Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Akar Masalah dan Solusi Palestina


Topswara.com -- Akhir-akhir ini sedang ramai di media sosial tentang simbol semangka yang digunakan sebagai bentuk dukungan terhadap Palestina. Salah satunya dalam platform media sosial  instagram, sejumlah selebriti, influencer, dan warganet Indonesia lainnya mengunggah gambar semangka, bahkan laman komentarnya dipenuhi emoji semangka.  
 
Simbol semangka dianggap sebagai bentuk perlawanan warga Palestina pada 1967 setelah perang enam hari ketika Israel bertempur dengan negara-negara tetangga termasuk Mesir, Suriah dan Yordania. 

Pemerintah Zionis Yahudi melarang pengibaran bendera Palestina di muka umum dalam perbatasannya. Untuk mengakali larangan tersebut, warga Palestina menggunakan buah semangka sebagai simbol karna menyerupai bendera mereka yang mengandung warna serupa yaitu hijau, putih, merah dan hitam.  
 
Melihat apa yang dialami oleh warga Palestina, tentunya sangat membuat kita geram. Apalagi setiap harinya berseliweran foto-foto korban yang sangat menyayat hati, termasuk warga sipil, anak-anak dan perempuan, bahkan sampai rumah sakit, tenaga medis dan Jurnalis pun ikut menjadi sasaran Zionis Yahudi. Ini sudah benar-benar berupa pembantaian.  
 
Namun, bagi kita umat Muslim, perlu diluruskan lagi apa yang sedang kita bela. Tentu kita harus mengetahui dulu akar masalah dari konflik Palestina ini. Masalah Palestina adalah tanah milik kaum Muslimin yang dirampas oleh kelompok Zionis Yahudi, dan kemudian didirikan negara ‘Israel’ di atasnya pada 1948 dengan dukungan negara-negara Barat di bawah pimpinan AS (Amerika Serikat), yang mendominasi dunia Islam, setelah kehilangan kepemimpinan pada 1924 saat runtuhnya khilafah di Turki. Palestina adalah salah satu negara yang tidak diakui PBB.  
 
Jika bentuk dukungan berupa simbol atau bendera saja, nyatanya beberapa negara timur tengah juga memakai warna yang serupa dengan warna bendera Palestina. Bentuk dukungan berupa kemanusiaan juga tidak cukup kuat untuk menyelesaikan masalah ini. 

Maka dari itu, yang menjadi fokus pembelaan kita sebagai umat Muslim bukan hanya sekadar simbol ataupun kemanusiaan, tetapi harus fokus kepada pembelaan akidah Islamiah.  
 
Pasalnya, masalah Palestina tidak bisa dipisahkan dari ajaran Islam, ada dua alasan yang mendasarinya. Pertama, di Palestina terdapat tempat suci bagi umat Islam. Ini tertuang dalam Qur’an surah al-Isra ayat 1 yang artinya, “Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi (sekelilingnya) agar Kami perlihatkan tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
  
Kedua, umat Islam di seluruh dunia bagaikan satu tubuh, yang tidak terpisahan oleh sekat-sekat negara-bangsa (nation-state) yang batil. 

Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Muslim yang artinya, “Perumpamaan kaum Mukminin dalam saling mencintai, saling menyayangi, dan saling bahu-membahu seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam.”  
 
Ditambah pula tanah Palestina menjadi milik kaum Muslimin setelah dibebaskan oleh Khilafah Islam, yaitu oleh Khalifah Umar bin al-Khathab ra pada 15 H (637 M). Beliau langsung menerima tanah tersebut dari Sophronius (w. 638 M), Patriakh Yerussalem, dalam sebuah perjanjian yang dikenal dengan Perjanjian ‘Umariyah (‘Al-ihdat Al-Umariyyah), yang di antara isinya yang berasal dari usulan orang-orang Nasrani, yaitu agar orang Yahudi tidak boleh tinggal di dalamnya. 

Dari usulan itu sangat terlihat bahwa orang Nasrani pun mengetahui bagaimana keburukan orang-orang Yahudi sehingga tidak ingin berdampingan dengan mereka. Mulai dari 15 H sampai ke Khilafahan Ustmaniah, Palestina sangat terjaga. Maka sudah jelas, Palestina tanah milik kaum Muslimin, bukan milik kaum Zionis Yahudi.
 
Zionis Yahudi berdiri dengan dukungan Barat (khususnya Inggris) dan PBB (yang dikendalikan AS), jadi kita tidak bisa mengharapkan solusi masalah Palestina ini diselesaikan oleh PBB. Jihad adalah solusi Islam bagi masalah Palestina yang sedang dibantai oleh kafir penjajah, apalagi zionis Yahudi itu menduduki tanah milik mereka. 

Imam Al-Kasani bekata, “Jika terjadi serangan umum, yaitu musuh (yang kafir) telah menyerang suatu negeri, maka (jihad) hukumnya fardhu ‘ain yang difardhukan kepada setiap-tiap orang dari kaum Muslimin, bagi orang yang mampu” (Imam Al-Kāsāni, Badā`i’u Al-Shanā`i’ fī Tartīb Al-Syarā`i’, 7/9). 
 
Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya Iman” (HR Muslim). 
 
Yang dibutuhkan oleh penduduk Palestina adalah bantuan nyata berupa bala tentara militer dari negeri-negeri Muslim. Itulah bentuk mengubah kemungkaran dengan tangan dari hadits di atas. Mengubah kemungkaran dengan lisan yaitu dengan terus menyuarakan kepada para penguasa Muslim untuk mengirimkan pasukan militernya. Termasuk juga bersuara di media sosial, apalagi bagi influencer yang bisa memberikan pengaruh besar kepada banyak orang, agar selalu mengajak menyuarakan desakan kepada para pemimpin Muslim.  

Namun selemah-lemahnya Iman bagi kita adalah dengan selalu memberikan doa bagi penduduk Palestina.  
 
Beberapa bentuk solusi yang disarankan seperti perdamaian, solusi dua negara, dan genjatan senjata adalah solusi yang menyesatkan yang intinya tetap mempertahankan keberadaan negara Zionis Yahudi. 
 
Dilihat dari solusi yang seharusnya dilakukan, maka kita membutuhkan sistem pemerintahan Islam yakni khilafah. Karena khilafah akan menyempurnakan kewajiban jihad membebaskan Palestina. Saat khilafah tegak, urusan jihad akan diserahkan dan dipimpin oleh khalifah. 

Selain itu, untuk menghadapi Zionis Yahudi yang mendapat dukungan dari negara Barat, diperlukan kekuatan yang seimbang. Yakni pengiriman tentara kaun Muslimin untuk berjihad di medan perang. Namun, jihad itu wajib didukung oleh sebuah negara yang kuat. 

Pada kenyataannya penguasa-penguasa Muslim saat ini telah berkhianat kepada saudara sesama Muslim Palestina, dengan tidak mau mengirimkan pasukan ke Palestina dan bahkan menghalangi jihad fi sabilillah ke Palestina.  
 
Oleh karena itu, diperlukan generasi Muslim lain, yaitu generasi Muslim di bawah khilafah untuk mengganti para pemimpin yang berkhianat tersebut, sesuai firman Allah dalam Al-Qur’an surah at-Taubah ayat 39 yang artinya, “Jika kamu tidak berangkat (berperang), niscaya Allah akan menghukum kamu dengan azab yang pedih dan menggantikan kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan merugikan-Nya sedikit pun. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” []


Oleh: Mustikawati Tamher
Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar