Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Gim Online, Membawa Dampak Buruk Terhadap Anak

Topswara.com -- Sejak menjamurnya gim online, kasus kriminal pada anak, seperti pornografi, perdagangan orang, pembunuhan hingga kasus kriminal lainnya meningkat tajam. Menurut Komisioner KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia), Kawiyan, hal ini disebabkan oleh paparan konten-konten pornografi dan kekerasan yang ada di gim online. 

Gim online yang bergenre battle royals, seperti Free fire dan Mobil legend. Oleh karenanya, Kawiyan meminta kepada pemerintah dan masyarakat untuk berperan aktif dengan men-takedown, membatasi dan mengawasi dengan ketat saat anak-anak bermain gim online. 

Menanggapi hal tersebut, Menkominfo (Menteri Komunikasi dan Informasi), Budi Arie Setiadi mengatakan, siap memblokir gim-gim online tersebut apabila terbukti bermuatan kekerasan dan pornografi. 

Budi Arie juga meminta agar masyarakat dapat melaporkan gim-gim yang bermuatan pornografi dan kekerasan dengan melampirkan screenshot dan mengirimnya ke kanal aduankonten.id. (katadata.co.id,12/4)

Dampak buruk yang terjadi pada anak-anak akibat gim online, menunjukkan bahwa adanya ketidakseriusan negara dalam mengatasinya. Pandangan Kapitalisme yang menjadi dasar pengelolaan negara adalah sebabnya. Karena asas manfaat, lahirlah aturan dan kebijakan yang justru memperparah keadaan. 

Demi pajak, gim-gim online dijadikan salah satu instrumen penarik pajak. Maraknya gim-gim online seolah industri yang bernilai ekonomis. Padahal, dalam Islam, mengisi waktu dengan bermain gim online maupun offline, adalah kesia-siaan. Apalagi gim online yang sudah jelas nyata dampak buruknya. 

Rasulullah Muhammad SAW berpesan, "Barang siapa yang hari ini amalnya lebih baik dari hari kemarin, maka beruntunglah ia. Barangsiapa yang amalnya sama dengan kemarin, maka rugilah ia. Barangsiapa yang amalnya lebih buruk dari hari kemarin maka celakalah ia." (HR. Al Hakim).

Dari pesan Rasulullah inilah, seharusnya pemerintah, sebagai penanggung jawab rakyat termasuk anak-anak, untuk mengondisikan agar mereka selalu memanfaatkan waktunya dengan sebaik-baiknya. 

Era digitalisasi akan dimanfaatkan untuk memperbaiki kualitas generasi, dengan mendorong hadirnya konten-konten motivasi dan inspirator kebaikan, tentu menurut sudut pandang Islam bukan sekulerisme kapitalisme. Untuk menyemarakkan, pemerintah juga dapat memberi reward kepada creator dan inspirator kebaikan. 

Pemerintah, dengan kekuasaan dan kewenangannya akan melindungi moral dan kepribadian generasi dengan menutup segala akses pada konten negatif, seperti pornografi dan kekerasan, juga memberi sanksi kepada creator juga inspiratornya. Dengan ini, generasi akan semakin bertambah, dari keilmuan juga semangat dalam beramal kebaikan.

Mengingat produsen gim online bersifat global, karena kecanggihan teknologi pula, akan banyak gim online baru yang bermunculan. Ibarat pepatah "Mati satu tumbuh seribu", upaya pemerintah untuk men-takedown satu situs gim online, akan diikuti banyak gim-gim online lainnya yang bermunculan. Hal ini wajar, karena asas manfaat yang dikejar oleh para produsen gim online. 

Maka pemerintah dapat bekerja sama dengan negara lain untuk aktif pula melindungi generasinya dari dampak buruk gim online. 

Asas sekuler kapitalisme yang menjadi inspirator para produsen gim online, sudah saatnya ditinggalkan. Dengan menggunakan asas manfaat, kemajuan teknologi tak berkorelasi pada peningkatan keimanan dan ketakwaan seseorang. 

Tipisnya iman, dengan melalaikan aturan agama, membuat kemajuan teknologi nirmanfaat, bahkan menjerumuskan pelakunya pada perilaku jahat, pelanggaran, dan kriminalitas. 

Mereka, para produsen, distributor dan konsumennya jadi tak takut dosa. Yang ada dibenak mereka hanyalah kebahagiaan palsu dengan menumpuk-numpuk harta dan meluapkan hawa nafsu yang merusak.

Era digitalisasi, sebagai hasil dari kemajuan teknologi, tidak dapat dihindari. Allah memberi kemampuan pada otak manusia untuk berpikir, berkreasi dan mengembangkannya. 

Banyak sekali ayat Al-Qur'an yang memberi penghargaan kepada orang-orang yang memanfaatkan potensi berpikirnya. Maka sangatlah wajar jika hari ini lahir teknologi baru yang tidak ada sebelumnya.

Islam menunjukkan kepada manusia agar senantiasa berbuat baik dan berlomba-lomba menuju kebaikan. Digitalisasi akan dimanfaatkan untuk kebaikan pula. Negara akan memanfaatkan sosial media untuk membentuk kepribadian generasi muslim, mempertahankannya, dan melindungi agar tetap terjaga. 

Negara juga akan memanfaatkan teknologi untuk kemudahan menjalankan Syari'at Islam. Misalnya untuk menghitung zakat mal para wajib zakat. Juga untuk mengumpulkan, menghitung, dan mendistribusikan harta zakat secara global. 

Juga dimanfaatkan untuk melakukan koordinasi dalam rangka menentukan awal dan akhir Ramadhan secara global. Negara, melalui kemajuan teknologi pula dapat memfasilitasi generasi dalam mengembangkan imajinasi islami.

Hanya negara yang berbasis Islam lah yang secara bijaksana memanfaatkan kemajuan teknologi. Era digitalisasi bukan untuk dihindari tetapi untuk dimanfaatkan demi meraih kebahagiaan sejati. Negara Islam menyadari betapa besar tanggung jawabnya dalam menjaga rakyatnya dari dosa dan keburukan. 

Oleh karenanya, kesempatan duduk di kursi kekuasaan akan dimanfaatkan demi mendulang pahala sebanyak-banyaknya, dengan memberi edukasi bagaimana cara memanfaatkan teknologi, juga mengeluarkan aturan dan kebijakan yang sejalan dengan syariat Islam, termasuk sanksi tegas yang menjerakan. Juga mengajak setiap negara untuk mengambil Islam sebagai benteng dari efek buruk era digitalisasi. 

Wallahu a'lam bi Ash-Shawab.


Oleh: Aulia Rahmah
Kelompok Penulis Peduli Umat
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar