Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Jangan Tinggalkan Shalat!


Topswara.com -- Allah SWT berfirman:

۞فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْئًا  

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun,” (QS. Maryam (19): 59-60)

Sobat. Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa banyak di antara orang-orang datang kemudian sesudah meninggalnya para nabi dan rasul yang disebutkan pada ayat-ayat yang lalu, menyimpang dari jalan yang lurus, meninggalkan ajaran yang dibawa para rasul sebelumnya sehingga mereka tidak lagi mengerjakan salat dan selalu memperturutkan kehendak hawa nafsu dan dengan terang-terangan melanggar larangan Allah seperti meminum minuman keras, berjudi, berzina, dan mengadakan persaksian palsu. Mereka ini diancam oleh Allah dengan ancaman yang keras, kepada mereka akan ditimpakan kecelakaan dan kerugian baik di dunia maupun di akhirat. 

Sehubungan dengan ayat ini Abu Sa'id al-Khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: "Akan datang suatu generasi sesudah enam puluh tahun, mereka melalaikan salat dan memperturutkan hawa nafsu, maka orang-orang ini akan menemui kecelakaan dan kerugian. Kemudian datang lagi suatu generasi, mereka membaca Al-Qur'an tetapi hanya di kerongkongan (mulut) saja (tidak masuk ke hati) dan semua membaca Al-Qur'an, orang mukmin, orang munafik dan orang-orang jahat dan fasik (tidak dapat lagi dibedakan mana orang mukmin sejati dan mana orang yang berpura-pura beriman)." (Riwayat Ahmad, Ibnu hibban dan al-hakim)

Kemudian Rasulullah membaca ayat ini (sebagaimana tersebut di atas). 'Uqbah bin `Amir meriwayatkan pula bahwa aku mendengar Rasulullah bersabda: "Akan rusak binasalah sebahagian dari umatku yaitu "Ahlul Kitab" dan "Ahlullaban". Aku bertanya, "Siapakah "Ahlul Kitab" wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Mereka ialah orang-orang yang mempelajari Al-Qur'an untuk berdebat dengan orang-orang mukmin." "Lalu siapa pula "Ahlullaban" itu?" Rasulullah menjawab, "Mereka ialah orang-orang yang memperturutkan hawa nafsu dan meninggalkan shalat." (Riwayat Ahmad dan al-hakim dari 'Uqbah bin 'Amir al-Juhhani)

Demikian nasib orang-orang yang melalaikan shalat dan memperturutkan hawa nafsu dan menyia-nyiakannya, mereka pasti merugi meskipun yang mereka derita tidak dapat dilihat dengan mata dan pasti akan menerima balasan yang setimpal di akhirat kelak. Di sini tampak dengan jelas bahwa salat yang telah menjadi syariat semenjak Nabi Ibrahim adalah amat penting sekali dan tidak boleh disia-siakan apalagi ditinggalkan. Diriwayatkan bahwa Nabi 

Muhammad saw bersabda: "Shalat itu adalah tiang agama. Barang siapa yang mendirikannya maka ia telah menegakkan agama, dan barangsiapa yang meninggalkannya maka ia telah meruntuhkan agama." (Riwayat al-Baihaqi dari Umar r.a.)

Sobat. Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa orang tersebut pada ayat 59 bila mereka bertobat dan kembali mengerjakan amal yang saleh maka Allah akan mengampuni dosa mereka dan akan dimasukkan ke dalam surga dan mereka tidak akan dirugikan sedikitpun. Demikianlah ketetapan Allah Yang Mahaadil, Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Meskipun seseorang telah berlarut-larut terjerumus ke dalam jurang kemaksiatan karena tertipu dan teperdaya dengan kelezatan duniawi yang fana, tetapi bila mereka insaf dan kembali ke jalan yang benar dan bertobat kepada Allah sebenar-benar tobat Allah akan menerima tobat mereka dengan ketentuan dan syarat-syarat yang diterangkan pada ayat-ayat lain.

Sobat. Kata Al-Ghayyu dalam ayat 59 Wahab bin Munabbih menjelaskan Al-Ghayyu ialah sebuah sungai yang dalam di neraka jahannam, berlantai dalam, panas luar biasa, tidak enak rasanya. Sekiranya ada setetes dari sungai itu menetes ke dunia niscaya binasalah penghuni dunia seluruhnya. 

Sedangkan Ibnu Abbas mengatakan, Al-Ghayyu adalah sebuah lembah dalam neraka jahannam, sedang lembah-lembah lainnya di sana meminta dihindarkan daripadanya setiap harinya seribu kali kepada Allah SWT karena sangat panasnya. Lembah itu disediakan untuk orang yang meninggalkan shalat dan jamaah.

Sobat. Imam Al-Ghazali, seorang cendekiawan Islam ternama dari abad ke-11, memiliki pandangan yang sangat tegas tentang bahaya meninggalkan sholat dan memperturutkan hawa nafsu. Menurutnya, meninggalkan sholat adalah salah satu tindakan yang paling merugikan bagi seorang Muslim, karena shalat merupakan kewajiban yang paling mendasar dalam agama Islam.

Al-Ghazali percaya bahwa sholat adalah sarana utama untuk berkomunikasi dengan Allah, untuk menghilangkan kegelapan dari jiwa, dan untuk memperoleh kebahagiaan sejati. Oleh karena itu, meninggalkan sholat dapat menyebabkan seseorang terpisah dari Allah, kehilangan arah spiritual, dan terjebak dalam kesesatan.
Selain itu, Imam Al-Ghazali juga menegaskan bahwa memperturutkan hawa nafsu adalah tindakan yang sangat berbahaya. Hawa nafsu cenderung mengarahkan manusia kepada keinginan duniawi yang bersifat sementara dan mengabaikan kepentingan akhirat. Membiarkan hawa nafsu memimpin hidup dapat mengakibatkan kesesatan, kesengsaraan, dan kehancuran spiritual.

Oleh karena itu, menurut Al-Ghazali, bahaya meninggalkan shalat dan memperturutkan hawa nafsu adalah dua hal yang saling terkait. Keduanya dapat mengarahkan seseorang ke jalan yang sesat dan menjauhkannya dari kebenaran dan kebahagiaan sejati dalam agama Islam.

Apa Saja Bahayanya Meninggalkan Shalat Itu?

Meninggalkan shalat memiliki beragam bahaya, baik dari segi spiritual, mental, maupun sosial. Beberapa bahaya utama yang dapat timbul akibat meninggalkan shalat antara lain:

1. Kehilangan Koneksi Spiritual: Sholat adalah ibadah utama dalam Islam yang memungkinkan seorang Muslim berkomunikasi langsung dengan Allah. Meninggalkan sholat berarti kehilangan kesempatan untuk memperkuat ikatan spiritual dengan Sang Pencipta.

2. Penurunan Kualitas Iman: Sholat adalah salah satu pilar utama iman dalam Islam. Dengan meninggalkan sholat secara terus-menerus, iman seseorang bisa melemah dan bahkan menghilang, karena sholat merupakan wujud ketaatan kepada perintah Allah.

3. Kehilangan Ketenangan Batin: Shalat merupakan cara untuk menenangkan pikiran dan jiwa. Dengan meninggalkan sholat, seseorang dapat merasakan kegelisahan, kebingungan, dan kekosongan batin karena kehilangan momen refleksi dan kontemplasi yang disediakan oleh shalat.

4. Menjadi Rentan terhadap Dosa: Meninggalkan kewajiban sholat dapat membuka pintu bagi perilaku dosa lainnya. Seseorang yang tidak menjalankan shalat cenderung lebih rentan terhadap godaan nafsu dan kemungkinan melakukan perbuatan dosa.

5. Penyimpangan dari Jalan yang Benar: Shalat tidak hanya membawa manfaat spiritual, tetapi juga memberikan pedoman hidup yang benar dan membantu seseorang menjaga akhlak yang baik. Dengan meninggalkan shalat, seseorang dapat tersesat dari jalan yang benar dan berpotensi terjerumus ke dalam kesesatan.

6. Pengaruh Sosial Negatif: Masyarakat Islam umumnya menghargai praktik sholat sebagai tanda ketaatan dan kepatuhan terhadap agama. Meninggalkan sholat bisa menyebabkan seseorang dijauhi atau dianggap rendah oleh masyarakat, serta dapat merusak reputasi dan hubungan sosial.

Secara keseluruhan, meninggalkan shalat bukan hanya merupakan pelanggaran terhadap ajaran agama, tetapi juga membawa konsekuensi negatif yang luas bagi kehidupan spiritual, mental, dan sosial seseorang.

Bahaya Apa Saja Jika Memperturutkan Hawa Nafsu Itu?

Memperturutkan hawa nafsu memiliki banyak bahaya yang dapat berdampak negatif pada individu dan masyarakat. Beberapa bahaya utama yang dapat timbul akibat memperturutkan hawa nafsu antara lain:

1. Kehilangan Kendali Diri: Hawa nafsu cenderung mendorong seseorang untuk bertindak impulsif dan tidak terkendali. Memperturutkan hawa nafsu dapat menyebabkan seseorang kehilangan kendali atas dirinya sendiri dan melakukan tindakan-tindakan yang merugikan baik bagi dirinya maupun orang lain.

2. Penurunan Moralitas: Hawa nafsu sering kali mengarahkan individu untuk memenuhi keinginan dan nafsu duniawi tanpa memperhatikan nilai-nilai moral atau etika. Hal ini dapat mengakibatkan penurunan moralitas dan integritas pribadi, serta meningkatkan kemungkinan melakukan perbuatan dosa atau tidak bermoral.

3. Ketergantungan pada Kesukaan Dunia: Hawa nafsu cenderung fokus pada kepuasan duniawi yang bersifat sementara dan seringkali berlebihan. Memperturutkan hawa nafsu dapat menyebabkan seseorang menjadi terlalu terikat pada kesenangan materi dan kepuasan jasmani, sehingga mengesampingkan kepentingan spiritual dan akhirat.

4. Kesulitan Mencapai Tujuan: Memperturutkan hawa nafsu dapat menghalangi seseorang dari mencapai tujuan-tujuan yang lebih besar dalam hidupnya. Ketika seseorang terlalu fokus pada keinginan dan kesenangan sesaat, mereka mungkin kehilangan fokus dan motivasi untuk mencapai tujuan jangka panjang yang lebih bermakna.

5. Kerugian dalam Hubungan Sosial: Memperturutkan hawa nafsu dapat menyebabkan konflik dalam hubungan interpersonal. Seseorang yang terlalu egois dan hanya memperhatikan keinginan pribadinya sendiri cenderung sulit untuk menjaga hubungan yang sehat dan harmonis dengan orang lain.

6. Kehilangan Keseimbangan Hidup: Hawa nafsu yang tidak terkendali dapat mengganggu keseimbangan hidup seseorang. Mereka mungkin mengorbankan kesehatan fisik, emosional, atau spiritual mereka demi memenuhi keinginan sesaat, yang pada akhirnya dapat menyebabkan stres, kecemasan, atau depresi.

Secara keseluruhan, memperturutkan hawa nafsu dapat membawa dampak negatif yang signifikan pada kehidupan individu, termasuk dari segi moral, spiritual, sosial, dan psikologis.

Sobat. Suatu hari baginda Rasulullah SAW menyebut-nyebut soal sholat, maka sabdanya: “Barang siapa memelihara shoalat, maka shoalat itu akan menjadi cahaya baginya, bukti dan keselamatan pada hari kiamat. Dan barangsiapa tidak memeliharanya, dia tidak memperoleh cahaya, bukti maupun keselamatan. Sedang pada hari kiamat ia bersama Firaún, Qarun, Haman dan Ubay ibn Khalaf.” (Syarah Al-Maniyah oleh Al-Halabi)

Pernyataan tersebut menggambarkan pentingnya menjaga shalat dalam kehidupan seorang Muslim. Shalat bukan hanya sekadar kewajiban ritual, tetapi juga merupakan sumber cahaya, bukti keimanan, dan jaminan keselamatan di hari kiamat.

1. Cahaya: Shalat dipandang sebagai sumber cahaya spiritual bagi seorang Muslim. Dengan menjaga shalat secara konsisten, seseorang akan diberikan cahaya yang menerangi jalan hidupnya, membimbingnya menuju kebenaran dan kebahagiaan spiritual.

2. Bukti Keimanan: Shalat adalah bukti konkret dari keimanan seseorang kepada Allah. Dengan memelihara shalat, seseorang menunjukkan kesetiaannya kepada agama Islam dan kepatuhannya terhadap perintah Allah. Sebaliknya, meninggalkan shalat dapat menjadi indikasi kelemahan iman seseorang.

3. Keselamatan pada Hari Kiamat: Shalat juga dianggap sebagai jaminan keselamatan di hari kiamat. Dengan menjaga shalat, seseorang mendapatkan perlindungan dari siksaan Allah dan diberikan tempat yang mulia di surga. Namun, bagi yang meninggalkan shalat, mereka berisiko menghadapi azab dan hukuman di akhirat.

Pernyataan tersebut juga mencerminkan konsekuensi yang serius bagi mereka yang tidak memelihara shalat. Dengan menyamakan nasib mereka dengan tokoh-tokoh seperti Firaun, Qarun, Haman, dan Ubay ibn Khalaf, yang secara tradisional dianggap sebagai contoh kefasikan dan kekafiran, disampaikan bahwa meninggalkan sholat dapat membawa seseorang menuju kehancuran spiritual dan kehilangan keselamatan di akhirat.

Dengan demikian, pernyataan ini menegaskan pentingnya menjaga sholat sebagai fondasi utama dalam kehidupan seorang Muslim, serta mengingatkan akan konsekuensi yang serius bagi mereka yang mengabaikan kewajiban ini.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar