Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Mengenal Selingkung dari Jurnalis Senior


Topswara.com -- Gaya selingkung dalam Bahasa Indonesia mungkin sudah tidak asing bagi sebagian orang. Namun, tidak sedikit pula yang belum mengenal apa itu gaya selingkung. Betapa beruntungnya mahasiswa Coacing with Om Joy (CWOJ) angkatan pertama. Mereka bukan hanya mendapat ilmu tentang struktur dan teknik pembuatan straight news (berita lugas), tetapi juga mendapat ilmu kepenulisan yang lainnya.

Seperti pada Jumat, 12 Februari 2021, misalnya. Ketiga puluh lima mahasiswa CWOJ I ini mendapat tambahan ilmu tentang gaya selingkung, dengan diskusi langsung bersama Joko Prasetyo, jurnalis senior tabloid Media Umat. 

Pagi-pagi pukul 07.53 WIB, Om Joy -- begitu sapaan akrabnya -- sudah membagikan sebuah contoh straight news dari media kenamaan Tanah Air untuk bahan diskusi.

"Dokter, lo ... kalau anak SD, sih, wajar. He ... he ... Tapi, kita fokus ke kata 'phobia' saja, ya," tulis Om Joy di WhatsApp Group CWOJ I, sambil menyertakan tautan berita berjudul "VIDEO: Phobia Jarum Suntik, Dokter Histeris saat Divaksin."

"Bagaimana pendapat teman-teman bila kata tersebut dikaitkan dengan KBBI dan PUEBI?" tanya Om Joy mengawali diskusi. 

"Bakunya fobia. Tidak bakunya fobi. Seperti Om Joy sering bilang, analisa, padahal bakunya analisis," jawab Reni, salah seorang mahasiswi dengan cepat. 

Amahmuna, juga mahasiswi menjawab, "Fobia, Om, yang benar kalau menurut saya. Berati ini judul yang salah. Kepenulisannya tidak sesuai KBBI."

Suasana diskusi mulai ramai. WhatsApp Group sebagai pilihan ruang diskusi kali ini amat memudahkan peserta mengikuti jalannya diskusi kapan saja. Lebih fleksibel karena peserta bisa menyesuaikan dengan aktivitas masing-masing. 

Hingga sore diskusi mahasiswa dan para dosen pembimbing masih ramai, meskipun mulai melebar ke berbagai topik pembicaraan.

Om Joy lantas mengarahkan diskusi kembali pada topik utama yang ia sajikan. Jurnalis sarat pengalaman itu kemudian menjelaskan, "Fobia (KBBI). Phobia (Bahasa Inggris). Konsekuensinya, kalau menulis pakai bahasa selain KBBI, ya, harus dimiringkan, termasuk ketika menggunakan kata phobia, kecuali kata tersebut dijadikan gaya selingkung oleh media tersebut." 

Ia memperjelas dengan contoh. Menurutnya, kata islamophobia harus ditulis dengan huruf miring karena merupakan kosa kata bahasa Inggris. Sementara bila sesuai KBBI, ditulis islamofobia (tidak dengan huruf miring). 

"Sebelum frasa islamophobia diadaptasi/diserap KBBI menjadi kata islamofobia, saya biasa menerjemahkannya menjadi frasa fobia Islam. Setelah KBBI memasukan islamofobia menjadi kata baku, saya kadang pakai kata islamofobia, kadang juga tetap menggunakan frasa fobia Islam. Karena, menurut saya, sih, maknanya sama saja," terangnya. 

Om Joy lalu membenarkan pernyataan Reni bahwa selingkung itu adalah alternatif sebuah media untuk membumikan suatu istilah asing yang belum masuk KBBI. Ia menambahkan, gaya selingkung juga digunakan ketika menyebut kata yang pengucapannya sama, tetapi hurufnya beragam. Menurutnya, dalam hal ini media mesti memilih salah satunya. 

"Misal: Muamar Khadafi (Media Umat cetak); Muamar Qadafi (media lain). (Gaya selingkung) bahkan, digunakan juga dengan sengaja untuk menyelisihi KBBI. Semuanya dikatakan gaya selingkung selama penggunaannya konsisten," tutur Om Joy.

Menanggapi pertanyaan Reni berikutnya tentang mengapa media harus selingkung (menggunakan kosa kata tak baku) ketika sudah diadopsi di KBBI, menurut Om Joy, hal itu bisa saja dilakukan karena sengaja ingin menyelisihi KBBI atau bisa jadi karena menganggap yang di KBBI keliru. 

"Misalnya: Kalbu (KBBI). Qalbu (kaidah internasional). Ada media yang sengaja memilih qalbu dengan anggapan kalau kalbu itu artinya bukan hati, tetapi anjing. Sedangkan media yang memilih sesuai KBBI, yakni menggunakan kata kalbu beranggapan anjing itu kan makna dalam bahasa Arab, dalam bahasa Indonesia kalbu, ya, bermakna hati," imbuh Om Joy. 

Meramaikan diskusi, Dosen Pembimbing (dosbing) Ahmad Muit menambahkan pertanyaan tentang membedakan bahasa selingkung dengan bahasa yang tidak baku. 

"Dilihat dari niat dan kekonsistenan media tersebut dalam menggunakan kata dimaksud. Kalau diniatkan menyalahi KBBI atau konsisten seperti itu terus, itu namanya gaya selingkung," jawab Om Joy. 

"Selingkung sama dengan transliterasi ya, Om?" tanya Sapta.

Pertanyaan ini pun langsung mendapat jawaban dari sang dosen. Menurut Om Joy, selingkung bukan transliterasi. Akan tetapi, kata yang diadopsi oleh media, meskipun bertentangan dengan KBBI tetap tidak ditulis dengan huruf miring. 

"Transliterasi hanyalah salah satu cara atau asal-usul dari kata yang digunakan sebagai gaya selingkung saja," ujar Om Joy. 

Sementara, untuk penulisan kata asing yang ditambahkan imbuhan, Om Joy mengingatkan agar memberikan tanda strip (-) sebagai pemisah. Dapat pula dibahasaindonesiakan. Misalnya, men-download jadi mengunduh, ber-fastabiqul khoirot menjadi berlomba-lomba dalam kebaikan.

"Dalam sudut pandang bahasa jurnalistik Indonesia, tentu saja yang lebih baik dibahasaindonesiakan, kecuali memang belum ada di KBBI maka menggunakan cara seperti ini," pungkasnya.[] Saptaningtyas
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar