Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Andaikan Tidak Ada Kisah Nabi Yusuf


Topswara.com -- Para konten kreator makin lama makin keterlaluan. Tiktoker perempuan yang dikenal dengan sebutan Talpav kena batunya dirujak netizen. Dalam salah satu kontennya perempuan bertato ini bermaksud lakukan prank pada sejumlah lelaki. 

Dengan pakaian terbuka ia bicara pada beberapa laki-laki sambil mendekatkan badannya dengan gesture yang menggoda. Untung para lelaki yang jadi korbannya langsung menjaga jarak, risih dengan tindakan tersebut.

Tidak butuh waktu lama, konten itu banjir hujatan. Rata-rata menghujat sang pemilik konten lakukan sexual harrassment pada laki-laki yang dijebaknya. 

Akhirnya sang pemilik akun buat klarifikasi, “Saya sangat menyesal atas apa yang terjadi. Saya tidak berniat untuk membuat orang merasa tidak nyaman. Saya hanya ingin bercanda dan membuat video yang menghibur,” ujar Talpav dalam video klarifikasinya. Tetapi klarifikasi itu justru menambah hujatan lagi.

Sebenarnya bukan hanya kasus konten medsos yang berisi tindakan tidak menyenangkan perempuan pada lelaki. Di TikTok ada konten yang berisi prank cewek menggandeng cowok yang gak dikenal di tempat umum. 

Sang cowok yang jadi korban prank tersebut rata-rata terkejut dan senyum kecut karena tiba-tiba digandeng perempuan tidak dikenal. Tragisnya sejumlah perempuan yang melakukan itu berkerudung.

Setelah konten ini viral di medsos, sejumlah netizen bertanya, “Ini termasuk pelecehan gak sih dari cowok pada cewek?” Karena, kalau posisinya dibalik, cowok tak dikenal tiba-tiba menggandeng perempuan kemungkinan besar si pelaku bakal dituduh melakukan sexual abuse.

Sedikit orang bisa percaya kalau lelaki juga bisa menjadi korban pelecehan seksual oleh perempuan. Ini agak merugikan kaum lelaki yang bisa menjadi korban. 

Memang, secara fisik, lelaki jauh lebih kuat ketimbang perempuan. Bicara soal relasi kekuasaan, banyak lelaki yang punya kedudukan untuk memperdaya atau memaksa perempuan melayani nafsu bejatnya.

Secara historis, kasus pelecehan seksual dan pemerkosaan terhadap perempuan mengisi sejarah manusia. Di medan perang, dari zaman Babylonia, Persia, Romawi hingga perang dan kekerasan modern seperti kekerasan seksual militer Suriah terhadap kaum wanita, atau militer Myanmar terhadap muslimah Rohingya mengisi lembaran sejarah. Lelaki terstigma selalu lakukan sexual abuse terhadap perempuan.

Beruntung Allah SWT menurunkan kisah Nabi Yusuf as. Membuka mata orang-orang beriman bahwa kejahatan bisa dilakukan siapa saja tanpa memandang gender. Termasuk dalam kasus sexual abuse perempuan pun bisa jadi pelaku. 

Dalam QS Yusuf ayat 23-25 difirman Allah Swt: Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini”. Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. (TQS. Yusuf [12]: 23-25).

Skenario perempuan itu tidak berhenti, Allah Ta’ala juga menceritakan siasat playing victim yang dilakukannya terhadap Yusuf as. Hal yang juga sampai sekarang dilakukan sebagian perempuan pelaku pelecehan seksual terhadap lelaki. 

Firman Allah:
Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. Wanita itu berkata: “Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan isterimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih?” (TQS. Yusuf [12]: 23-25).

Karenanya, tidak ada aturan dan pandangan hidup yang sahih dan sempurna untuk manusia kecuali Islam. Kehidupan diluar Islam seperti peradaban kapitalisme liberalisme sering membuat perempuan menjadi korban; pelecehan seksual, KDRT hingga korban pembunuhan. 

Banyak perempuan yang tidak mendapat perlindungan dan pembelaan hukum yang manusiawi. Banyak kasus pelecehan seksual terhadap perempuan berakhir dengan ‘damai dan kekeluargaan’.

Muncullah gerakan feminisme yang bermaksud membela dan mengangkat level kaum perempuan, tetapi yang terjadi malah bias gender, lebih berat pembelaan terhadap kaum perempuan bahkan meski terbukti pelaku pelecehan dan kekerasan adalah perempuan. Kurang peka terhadap kemungkinan lelaki menjadi korban.

Publik biasanya langsung bereaksi negatif ketika perempuan alami pelecehan seperti kena cat calling, alami flirting, panggilan yang tidak senonoh, apalagi kena kontak fisik seperti diraba atau dipeluk tanpa consent. Namun kalau lelaki yang mengalami seperti itu seperti dianggap bukan masalah serius.

Andai tak ada kisah Nabi Yusuf as., bisa jadi kita juga mudah terbawa opini bahwa hanya lelaki yang bisa melakukan pelecehan seksual, hanya lelaki yang otaknya ngeres, mesum dan selalu korbankan perempuan sebagai pelampiasan obyek fantasi seksual mereka. Tetapi Al-Qur'an membuktikan kaum lelaki bisa begitu rentan jadi korban pelecehan seksual.

Karenanya Islam memberikan perlindungan menyeluruh pada wanita maupun pria. Keduanya diminta menutup aurat, menjaga pandangan, larangan berkhalwat, memanggil dengan panggilan kotor, apalagi melakukan kontak fisik. Baik lelaki ataupun perempuan bila melakukan tindakan seperti itu berdosa dan terancam sanksi sesuai syariat.

Maraknya konten-konten macam di atas sebenarnya jadi sinyal bahwa ada sesuatu yang salah dalam pembentukan karakter bangsa, khususnya anak-anak muda; langkanya rasa malu. 

Hari ini ada anggapan kalau rasa malu itu musuh kemajuan, ancaman, dan attitude negatif. Orang hari ini didorong untuk ekspresif dan memutus rantai rasa malu. Wajar saja muncul konten-konten media sosial yang makin memalukan.

Di medsos, banyak perempuan termasuk yang berkerudung dan berjilbab joget-joget, berpakaian minim, berfoto lengket dengan pacar, atau juga mengaku kalau sudah pernah berzina, dan sebagainya. Rasa malu benar-benar sudah hampir punah di negeri ini. Seperti ada motto; kalau malu tidak bisa makan, kalau tidak malu gak bisa ngetop, kalau malu tidak gaul.

Padahal diantara proteksi pribadi yang bisa melindungi seseorang dari pelecehan seksual dan pergaulan bebas adalah rasa malu. Laki-laki yang malu tidak bakal mau agenda khalwat dengan perempuan bukan mahram, pun sebaliknya. Karena itu, agama ini mengajarkan setiap Muslim dan Muslimah untuk punya rasa malu. Nabi menyebut bahwa malu bagian dari ahlak agama ini. 

Sabdanya:
إِنَّ لِكُلِّ دِيْنٍ خُلُقًا وَخَلُقُ اْلإِسْلاَمِ الْـحَيَاءُ.

Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu (HR. Thabraniy).

Rasulullah SAW adalah sosok pria yang pemalu. Pernah beliau merasa malu karena kainnya tersingkap hingga tampak betis beliau. Selain itu, Utsman bin Affan ra adalah sosok yang begitu pemalu. Sampai-sampai Nabi SAW bersaksi bahwa malaikat menjadi malu terhadap sahabat beliau ini.

Rasa malu itu yang menyelamatkan Nabi Yusuf as dari berbagai fitnah. Putra Nabi Ya’qub as ini merasa tidak nyaman dengan sikap istri pembesar Mesir dan kawan-kawan wanitanya yang terpesona dengan ketampanannya. Yusuf as memohon pada Allah agar lebih baik dimasukkan ke dalam penjara ketimbang jadi ‘model’ yang dipamerkan untuk kepuasan kaum perempuan.

Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh. (TQS. Yusuf [12]: 33).

Sekularisme dan liberalisme sudah memproduksi manusia-manusia yang hilang rasa malunya. Mereka lakukan apa saja untuk makan, untuk popularitas, untuk kesenangan sebentar. Mengerikan.


Oleh: Ustaz Iwan Januar
Direktur Siyasah Institute


Sumber: iwanjanuar.com
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar