Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Kasus Bunuh Diri Meningkat, Bagaimana Kelangsungan Generasi?


Topswara.com -- Ada dua kasus bunuh diri yang terjadi dalam dua hari berturut-turut di kota Semarang. Kasus pertama, NJW (20) seorang mahasiswa perguruan tinggi negeri Semarang ditemukan tewas di Mal Paragon Semarang pada Selasa, 10 Oktober 2023. Kasus kedua, seorang mahasiswa perguruan tinggi swasta Semarang berinisial EN (24) ditemukan meninggal dunia di dalam kamar kosnya pada Rabu, 11 Oktober 2023 (republika co.id, 13/10/2023).

Awal Oktober lalu, seorang mahasiswi perguruan tinggi swasta di Yogyakarta ditemukan tewas setelah jatuh dari lantai 4 asrama putri University Residence UMY. Mahasiswi berinisial SM dan berusia 18 tahun itu diduga sempat meminum obat sakit kepala sebanyak 20 butir sebelum melakukan aksinya (tempo.co, 12/10/2023).

Ditemukan surat wasiat pada kedua kasus bunuh diri tersebut. Diduga kuat, surat tersebut ditulis oleh pelaku sebelum mengakhiri hidupnya. Membaca isi surat wasiat yang telah beredar luas, semua pihak termasuk kepolisian menduga keduanya memiliki permasalahan internal, baik dengan diri sendiri maupun keluarga.

Fenomena Gunung Es

Kasus bunuh diri mahasiswi yang terjadi belakangan ini menjadi perhatian publik. Berita bunuh diri silih berganti seakan berlomba memenuhi laman berita. Ada tren peningkatan kasus bunuh diri di negeri ini.

Direktur Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan RI drg R Vensya Sitohang M Epid menyebut ada peningkatan kasus bunuh diri dibandingkan tahun 2022. Pada tahun 2022, angka bunuh diri mencapai 826 orang. Dibandingkan tahun 2018, angka ini meningkat 6,37 persen (detik.com, 13/10/2023).

Dibandingkan Singapura, catatan kasus bunuh diri di Indonesia jauh lebih tinggi. Rekor tertinggi kasus bunuh diri yang dicatat Singapura sepanjang tahun 2023 yaitu sebanyak 476 korban. Artinya, kasus bunuh diri di Indonesia hampir dua kali lipat dibandingkan Singapura.

Kementerian Kesehatan RI menyatakan lebih dari 16.000 kasus bunuh diri setiap tahunnya. Artinya, terdapat 2,6 kasus bunuh diri per 100.000 orang. Pernyataan ini berdasarkan data Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza (P2MKJN) 2019 (kompas.com, 12/09/2021).

Para ahli mengungkapkan bahwa kasus bunuh diri ini seperti fenomena gunung es. Diduga kuat, jumlah sebenarnya jauh lebih besar dari data-data tersebut. Parahnya, jumlah ini akan terus meningkat setiap tahunnya. Lalu, bagaimana dengan kelangsungan generasi?

Problem Sistemis

Fenomena bunuh diri di kalangan remaja dimulai dari adanya depresi atau persoalan yang berlangsung lama dan tak kunjung selesai. Artinya, tingginya kasus bunuh diri yang menimpa pemuda hari ini menggambarkan rapuhnya mental generasi. 

Generasi hari ini cenderung mengambil jalan pintas atau cara instan ketika menghadapi persoalan hidup. Bunuh diri dijadikan pilihan ketika tak mampu mencapai ekspektasi dan tujuan. 

Ironisnya, sistem kapitalisme menempatkan standar-standar materi pada setiap kesuksesan, seperti harta, ketenaran, kedudukan dan sejenisnya. Remaja pun akan berusaha untuk mendapatkannya. Dan ketika tak tercapai, depresi pun melanda.

Sistem kapitalisme yang asasnya sekuler, memisahkan agama dari kehidupan, mencetak generasi yang bingung dengan identitas dirinya. Tidak memiliki pemahaman hidup yang benar. 

Sehingga mereka menjalani hidupnya dengan sesuka hati dan menuruti hawa nafsu. Tidak peduli halal haram. Wajar, ketika ditimpa persoalan hidup, solusi yang ditempuh tanpa pertimbangan yang benar, tidak terkecuali bunuh diri.

Di sisi lain, remaja hari ini kehilangan keteladanan dari orangtuanya. Motherless dan fatherless melanda remaja Indonesia. Orang tua sibuk mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan hidup. Hingga tidak ada waktu membersamai anak, mendengarkan ceritanya serta memberikan kasih sayang yang cukup untuk anak. 

Negara di sistem kapitalisme kehilangan peran sebagai penanggung jawab urusan rakyat. Sistem pendidikan sekuler telah mencetak generasi yang split kepribadian. Sibuknya orang tua mencari nafkah karena tak ada jaminan kebutuhan asasi dari negara. Ditambah dengan derasnya arus teknologi informasi yang berorientasi materi, yang senantiasa berseliweran sebab tak ada filter dari negara. 

Jadi, selama sistem sekularisme kapitalisme mewarnai kehidupan kita, kasus bunuh diri takkan pernah sepi. Dan boleh jadi di tahun 2045, bukan bonus demografi yang kita dapati, namun parade generasi yang depresi hingga bunuh diri. Na'uzubilllahi min dzalik.

Mental Kuat Hanya dengan Islam

Tidak ada solusi selain mengembalikan jati diri remaja sebagai hamba Allah SWT. Dengan memberikannya pemahaman yang benar tentang kehidupan dan tujuan hidup manusia yang sesungguhnya. Dan satu-satunya sistem yang mampu mencetak generasi yang bermental kuat hanyalah sistem Islam.

Sistem pendidikan Islam yang berasaskan pondasi akidah, melahirkan generasi yang berkepribadian Islam. Pola pikir dan pola sikapnya distandarkan pada aturan Allah. Secara sadar, ia memahami jati dirinya sebagai hamba Allah SWT dan hidup hanya untuk meraih ridha Allah SWT. Sehingga ia akan berusaha untuk taat dan menghindari maksiat sejak dini.

Setiap individu di sistem Islam memahami konsep hidup adalah ujian. Dan meyakini bahwa setiap ujian yang Allah berikan takkan melebihi batas kemampuannya. Hingga ia pun akan berusaha mencari solusi yang sesuai dengan syariat Islam. 

Islam juga mewajibkan negara sebagai pelayan bagi rakyat, penanggung jawab urusan rakyat. Selain menyelenggarakan pendidikan Islam, negara di sistem Islam akan memastikan kesejahteraan rakyat individu per individu. Walhasil, orang tua bisa fokus mendidik anak. 

Masyarakat di sistem Islam hidup dalam suasana keimanan dan berlomba-lomba dalam beramal shalih. Aktivitas amar makruf nahi mungkar menjadikan generasi terhindar dari kemaksiatan. Termasuk saat menghadapi masalah. Dengan demikian, hanya dengan sistem Islam maka ada harapan cerah untuk kelangsungan generasi. []


Oleh: Mahrita Julia Hapsari
(Praktisi Pendidikan)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar