Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Begini Cara Zionis Berhenti

TopSwara.com -- Gempuran senjata oleh Zionis Yahudi ke Gaza semakin tak terkendali. Korban genosida di Gaza selama sebulan sudah melebihi 10.000 orang, dan lebih dari separuh adalah anak-anak dan wanita yang notabene harus dilindungi dan tidak boleh dibunuh dalam peperangan. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Disisi lain, masih banyak masyarakat dunia yang memiliki rasa dan empati. Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk membebaskan Palestina?

Kebengisan Tentara Zionis Semakin Menggila

Hanya dalam waktu kurang dari sebulan, Kementerian Kesehatan Gaza menyebutkan lebih dari 10.000 orang telah tewas dan menjadi korban genosida akibat kebrutalan Zionis dan melukai lebih dari 25.000 orang di Gaza.

Lebih dari separuh yang meninggal justru dari kalangan anak-anak dan wanita. Korban anak-anak sebanyak 4.014 orang dan wanita sebanyak 2.641 orang dari total korban meninggal 10.022 orang seperti dilansir dari CNBCIndonesia.com (07/11/2023).

Meski seluruh dunia mengecam tindakan keji Zionis yang memerangi Gaza, namun tidak ada tindakan berarti yang diberikan kepada tersangka kekejaman tersebut. Walaupun bantuan untuk korban terus berdatangan.

Donasi Untuk Palestina

Kepedulian dari masyarakat dunia, baik Muslim maupun non Muslim untuk korban penjajahan di Palestina, khususnya di Gaza sangatlah tinggi. Terbukti dari banyaknya donasi yang terhimpun dan diberikan kesana.

Misalnya donasi dari Indonesia saja tembus Rp 9,6 miliar yang terhimpun dari 3 lembaga kemanusiaan (Humanitarian Forum Indonesia sebesar Rp 5 miliar, PMI sebesar Rp 2,9 miliar, dan Baznas sebesar Rp 1,7 miliar) yang beberapa sudah dalam bentuk barang.

Ini baru 3 Lembaga, belum termasuk yang lainnya yang belum didata atau belum berkoordinasi dengan Pemerintah Indonesia (news.detik.com, 1/11/2023).

Juga dari negara tetangga, Malaysia senilai RM 23 juta (sekitar Rp 76,58 miliar) dilansir dari m.antaranews.com (28/10/2023).

Semua donasi tersebut ada yang sudah dalam bentuk barang seperti obat-obatan atau kebutuhan medis lainnya, generator, makanan, pakaian, selimut, dan lain-lain yang kesemuanya ditujukan untuk korban penjajahan Zionis.

Semua itu memang sangatlah dibutuhkan untuk para korban agar luka mereka lekas pulih, tidak kelaparan, dan tidak kedinginan. Mendapatkan fasilitas yang baik sehingga dapat hidup layak sebagaimana manusia pada umumnya.

Boikot Produk Yahudi 

Seruan boikot produk Yahudi yang ramai di media sosial nyatanya membawa dampak terhadap perekonomian. Meski hanya kicauan, tapi cukup memiliki efek nyata.

Meski tujuan boikot ada beberapa, salah satunya memberikan tekanan sosial kepada perusahaan yang 'komplisit' atau berafiliasi dengan Zionis, dan menurunkan tingkat ekonomi atau pendapatan terhadap negara tersebut.

Pertanyaannya, apakah boikot ini bisa berdampak signifikan terhadap perang di Gaza? 

Nyatanya justru aksi boikot ini lebih merugikan ekonomi Indonesia dibandingkan ekonomi Yahudi, kata peneliti INDEF, Ahmad Heri Firdaus. Meski ia akui bahwa boikot itu adalah bentuk dukungan terhadap Palestina dan pernyataan tegas dari masyarakat Indonesia atas kekejaman Zionis, dikutip dari bbc.com (3/11/2023).

Aksi Solidaritas Untuk Palestina

Aksi akbar Aliansi Rakyat Indonesia Bela Palestina yang dilaksanakan pada 05 November 2023 lalu, di Lapangan Silang Monas, Jakarta adalah bentuk dukungan masyarakat Indonesia terhadap kebebasan Palestina atas kekejaman Zionis, dilansir dari kompas.com (6/11/2023).

Para tokoh yang hadir menyuarakan dengan lantang agar kejahatan kemanusiaan di Jalur Gaza dihentikan. Apakah bentuk dukungan ini berdampak signifikan terhadap kejahatan Zionis? Tampaknya tidak.

Tentu semua bantuan, dukungan, dan aksi di atas sangat dibutuhkan dan bermanfaat untuk para korban. Dan lebih baik lagi jika dunia juga tidak luput dari tersangka. Jika dalam timbangan keadilan, korban harus mendapatkan kehidupan yang layak dan juga aman. Maka para tersangka penjajahan dan pendudukan seharusnya diberikan sanksi.

Lalu dengan apa sanksi bisa diberikan?
Hal apa yang efektif dan bisa menghentikan pendudukan Zionis terhadap Palestina?

Sedangkan Resolusi 181 tahun 1947 adalah yang paling gagal diaplikasikan, dan menjadi cikal bakal terbentuknya negara Israel di tanah Palestina.

Lalu Resolusi Majelis Umum PBB 2253 tahun 1967 yang bahkan tidak bisa mencegah Zionis mengklaim Yerusalem sebagai ibu kotanya secara sepihak tahun 1980.

Kemudian Resolusi 3379 yang disahkan Majelis Umum PBB tahun 1975 yang kemudian bisa dicabut pada tahun 1991 setelah Zionis mengajukan beberapa syarat.

Muncul lagi Resolusi 4321 diadopsi PBB tahun 1988 ketika intifada (perlawanan Palestina terhadap pendudukan Zionis) pertama meletus. Namun berakhir setelah Perjanjian Oslo tahun 1993.

Resolusi paling baru adalah Resolusi 6719 tahun 2012 yang terealisasi pada tahun 2015 yaitu mengizinkan bendera Palestina dikibarkan di markas PBB bersama dengan bendera negara anggota lainnya dikutip dari cnnindonesia.com (22/12/2017).

Dari sini dapat disimpulkan bahwa sekalipun organisasi dunia memberikan resolusi terhadap penjajahan Zionis, namun tak dihiraukan, apalagi jika berharap Resolusi bisa menghentikan serangan Zionis terhadap warga Palestina. Parahnya, bahkan tak nampak dampaknya sedikitpun.

Apalah artinya bendera dikibarkan di markas PBB jika penjajahan dan pendudukan tak bisa dihentikan.

Jihad dan Khilafah Solusi Tuntas?

Boikot bahkan Resolusi tak juga menghentikan penjajahan Zionis. Menurut Mudir (Pengasuh) Ma'had Khadimus Sunnah Bandung, Kyai Yuana Ryan Tresna, M.Ag yang diambil dari unggahan di media sosialnya, beliau menyebut bahwa akar masalahnya adalah penjajahan dan pendudukan wilayah Palestina oleh Zionis dan masalah ini bukan hanya masalah Arab, tetapi masalah kita semua, umat Islam.

Oleh karena itu solusinya adalah mengusir penjajah dengan jihad. Kewajiban jihad sendiri bukan hanya bagi penduduk Palestina, tetapi bagi kaum Muslimin di negeri-negeri Arab, bahkan di belahan dunia manapun. Dan yang paling efektif adalah memobilisasi pasukan tentara dari negeri-negeri Muslim yang saat ini terhalang oleh nasionalisme dan batas negara bangsa (nation state).

Adanya nation state ini menjadikan kaum Muslim hanya sebagai penonton disaat saudara muslim lainnya dibantai. Padahal Zionis sendiri dilindungi oleh kekuatan global (AS dan Eropa), maka agar seimbang harus juga dilawan dengan kekuatan global. Untuk itulah Umat Muslim membutuhkan Daulah Islam (Khilafah) yang akan menyatukan semua potensi umat dan menjadi kekuatan besar lalu mampu memobilisasi jihad dalam satu kepemimpinan dan membebaskan Palestina dari penjajahan dan pendudukan Zionis.[]

Wallahu a'lam bisawab.

Oleh: Annisah Rahmah Sitompul S.Hut
Pemerhati Sosial
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar