar masalah munculnya persoalan generasi.

Islam Menawarkan Solusi

Islam menegaskan bahwa dasar dari segala sesuatu dalam hidup ini faktor utamanya keimanan. Iman yang benar menjadi fondasi untuk perilaku yang benar dan akhlak mulia.

Orang tua yang berharap anaknya shalih dan shalihah, berakhlak mulia tentu akan memperhatikan bagaimana keimanan anak-anaknya.

Orang tua akan berupaya menanamkan keimanan itu kepada anak-anaknya dengan metode yang benar, bukan dengan dogma atau pemaksaan, karena keimanan itu tidak boleh dipaksakan tapi harus dengan keyakinan.

Akidah yang kokoh akan menumbuhkan ketaatan total dalam diri anak terhadap seluruh aturan yang ditetapkan oleh Sang Pencipta dalam menjalani setiap episode kehidupan selanjutnya. Dengan landasan akidah dan bangunan aturan Allah inilah yang akan membentuk anak memiliki kepribadian yang benar.

Kepribadian itu akan semakin kokoh saat hidupnya dilengkapi dengan tsaqofah (pengetahuna) Islam, hukum-hukum Islam, pemahaman-pemahaman Islam yang dibutuhkan dalam kehidupan.

Kokohnya pribadi itu akan terus terjaga manakala di tengah masyarakat diterapkan aturan Islam oleh negara. Keberadaan negara yang berkarakter ra’in (pemelihara), akan memelihara urusan rakyatnya termasuk para pemuda dan anak-anak, dan juga junnah (tameng) yang akan melindungi seluruh warga negara dari kerusakan.

Jadi penanaman akidah, keterikatan dengan aturan Allah, terus belajar tsaqafah Islam, diterapkan aturan islam oleh negara, inilah unsur yang membentuk generasi berkepribadian Islam, berakhlak mulia, siap membangun peradaban dunia yang agung.

Maka perlu upaya penyadaran atau kajian-kajian yang membahas Islam kafah sebagai solusi bagi seluruh problematika kehidupan termasuk persoalan remaja. Kajian-kajian sepert itulah yang akan mampu menjadi wasilah untuk menyelesaikan persoalan generasi muda.

Dakwah kepada Islam dan penerapannya dalam setiap lini kehidupan akan mendorong adanya ketakwaan individu, juga kontrol dari masyarakat yang senantiasa melakukan amar makruf nahi munkar sehingga generasi yang akan datang adalah generasi kuat.

Ini sejalan dengan peringatan Allah dalam Al-Qur’an Surat An Nisa ayat 9 yang artinya, “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraannya).”

Wallahu ‘alam bi ashawwab.


Oleh: Suwanti
Pengajar
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar