Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Menangkal Pemikiran Sekular Melalui Tulisan

Topswara.com -- Tidak jarang kita temui di zaman ini ada seseorang yang dianggap sebagai cendekiawan muslim tetapi mengajarkan pemahaman yang bertolak belakang dengan ajaran Islam seperti tidak wajibnya jilbab bagi muslimah yang sudah dewasa, pacaran itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam, atau semua pemeluk agama yang taat pasti masuk surga apapun agamanya. 

Ketahuilah bahwa pemahaman seperti ini berasal dari ide-ide sekulerisme yang notabenenya harus ditangkal dengan menjelaskan pemahaman yang benar tentang ajaran Islam baik berupa lisan maupun tulisan.

Mudahnya pemikiran sekuler diterima dan berkembang di tengah-tengah kaum muslimin tidak lepas dari peran media pendukung seperti media massa dan media sosial yang berada dibawah kendali mereka. 

Informasi seputar paham sekulerisme ini bisa menjadi sangat mudah diakses oleh kaum muslimin karna memang paham ini dikampanyekan secara massif oleh media-media pendukung mereka. Untuk itu menangkal pemikiran sekuler yang telah berkembang ditengah masyarakat menjadi amanah dakwah baru yang membutuhkan keseriusan dari para pengembangan dakwah dan cendekiawan muslim.

Banyaknya paham-paham sekuler yang diadopsi oleh kaum muslimin ini membuat upaya penangkalan terhadap pemikiran sekuler telah menciptakan suatu medan perang pemikiran tersendiri yang harus dimenangkan oleh kaum muslimin. Dan upaya untuk memenangkan perang pemikiran ini tentu membutuhkan kematangan pemahaman akan ajaran Islam itu sendiri.

Bukankah tidak mungkin seseorang bisa menyanggah paham tentang tidak wajibnya jilbab jika dia sendiri pun tidak tahu bagaimana sesuatu itu bisa dihukumi wajib oleh perintah agama? Bagaimana juga dia bisa menjelaskan tentang haramnya pacaran jika dia tidak paham hukum campur-baur dalam Islam? Dan bagaimana mungkin dia bisa menyanggah paham pluralisme beragama jika dia tidak paham tentang apa itu akidah dalam Islam? Belum lagi akibat dari perang pemikiran ini telah berhasil menciptakan kaum muslimin yang bersifat acuh dan tidak lagi perduli terhadap apa yang menimpa diri mereka dan agamanya.

Sifat acuh itu sendiri bahkan telah menimpa ke orang-orang yang sudah dianggap sebagai tokoh agama oleh sebagian kaum muslimin, mereka tidak perduli kalau umat sudah terkepung oleh sistem yang membuat mereka terpaksa melakukan perbuatan haram seperti riba, penipuan dan lain sebagainya. 

Ilmu mereka ibarat seekor kambing yang membawa kitab dipunggung mereka, penuh ilmu tapi tidak memberi manfaat keorang disekitarnya.

Maka dari itu aktivitas belajar-mengajar tentang ajaran Islam yang dilakukan kaum muslimin haruslah sudah tidak lagi berada pada level belajar agama hanya agar paham ajaran Islam saja, akan tetapi juga sudah masuk pada tahap mampu menjelaskan kemudian mengajak kaum muslimin untuk bisa menerapkan ajaran Islam dalam setiap aktivitas kehidupan mereka. 

Sehingga proses penangkalan terhadap pemikiran sekuler pada akhirnya akan berjalan dengan sendirinya. Untuk itu, aktif hadir dalam kajian-kajian keislaman yang sifatnya menambah pemahaman tentang ajaran islam yang kaffah (menyeluruh dan komprehensif) adalah salah satu metode yang mampu menciptakan kondisi tersebut.

Walaupun kondisi dimana kaum muslimin sudah bisa secara mandiri menangkal pemikiran-pemikiran sekuler yang menyerang mereka tidak bisa didapatkan dalam waktu dekat, akan tetapi kondisi ini bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan. Karna semangat untuk tunduk pada ketaatan adalah hal yang secara naluriah dimiliki oleh setiap kaum muslimin.

Wallahu a'lam.


Oleh: Rudi Lazuardi
Anggota Komunitas Medan Beriman
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar