Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Refleksi Hari Kartini: Wanita, Emansipasi, dan Solusi Hakiki

Topswara.com -- Hari Kartini, yang selalu diperingati setiap tanggal 21 April setiap tahunnya memberikan sinyal tersendiri, khususnya bagi kaum perempuan. Seolah mendapat angin segar, peringatan ini selalu ditunggangi pihak-pihak tertentu untuk terus menyuarakan persamaan hak dan derajat kaum wanita. 

Bahkan peringatan Hari Kartini dijadikan ajang promosi ide feminisme dan kesetaraan gender. Berharap agar kaum perempuan dapat sejajar dengan kaum pria. Istilah emansipasi pun kian membuncah di ranah publik. Berbagai tuntutan kesetaraan gender menjadi isu hangat yang tak pernah habis dikupas.

Masalah Perempuan dalam Sistem Rusak

Tahun 2024, tidak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Momen hari Kartini diperingati di berbagai daerah dengan festival berbagai baju adat dan beragam seminar tentang perempuan. 

Tahun ini hari Kartini bertemakan Perempuan Hebat, Indonesia Maju! Bertujuan agar kehidupan perempuan jauh lebih baik dan lebih maju daripada masa-masa sebelumnya (detiknews.com, 20/4/2024). Diharapkan pula, perempuan menjadi salah satu kunci yang mampu mendobrak perekonomian dalam negeri.

Di tengah gempuran berbagai tekanan dan sistem rusak yang semakin sistematis membelenggu, akankah kemajuan kaum perempuan diraih dalam makna yang hakiki? Sementara fakta yang ada menyajikan berbagai penderitaan yang tidak henti-hentinya dialami perempuan. Kekerasan seksual, kekerasan rumah tangga, diskriminasi perlindungan hingga eksploitasi perempuan yang kian tidak terkendali.

Pemikiran Kartini dan Konsep Islam

Menilik dari sejarah Kartini, Kartini memiliki pemikran cerdas, yang selalu memikirkan kaum perempuan Indonesia yang menimbulkan keresahan tersendiri. Selalu bertarung dalam kerasnya ideologi. 

Hingga akhirnya yakin bahwa ideologi Islam- lah satu-satunya yang dapat menjaga kehormatan perempuan. Kartini senantiasa menjadikan syariat Islam sebagai sumber ketaatan. Karena yakin, hanya dengan Islam-lah kaum wanita menjadi cerdas dan mulia.

Banyak sekali surat-surat yang ditulis Kartini, salah satunya adalah sebagai berikut. Saat Islam sudah semakin dikenal oleh Kartini.

"Moga-moga kami mendapat rahmat dapat bekerja membuat umat agama lain memandang Islam patut disukai." (Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902).

Cendekiawan muslim, Prof. Daniel Mohammad Rosyid, Ph.D. M. RINA, menuturkan bahwa Kartini bukanlah penganut paham Barat (mediaumat.id, 21/4/2021). Kartini pun bukan penganut emansipasi atau ide feminisme.

Catatan sejarah membuka tabir. Bahwa Kartini adalah pejuang Islam yang senantiasa berharap dan berjuang agar wanita dapat sejahtera dalam naungan syariat Islam.

Ketetapan Allah SWT. menjelaskan, bahwa kaum lelaki adalah pemimpin bagi kaum perempuan. Dan posisi perempuan sebagai pendamping yang senantiasa mampu dipimpin sebagai bentuk ketundukan dan ketaatan pada syariat Islam.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, yang artinya

"Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh, adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Maha Tinggi, Maha Besar."
(QS. An-Nisa': 34)

Jelaslah, bahwa Kartini tidak pernah menyuarakan emansipasi, feminisme ataupun isu kesetaraan gender. Seperti yang sekarang selalu digemborkan. Konsep femisnisme dan kesetaraan gender, nyata-nyata bertentangan dengan syariat Islam. 

Namun, Kartini menyuarakan syariah Islam yang kaffah. Solusi hakiki yang dapat membangkitkan kaum muslimah. Mensejahterakan dan memuliakannya. 

Dengan Islam kaffah, kaum perempuan dapat terjaga kemuliaannya. Dengannya pula kaum perempuan dapat bangkit dalam makna yang sempurna, yakni sebagai hamba Allah SWT. yang senantiasa menjaga iman dan takwanya, serta mengoptimalkan potensinya sebagai ummu wa rabbatul bait. Sebaik-sebaik posisi yang Allah SWT. tetapkan bagi seluruh perempuan. 

Wallahu a'lam bisshawab. 


Oleh: Yuke Octavianty 
Forum Literasi Muslimah Bogor 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar