Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Tanda Kebahagiaan dan Kebinasaan


Topswara.com -- Sobat.Tanda-tanda Kebahagiaan menurut Abu Laits As-samarqandi dalam kitab Tanbihul ghafilin: Pertama. Zuhud terhadap dunia dan cinta kepada akherat. Kedua. Senantiasa ingin beribadah dan membaca Al-Qurán.

Benar, itu adalah dua tanda kebahagiaan menurut Abu Laits As-Samarqandi dalam kitab Tanbihul Ghafilin:

1. Zuhud terhadap dunia dan cinta kepada akhirat: Mengutamakan kehidupan akhirat daripada dunia, dan memiliki sikap rendah hati terhadap kenikmatan duniawi.
2. Senantiasa ingin beribadah dan membaca Al-Qur'an: Memiliki keinginan yang kuat untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah dan pembacaan Al-Qur'an.

Dua tanda ini menunjukkan orientasi spiritual yang mendalam dan komitmen untuk mencari kebahagiaan yang sejati dalam hubungan dengan Allah.

Adapun yang ketiga. Sedikit bicara tentang hal yang tidak perlu. Keempat. Senantiasa memelihara sholat yang lima waktu. Tentu, saya akan membicarakan dua tanda kebahagiaan tambahan tersebut:

3. Berbicara sedikit tentang hal yang tidak perlu: Kebahagiaan seringkali terkait dengan kedamaian batin dan kebersihan hati. Mengurangi pembicaraan tentang hal-hal yang tidak penting atau berlebihan dapat membantu seseorang menjaga ketenangan batinnya dan fokus pada hal-hal yang lebih bermakna.

4. Senantiasa memelihara shalat lima waktu: Shalat lima waktu adalah kewajiban utama dalam agama Islam. Memelihara shalat lima waktu menandakan ketaatan dan koneksi yang kuat dengan Allah. Melalui shalat, seseorang dapat memperoleh ketenangan pikiran, ketenangan jiwa, dan kebahagiaan yang bersumber dari hubungan spiritual dengan Sang Pencipta.

Sedangkan yang kelima. Bersikap wara terhadap barang haram maupun syubhat, sedikit atau banyak. Keenam. Bersahabat dengan orang yang baik-baik. Kelima dan keenam tanda kebahagiaan tambahan dari Abu Laits As-Samarqandi adalah sebagai berikut:

5. Bersikap wara' terhadap barang haram maupun syubhat, sedikit atau banyak: Wara' adalah sikap berhati-hati dan berwaspada terhadap segala hal yang diharamkan atau dipertanyakan menurut ajaran agama. Memiliki kesadaran untuk menjauhi hal-hal yang haram atau bahkan yang meragukan (syubhat) menunjukkan ketakwaan dan komitmen untuk hidup sesuai dengan prinsip-prinsip agama, yang pada gilirannya dapat membawa kebahagiaan dan kedamaian batin.

6. Bersahabat dengan orang yang baik-baik: Kualitas pertemanan dapat sangat memengaruhi kehidupan seseorang. Bersahabat dengan orang-orang yang baik, yang mendukung pertumbuhan spiritual dan moral, dapat membawa kebahagiaan dan keberkahan dalam kehidupan. Orang-orang yang baik memberikan dukungan, inspirasi, dan pandangan positif, yang dapat memperkuat ikatan sosial dan memperkaya kehidupan seseorang secara keseluruhan.

Adapun yang ketujuh. berlaku tawadu tidak sombong. Kedelapan. Dermawan lagi pemurah. Tentu, inilah dua tanda kebahagiaan tambahan yang terdapat dalam konsep Abu Laits As-Samarqandi:

7. Berlaku tawadu tidak sombong: Tawadu adalah sikap rendah hati dan tidak sombong. Memiliki sikap rendah hati menandakan kedewasaan spiritual dan kesadaran akan kebesaran Allah. Orang yang tawadu tidak merasa lebih baik dari orang lain dan tidak merendahkan orang lain. Sikap ini menciptakan hubungan yang lebih harmonis dengan orang lain dan dengan Allah, yang pada gilirannya dapat membawa kebahagiaan dalam hubungan dan kedamaian batin.

8. Dermawan lagi pemurah: Kebahagiaan sering kali diperoleh melalui memberikan kepada orang lain. Kedermawanan dan kemurahan hati menciptakan ikatan sosial yang kuat, serta memberikan rasa kepuasan dan kebahagiaan yang mendalam. 

Ketika seseorang membagi rezekinya dengan orang lain tanpa pamrih, itu mencerminkan kedermawanan yang tulus dan dapat membawa keberkahan dalam kehidupan pribadi dan sosialnya.
Sedangkan kesembilan. belas kasih terhadap sesama makhluk Allah SWT. Kesepuluh. Menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama makhluk. Kesebelas. Banyak mengingat mati.
Berikut dua tanda kebahagiaan tambahan dari Abu Laits As-Samarqandi:

9. Belas kasih terhadap sesama makhluk Allah SWT: Belas kasih adalah sikap empati dan kasih sayang terhadap makhluk Allah lainnya, termasuk manusia, hewan, dan lingkungan. Memiliki belas kasih yang luas memungkinkan seseorang untuk merasakan kebahagiaan dalam memberikan bantuan, menghibur, dan memperhatikan kebutuhan orang lain. Ketika seseorang memperlakukan sesama dengan belas kasih, itu menciptakan ikatan sosial yang lebih kuat dan memberikan rasa kedamaian batin.

10. Menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama makhluk: Salah satu tujuan hidup yang memberikan kebahagiaan adalah menjadi bermanfaat bagi orang lain. Ketika seseorang memberikan kontribusi yang positif kepada masyarakat, baik melalui keterampilan, waktu, atau sumber daya, itu memberikan rasa pencapaian dan kepuasan yang mendalam. Menjadi sumber manfaat bagi sesama membantu menciptakan hubungan yang lebih bermakna dan memberikan tujuan yang berarti dalam hidup.

11. Banyak mengingat Mati adalah salah satu tanda kebahagiaan. "Tanda kebahagiaan" yang disebutkan di sini adalah konsep yang menarik, karena sering kali dalam berbagai tradisi spiritual atau filosofis, kesadaran akan kematian dianggap sebagai kunci untuk hidup yang bermakna dan bahagia.

Memahami bahwa kematian adalah bagian alami dari kehidupan dapat membantu seseorang untuk menghargai setiap momen yang dimiliki dan memberikan makna yang lebih dalam pada pengalaman hidup mereka. Kesadaran akan kematian juga dapat menjadi pemicu untuk melakukan introspeksi dan menilai prioritas dalam hidup.

Dalam banyak ajaran spiritual, mengingat kematian tidak hanya mempersiapkan seseorang untuk kehidupan setelah kematian, tetapi juga menginspirasi mereka untuk hidup dengan lebih baik di dunia ini. Hal ini karena kesadaran akan keterbatasan hidup mengingatkan seseorang untuk hidup dengan penuh kesadaran, menghargai hubungan, dan berkontribusi positif kepada sesama.

Jadi, jika "banyak mengingat mati" dianggap sebagai tanda kebahagiaan, itu mungkin karena kesadaran akan kematian membantu seseorang untuk hidup dengan lebih penuh, berarti, dan bahagia di dunia ini.

Semakin banyak seseorang mengembangkan tanda-tanda kebahagiaan ini dalam hidupnya, semakin besar kemungkinannya untuk mencapai kedamaian batin dan kebahagiaan yang sejati.

Tanda-tanda kecelakaan juga ada sebelas menurut Abu Laits As-samarqandi dalam kitabnya Tanbihul Ghafilin: Pertama. Rakus mengumpulkan harta dunia. Kedua. Hanya ingin memperturutkan syahwat dan keenakan-keenakan dunia. Ketiga. Ucapan kotor dan suka menggunjing orang.

Tanda-tanda kecelakaan atau bencana dalam konteks spiritual atau moral sering kali dicontohkan dalam berbagai ajaran atau tradisi agama. Apa yang kamu bagikan adalah tiga dari sebelas tanda-tanda kecelakaan menurut Abu Laits As-samarqandi. Jika kamu tertarik, saya bisa membantu menjelaskan tiga tanda lainnya atau memberikan informasi tambahan tentang konteks atau makna dari tiga tanda tersebut. Bagaimana pendapatmu?

1. Rakus mengumpulkan harta dunia.

Tanda pertama yang disebutkan, yaitu "rakus mengumpulkan harta dunia," menyoroti perilaku yang sangat terikat pada kekayaan materi. Orang yang terlalu terobsesi dengan pengumpulan harta cenderung melampaui batas moral dalam usahanya untuk mencapai tujuan tersebut. Mereka mungkin menjadi serakah, tidak perduli dengan cara mereka memperoleh kekayaan tersebut, dan bahkan mungkin mengorbankan nilai-nilai penting seperti kejujuran dan empati.

Penting untuk dicatat bahwa memiliki harta atau kekayaan itu sendiri bukanlah masalah, tetapi masalahnya adalah ketika seseorang menjadi terlalu terikat padanya hingga mengorbankan nilai-nilai moral atau kebahagiaan yang lebih besar. Keseimbangan antara memiliki kekayaan dan memperhatikan nilai-nilai spiritual dan sosial adalah kunci dalam menjalani kehidupan yang bermakna.

Dua tanda berikutnya, yaitu "hanya memperturutkan hawa nafsu dan cinta dunia" serta "ucapan kotor dan suka menggunjing orang," juga menggambarkan perilaku yang mengarah pada ketidakseimbangan spiritual dan moral.

2. Hanya memperturutkan hawa nafsu dan cinta dunia: Ini merujuk pada perilaku yang didasarkan semata-mata pada keinginan duniawi dan kepuasan diri sendiri. Orang yang terlalu memperhatikan hawa nafsu cenderung mengabaikan nilai-nilai moral, etika, dan tanggung jawab sosial mereka. Mereka mungkin melampaui batas-batas moral dalam upaya untuk memuaskan keinginan duniawi mereka, tanpa memikirkan konsekuensinya bagi diri mereka sendiri dan orang lain.

3. Ucapan kotor dan suka menggunjing orang: Ini mencerminkan perilaku yang merusak hubungan sosial dan moral. Ucapan kotor atau kasar dapat merusak keharmonisan dalam komunikasi dan menciptakan suasana yang tidak nyaman atau tidak aman bagi orang lain. Sementara menggunjing orang menunjukkan kurangnya penghargaan terhadap privasi dan martabat individu, serta bisa menyebabkan konflik dan keretakan dalam hubungan.

Kedua tanda ini menyoroti pentingnya mengendalikan nafsu dan menjaga etika dalam interaksi sosial. Dalam banyak tradisi spiritual, penting untuk memperhatikan kedua aspek ini untuk mencapai kedamaian dan kebahagiaan sejati.

Sedangkan yang keempat. Meremehkan shalat lima waktu. dan Kelima. bergaul dengan orang-orang yang durhaka.

Mengenai tanda keempat, yaitu "meremehkan shalat lima waktu," hal ini menunjukkan kurangnya kesadaran spiritual dan ketaatan terhadap kewajiban agama. Shalat lima waktu adalah salah satu kewajiban utama dalam agama Islam, yang memiliki peran penting dalam menghubungkan individu dengan Tuhan dan memperkuat ikatan spiritualnya. Meremehkan atau mengabaikan kewajiban ini menunjukkan ketidakpedulian terhadap hubungan spiritual seseorang dengan Tuhan dan mungkin mencerminkan prioritas yang salah dalam hidupnya.

Sementara itu, tanda kelima, yaitu "bergaul dengan orang-orang yang durhaka," menyoroti pentingnya lingkungan sosial dalam memengaruhi perilaku dan nilai-nilai seseorang. Bergaul dengan orang-orang yang tidak menjalani kehidupan sesuai dengan nilai-nilai moral atau agama dapat mempengaruhi seseorang untuk mengikuti jejak yang sama. Ini dapat mengarah pada perilaku yang bertentangan dengan prinsip-prinsip spiritual atau moral yang dipegang individu, serta meningkatkan risiko terjerumus ke dalam perbuatan yang tidak bermoral atau dosa.

Kedua tanda ini menunjukkan pentingnya memperhatikan baik kualitas hubungan sosial maupun ketaatan terhadap prinsip-prinsip agama dalam menjalani kehidupan yang bermakna dan berharga secara spiritual.

Keenam. Buruk budi pekerti. Ketujuh. Berlaku congkak lagi sombong. Kedelapan. Menolak manfaat dari sesama manusia.

Tanda keenam, yaitu "buruk budi pekerti," menunjukkan kurangnya kesadaran akan pentingnya memiliki akhlak yang baik dalam interaksi dengan orang lain. Buruknya budi pekerti dapat tercermin dalam perlakuan kasar, tidak sabar, tidak jujur, atau bahkan perilaku yang merugikan orang lain. Sikap tidak baik ini dapat merusak hubungan interpersonal dan menciptakan ketegangan dalam masyarakat.

Sementara itu, tanda ketujuh, yaitu "berlaku congkak lagi sombong," menyoroti perilaku yang sombong dan menganggap dirinya lebih tinggi atau lebih penting daripada orang lain. Orang yang bersikap congkak cenderung merendahkan orang lain dan kurang memiliki rasa hormat terhadap keberadaan dan pendapat mereka. Sifat sombong ini bisa menghalangi pertumbuhan pribadi dan menyebabkan ketegangan dalam hubungan sosial.

Tanda kedelapan, "menolak manfaat dari sesama manusia," menggambarkan sikap egois yang menolak atau tidak menghargai bantuan atau kontribusi yang ditawarkan oleh orang lain. Orang yang menolak manfaat dari sesama manusia mungkin terjebak dalam kesombongan atau merasa lebih baik daripada menerima bantuan dari orang lain. Sikap ini dapat menyebabkan isolasi sosial dan mempersulit proses pembangunan hubungan yang sehat dalam masyarakat.

Ketiga tanda ini menekankan pentingnya memiliki sikap yang baik, rendah hati, dan terbuka terhadap kontribusi positif dari orang lain dalam menjalani kehidupan yang bermakna dan harmonis.

Kesembilan. Sedikit belas kasihnya terhadap orang-orang yang beriman. Kesepuluh. Kikir dan ke-11. Tidak ingat mati.

Tanda kesembilan, yaitu "sedikit belas kasihnya terhadap orang-orang yang beriman," menyoroti kurangnya empati dan perhatian terhadap sesama, khususnya mereka yang memiliki keyakinan atau agama yang sama. Ini mencerminkan sikap egois yang tidak menghargai atau peduli terhadap keadaan orang lain, terutama mereka yang seharusnya menjadi bagian dari komunitas atau saudara seiman.

Tanda kesepuluh, "kikir," menunjukkan sikap serakah atau pelit dalam berbagi dengan orang lain. Orang yang kikir cenderung menahan diri dari memberikan atau berbagi dengan orang lain, bahkan jika mereka mampu melakukannya. Sikap ini mencerminkan ketamakan dan ketidakmampuan untuk menghargai pentingnya memberikan dukungan atau bantuan kepada mereka yang membutuhkan.

Sementara itu, tanda kesebelas, "tidak ingat mati," menggambarkan kurangnya kesadaran akan keterbatasan hidup dan akhirat. Orang yang tidak ingat akan kematian cenderung hidup tanpa memperhitungkan akhirat atau konsekuensi spiritual dari tindakan mereka di dunia ini. Sikap ini bisa menyebabkan seseorang terlena dalam kesenangan dunia semata dan mengabaikan persiapan untuk kehidupan setelah kematian.

Ketiga tanda ini menyoroti pentingnya memiliki sikap empati, kedermawanan, dan kesadaran akan akhirat dalam menjalani kehidupan yang bermakna dan bertanggung jawab secara moral dan spiritual. Salam dahsyat dan luar biasa!

Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Psikologi Pendidikan Pascasarjana UIT Lirboyo 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar