Topswara.com -- Dunia hari ini masih berada di bawah kendali Amerika Serikat (AS) beserta ideologi kapitalisme sekulernya. Hegemoni ini tidak hanya membentuk tatanan politik dan ekonomi global, tetapi juga membawa dampak serius bagi umat Islam.
Penjajahan gaya baru, ketimpangan ekonomi, konflik berkepanjangan, serta arus sekularisasi yang masif telah membuat umat Islam berada dalam kondisi lemah, terpecah, menderita dan semakin jauh dari nilai-nilai Islam yang kaffah.
Di sisi lain, kepemimpinan kapitalisme global juga telah melahirkan berbagai bencana ekologis di berbagai belahan dunia. Eksploitasi sumber daya alam secara rakus, demi keuntungan segelintir elite, menyebabkan kerusakan lingkungan yang masif, baik itu berupa krisis iklim, pencemaran air dan udara, serta bencana alam yang semakin sering dan mematikan.
Semua ini menunjukkan bahwa kapitalisme tidak memiliki kepedulian hakiki terhadap kelestarian alam dan keberlangsungan hidup manusia.
Arogansi AS sebagai motor utama kapitalisme global pun kian nyata. Berbagai bentuk intervensi, serangan militer, ancaman politik, dan tekanan ekonomi terus dilakukan terhadap negara-negara yang dianggap mengganggu kepentingannya, termasuk Venezuela.
Penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro oleh AS, dengan tuduhan perdagangan narkoba dan pelanggaran senjata, sejatinya menunjukkan betapa AS begitu arogan. Padahal di balik itu, ada kepentingan kekuasaan dan ekonomi yang hendak dikuasai oleh AS atas Venezuela yang kaya akan sumber daya minyak.
Inilah watak asli ideologi kapitalisme sekuler, yakni ideologi yang rusak dan merusak. Kapitalisme telah merusak sendi-sendi kehidupan umat Islam. Dalam aspek akidah, sekularisme memisahkan agama dari kehidupan, sehingga menjauhkan umat dari Islam sebagai aturan hidup.
Dalam muamalah, sistem ekonomi kapitalis melanggengkan riba, ketimpangan, dan kemiskinan struktural. Dalam bidang akhlak, sosial budaya, dan pendidikan, nilai-nilai liberal makin mengikis moral serta jati diri generasi Muslim.
Sementara itu, dalam ranah politik, umat Islam kehilangan perisai dan pelindung karena tunduk pada sistem yang rusak ini.
AS sebagai pengusung utama kapitalisme menggunakan berbagai cara untuk mempertahankan dominasinya, termasuk aneksasi terselubung, sanksi ekonomi, perang proksi, hingga manipulasi politik. Dengan dalih demokrasi dan stabilitas global, AS kerap mengabaikan hukum internasional dan kecaman masyarakat dunia.
Semua dilakukan demi menguasai sumber daya alam negara lain, demi keuntungannya sendiri, serta memperluas pengaruh geopolitiknya. Tanpa lagi memedulikan penderitaan rakyat, kedaulatan bangsa, maupun tatanan hukum internasional.
Kondisi ini seharusnya menyadarkan umat Islam akan pentingnya kembali kepada Islam. Islam bukan sekadar agama ritual, tetapi ideologi yang memiliki seperangkat aturan hidup yang paripurna. Ideologi Islam dibangun dengan landasan akidah aqliyah, yang dari akidah inilah akan memancarkan sebuah peraturan hidup yang sempurna.
Dengan akidah yang kokoh dan syariat yang menyeluruh, Islam memiliki potensi besar sebagai modal kebangkitan umat untuk melawan hegemoni kapitalisme dan dominasi AS.
Dengan demikian, kepemimpinan Islam menjadi satu-satunya harapan untuk mengembalikan tatanan kehidupan dunia yang adil dan penuh rahmat. Sejarah mencatat bahwa ketika Islam diterapkan secara kaffah dalam naungan kepemimpinan Islam, maka keadilan ditegakkan, kesejahteraan dirasakan, dan berbagai bentuk kezaliman dapat ditekan.
Kepemimpinan Islam tidak hanya berfungsi melindungi umat Islam, tetapi juga seluruh manusia tanpa memandang agama dan bangsa.
Dengan sistem hukum yang adil, pengelolaan sumber daya yang amanah, serta orientasi kepemimpinan yang bertanggung jawab di hadapan Allah SWT, maka kezaliman, kemungkaran, kemaksiatan, serta berbagai kerusakan dan bencana yang lahir dari keserakahan sistem kapitalisme dapat dicegah. []
Oleh: Yuchyil Firdausi
(Aktivis Muslimah)

0 Komentar