Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Yellow Flag, Lampu Kuning dalam Relasi Suami Istri


Topswara.com -- Relasi suami istri dalam pernikahan, meniscayakan interaksi sosial yang bisa memicu konflik. Bila konflik itu bukan hal prinsip, masih bisa diperbaiki. Hanya sebagai alarm bahwa ada yang harus dievaluasi dari hubungan suami istri agar lebih baik lagi. Inilah yang disebut yellow flag atau bendera kuning, tanda peringatan akan adanya masalah dalam pernikahan, namun masih bisa ditoleransi. 

Jangan sampai yellow flag berubah menjadi red flag, yaitu kondisi bahaya yang menyebabkan pernikahan tidak bisa dilanjutkan.

Dilansir Well and Good, yellow flag adalah perbedaan pendapat, sifat, atau karakter antara pasangan yang tidak menjadi ancaman serius dalam relasi pernikahan. 

Yellow flag umumnya berupa sikap/karakter pasangan atau kondisi yang masih bisa diterima dan diperbaiki, sedangkan red flag adalah sikap/karakter pasangan yang telah melewati batas dan kondisi yang sangat sulit untuk diperbaiki. Setidaknya ada 10 yellow flag dan cara mengatasinya:

Pertama, beda kebiasaan, selera dan cara.

Bila suami istri tidak suka dengan kebiasaan kurang baik pasangannya, selera yang bertolak belakang dan cara dalam berbagai hal yang berbeda; jangan dibesar-besarkan sebagai masalah serius. Lebih baik bertoleransi dan memaklumi perbedaan tersebut. Misal, cara makan dan selera dalam memilih makanan. Yang penting tidak melanggar syariat.

Kedua, beda karakter/watak yang sulit diubah.
 
Setiap individu dilahirkan dengan watak unik bawaan lahir yang sulit diubah. Misal, suami pendiam sekali, sehingga sulit diajak komunikasi. Maka istri sebaiknya yang lebih komunikatif dan memulai obrolan. 

Sebaliknya, misal berjodoh dengan istri yang sensitif alias mudah sekali ngambek, suami harus lebih sabar dan menerima apa adanya. Masing-masing harus empati. Menerima dan memaklumi karakter unik pasangan dan tundukkan dengan syariat agar hubungan tetap baik.

Ketiga, perasaan negatif pada pasangan.

Jika perasaan itu mendominasi dalam “brankas” pikiran kita, cepat-cepat keluarkan dan buang jauh-jauh. Jangan izinkan pikiran negatif itu masuk kembali dalam benak. Sebagai gantinya, masukkan dan simpan perasaan positif saja di dalam “brankas” pikiran. Antara lain ridha, syukur, husnuzan, legowo dan kasih sayang.

Keempat, komunikasi yang tersumbat.

Bila suami istri mulai jarang melakukan obrolan yang menyenangkan, solusinya, bangunlah segera komunikasi yang akrab dan cair. Jangan biarkan sehari pun tanpa ada obrolan, baik lisan maupun tulisan atau via chat dengan pasangan.

Kelima, hubungan mulai renggang.

Bila suami istri mulai jarang melakukan aktivitas berdua, menikmati kebersamaan dan kemesraan, maka segera perbaiki. Mulailah membuat jadwal pergi berduaan dan menikmatinya. Jalin hubungan yang dekat dan bersahabat.

Keenam, malas-malasan berhubungan intim.
 
Bila suami istri kurang gairah melakukan hubungan biologis, ini masalah. Solusinya, mulai lagi kegiatan ini secara rutin, agar terjalin kedekatan secara fisik melalui sentuhan dan keintiman. Hal Ini mencegah pasangan mencari kenikmatan lain yang bisa menjerumuskan ke jalan haram. Na’udzubillah.

Ketujuh, perasaan galau dan tidak bahagia.

Bila pikiran diganggu bisikan setan yang membuat diri ragu, maka tingkatkan kesadaran mental; bahwa bahagia kita yang menciptakan. Halau pikiran galau. Tetap tenang dan pikirkan hal-hal baik yang menyenangkan.


Kedelapan, kesejahteraan dan kebahagiaan yang belum sesuai harapan.
 
Mencapai kondisi ideal dalam kesejahteraan, bukan saja butuh ikhtiar. Juga butuh ketakwaan dan tawakal kepada Allah SWT. Bukan hanya rajin dalam bekerja atau berbisnis, tetapi juga harus meningkatkan ibadah, zikir, dan doa. Yakin rezeki dari Allah SWT. Yakin akan tiba masanya, pada saat yang tepat, ketika Allah berkehendak kita sejahtera dan bahagia.

Kesembilan, ukhuwah dengan mertua dan kerabat belum tulus karena Allah SWT.

Solusinya, hilangkan penyakit hati seperti iri, hasad dan cemburu pada mereka. Lebih baik memaafkan dengan apapun yang mereka lakukan, selama tidak melanggar syariat. Termasuk apapun yang diberikan atau dilakukan suami terhadap keluarganya.

Kesepuluh, pasangan belum shalih sesuai harapan, ibadah belum rutin, masih melakukan maksiat kecil.

Jika itu terjadi, tetap sabar membersamai dalam proses hijrahnya. Berdua, tekadkan untuk bersama-sama menuju derajat ketakwaan lebih baik setiap hari.


Oleh: Kholda Najiyah
Founder Salehah Institute 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar