Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Menimba Ilmu untuk Terangi Duniamu

Topswara.com -- Ilmu adalah cahaya. Ungkapan Imam Syafi’I ini mengingatkan kita akan keutamaan ilmu. Kebayang enggak kalau dari kecil kita tidak diajarkan kemampuan dasar membaca, menulis, dan berhitung yang menjadi pintu masuk ilmu. Pastinya ketika besar kita akan kerepotan menyelesaikan banyak masalah karena minimnya ilmu.

Sama halnya kalau kita tiba-tiba dikirim ke negeri Cina untuk menimba ilmu. Tetapi sebelumnya nggak pernah belajar bahasa Cina. Setibanya di Beijing cuman bisa PPKM alias Planga Plongo Kaya Monyet. Komunikasi dengan pribumi cuman bisa pakai bahasa isyarat. Berusaha membaca berbagai petunjuk jalan dan nama toko, ngeliat tulisannya aja udah pusing. Bahasanya beda server. 

Lain cerita kalau sebelumnya kita sering nonton film lawas Jet Lee dan Rosamund Kwan, Once Upon a Time in Cina. Atau sengaja belajar bahasa dan tulisan Cina. Tentu bukan perkara sulit untuk menimba ilmu di negeri Panda itu. Seperti itulah pentingnya ilmu yang menjadi cahaya dalam kehidupan kita. 

Tidak heran jika Allah SWT memberikan keistimewaan kepada mereka yang getol menimba ilmu dengan meninggikan derajatnya. “Wahai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Mujadilah : 11)

Untuk itu, Islam mewajibkan umatnya untuk menimba demi menerangi kehidupan dunia akhirat kita. ”Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat, maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu”. (HR. Turmudzi).

Kalau kita masih lalai bin malas-malasan dalam menimba ilmu baik di sekolah, di rumah, atau di tempat pengajian, asli rugi banget. Bukan kebahagiaan hidup yang didapat, malah kenestapaan sepanjang masa. Jalan hidup kita muter-muter tak tentu arah. Gelap gulita. Tidak ada sinyal. Tidak ada kuota. Low battery. Selagi ada kesempatan, kenali Islam lebih dalam yang akan menerangi jalan hidup kita. Getol ngaji tanpa tapi tanpa nanti. 

Ikat Ilmu Jangan Kasih Kendor! 

Dalam Islam, kita diajarin kalau menimba ilmu bukan untuk konsumsi pribadi. Tetapi diajarkan ke orang lain agar bermanfaat dan menjadi ladang pahala. 
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sampaikanlah petunjuk dariku meskipun satu ayat dan ceritakanlah tentang Bani Israil dan tidak mengapa. Dan barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaknya dia menempatkan tempat duduknya dari api neraka.” (HR. Bukhari Muslim).

Sebelum mengajarkannya pada orang lain, penting bagi kita untuk mengikat ilmu biar enggak gampang lupa. Caranya, dengan menuliskan ilmu yang didapat sekaligus menyampaikan ke orang lain sebagai bentuk dakwah bil qolam.  

Tidak sekedar merangkai kata, tetapi mampu menembus jutaan kepala dan menggerakkan massa. Seperti itulah seharusnya kita sebagai remaja muslim mengasah kemampuan menulis. Karena Setiap tetes tinta seorang penulis adalah darah bagi perubahan peradaban.

Tulisan kita enggak mesti sama dengan buah tangan Mahatma Gandhi yang tulisannya mampu menyatukan 59 suku bangsa, 200 juta kepala dan meredam perbedaan antar agama, kemudian menginspirasi rakyat melawan kolonialisme Inggris.

Atau harus setara dengan novel Max Havelaar (1860) karya Edward ‘Mutatuli’ Douwes Dekker yang mengubah pandangan masyarakat Indonesia saat itu sehingga menjadi lebih berani menentang kebijakan tanam paksa yang dilakukan oleh Belanda.

Biarkan jari kita menari merangkai kata yang mudah dimengerti oleh sesama besti. Bahasa percakapan yang menghibur, dekat dengan keseharian remaja dan mudah dicerna. Sebagaimana nasihat Sayidina Ali bin Abi Thalib dalam berdakwah, "Berbicaralah dengan manusia sesuai dengan tingkat pemahaman mereka. Apakah kalian ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan?" 

Agar kita bisa belajar menulis bermuatan dakwah, mulailah dengan membaca buku seputar kepenulisan. Diantaranya, Dunia Kata karya M. Fauzil Adhiem, Menjadi Penulis Hebat karya Oleh Sholihin, Biarkan Jemari Menari karya Adi Wijaya, atau Melawan dengan Pena karya Abay (Syarbaini Abu Hamzah). Semuanya mengalirkan energi positf yang mampu mendongkrak semangat untuk tetap dan terus menulis. 

Lalu, camkan nasihat dari Sayyid Qutub, Satu peluru hanya dapat menembus satu kepala, tetapi satu tulisan dapat menembus ratusan hingga ribuan kepala. Nasihat ini melecut diri yang tengah mager untuk komitmen menekuni dunia kepenulisan. 

Selanjutnya, evaluasi diri yang berhubungan dengan masa depan akhirat. Ingat, tulisan dakwah adalah salah satu jalan untuk mengumpulkan pahala yang terus mengalir dari sekian banyak yang membacanya. Bisa dibilang inilah passive pahala walau kita sudah tiada. 

Terakhir, tampar diri kita dengan kata-kata, “Jika kamu tak pandai berorasi, tak kuat memanggul senjata, tak piawai membuat kontent sosial media, maka segeralah merangkai kata demi menembus jutaan kepala. Niscaya jalan kemuliaan akan selalu terbuka!”

Ini waktunya untuk kembali mengobarkan semangat menulis agar para pembaca remaja semakin mengenal Islam lebih dalam. Demi membekali generasi muda Islam dari serangan pemikiran dan serangan budaya sesat dan menyesatkan. Demi melahirkan remaja muslim yang memperkuat barisan para pejuang kebangkitan Islam. Jika bukan kita, siapa lagi. Jika bukan sekarang, kapan lagi. It is time!


Oleh: Guslaeni Hafid 
Aktivis Dakwah
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar