Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Istiqamah Taat Sesudah Ramadhan

Topswara.com -- Pisah dengan Ramadhan sungguh amat berat. Bagaimana tidak? Bulan ini telah menjadi ajang penggemblengan iman dimana banyak kaum Muslim berupaya memperbaiki sendirinya untuk menjadi sebaik-baik manusia menuju manusia yang lebih mulia dengan ketakwaannya.

Bahkan dunia sekuler juga seakan-akan berpihak pada momentum ini. Suasana Ramadhan membawa sisi ruhiyah kedekatan pada Allah Ta'ala, terkadang mengalihkan dan mengalahkan kepentingan duniawi. 

Sungguh sedih berpisah dengan bulan yang malam dan siangnya adalah ibadah taqarrub ilallah mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sehingga juga terdapat malam yang lebih baik dari malam seribu bulan. 

Oleh karena itu, semestinya kerinduan suasana Ramadhan selalu membawa tiap Muslim untuk menghidupkannya di hari-hari dan malam-malam selanjutnya sepanjang tahun hingga berjumpa lagi dengan Ramadhan di tahun berikutnya, jika Allah SWT mengizinkan. 

Namun bila Allah SWT tidak memperkenankan kita menghirup harum udara Ramadhan di tahun berikutnya semoga kelak Allah SWT memberikan tempat di Jannah-Nya sebagai janji-Nya bagi para shaimun.

Tetapi jangan lupa rangkaian amal sepanjang Ramadhan tidak cukup membatasi diri dengan ibadah mahdah saja, namun hendaknya melakukan segala ketaatan dan yang utama adalah melaksanakan ketaatan demi perwujudan tajul furudh (mahkota kewajiban), yaitu mendirikan khilafah islamiah.

Abu Said al-Khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda,
"Siapa yang berpuasa Ramadhan, mengetahui batas-batasnya, dan menjaga apa yang sepatutnya ia jaga, maka Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu" [Diriwayatkan oleh Baihaqi di dalam Sunan Baihaqi, Kitab ash-Shiyam, Bab fi Fadhli Syahri Ramadhana wa Fadhli ash-Syiami 'ala Sabilil-Ikhtishar, jilid IV hlm. 305; dan Ahmad di dalam Musnad Ahmad, jilid III, hlm. 55.].

Dengan menjaga semangat Ramadhan untuk taat termasuk dalam melakukan amar makruf nahi mungkar, mendakwahkan Islam kaffah, menempa semangat perjuangan untuk menyampaikan kebenaran sekalipun belum direspons baik oleh umat jelas termasuk upaya untuk menjaga hududallah ketentuan-ketentuan syariat yang ditetapkan Allah SWT dan disunahkan Rasulullah SAW. Inilah keistiqamahan kita tegak atas amalan salih hingga kalimat-Nya juga terwujud di muka bumi sebagai cerminan ketakwaan kita.

Dengan begitu, kita bisa menjadi seperti yang digambarkan Allah SWT dalam Al-Qur'an surah Al-Ahqaf ayat 13,

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۚ 

Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian tetap istikamah, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak (pula) bersedih.

Ketakwaan yang harus kita pelihara bukan hanya terkait ketakwaan dari aspek individu saja, tetapi ketakwaan dari segala aspek kehidupan, mulai dari hubungan kita dengan Allah, dengan diri sendiri juga ketika bermuamalah atau berhubungan dengan orang lain. 

Jadi, pasca Ramadhan kita harus terus menjaga keyakinan kita kepada Allah SWT, menjalankan ibadah shalat, puasa sunnah, juga selalu mengingatkan diri kita dengan aturan Allah SWT yang lain, seperti tetap menutup aurat, tetap memilih makanan yang halal dan thayyib, tidak memakan riba, tidak bergaul bebas, tidak berjudi, meminum minuman keras dan seterusnya.

Memang saat ini umat Islam kesulitan untuk bisa menjalankan semua aturan Islam yang berkaitan dengan muamalah. Karena memang untuk muamalah ini pelaksanaannya membutuhkan peran negara, contohnya kita ingin generasi muda sekarang terdidik dengan pendidikan yang islami, namun sistem yang ada justru memfasilitasi generasi muda untuk menjadi generasi yang sekuler bahkan liberal. 

Oleh karena itu, generasi Muslim yang sudah memiliki kesadaran untuk terikat dengan aturan Allah SWT dalam semua lini kehidupan harus berupaya sekuat tenaga untuk istiqamah dalam ketaatan. Bentuk total ketaatannya adalah dengan selalu melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah SWT serta terlibat dalam melakukan perjuangan mewujudkan kehidupan yang ideal dalam sistem khilafah islamiyah. 

Hanya sistem inilah yang akan menerapkan seluruh hukum-hukum Islam. Dalam sistem khilafahlah keistiqamahan dalam ketaatan akan terus terjaga. []


Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar