Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Istri ‘Bocor’ Akibat Suami Tidak Makruf


Topswara.com -- Berapa sering Anda membaca curhat istri-istri di medsos? Rasanya cukup sering. Itu tanda banyak perempuan di Indonesia sudah mampu memiliki ponsel, melek teknologi, dan…banyak persoalan rumah tangga. 

Curhatan istri yang mengeluhkan sikap suaminya sering dijumpai di media sosial, termasuk mengeluhkan sikap mantan suaminya yang menorehkan luka dalam hati mereka. 

Mengeluh memang tidak baik. Apalagi isinya membongkar persoalan rumah tangga, yang mestinya privat, ke ruang publik, termasuk membuka aib suami yang mestinya dijaga oleh seorang istri. 

Islam mengingatkan bahwa isi rumah tangga bukanlah komoditas untuk dikonsumsi publik. Suami dan istri harus bekerja sama menjaga aib-aib mereka, walaupun barangkali menyakitkan hati. 

Untuk para istri, Nabi SAW. mengingatkan tentang karakter istri salihah:

أَلَا أُخْبِرُكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهُ

Maukah aku beritahukan simpanan paling baik yang disimpan oleh seseorang? Yaitu istri yang shalih yang apabila suaminya melihatnya maka ia akan menyenangkannya, dan apabilla ia memerintahkannya, maka diapun mentaatinya, dan kalau suaminya pergi maka dia akan menjaga kehormatannya. (HR. Muslim) 

Nabi SAW juga memotivasi kaum muslimin untuk senantiasa menutupi/menjaga aib saudaranya. Sabda beliau:

مَنْ سَتَرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ فِي الدُّنْيَا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Tidaklah seorang hamba menutupi (aib) seorang hamba (yang lain) di dunia melainkan Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat. (HR Ahmad). 

Selain itu, ada juga teguran dan ancaman keras dari baginda Nabi Saw. terhadap orang yang mengumbar aib pasangannya.

مَنْ قَعَدَ عَلَى فِرَاشِ مُغِيبَةٍ قَيَّضَ اللَّهُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُعْبَانًا

Siapa yang membuka aib pasangannya, maka Allah akan melilitkan ular kepadanya di Hari Kiamat (HR. Ahmad). 

Hukum hadis ini masih diperdebatkan karena salah satu perawi bernama Abu Lahi’ah. Namun demikian, Imam Suyuti dan Imam Al-Haitsami menilai hadis ini hasan.
 
Sebab Suami 

Namun bukan berarti suami tidak punya dosa sampai membuat istri curhat ke media sosial. Relasi suami dan istri saling mempengaruhi sikap pasangan. Al-Qur'an menganalogikan hubungan suami dan istri seperti pakaian. 

FirmanNya:
Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. (TQS. Al-Baqarah [2]: 187.

Di antara penafsiran tentang makna ‘libas/pakaian’ yang dijelaskan para mufasir adalah keberadaan pasangan itu menciptakan ketenangan bagi pasangannya seperti yang Allah sebutkan dalam QS Al-A’raf ayat 189. Suami memberikan ketenangan/ketentraman untuk istrinya, pun demikian sebaliknya. Demikianlah penjelasan Imam Al-Baghawi dalam tafsirnya. 

‘Bocornya’ isi pernikahan ke luar menandakan hilangnya suasana sakinah, sehingga istri tak kuasa menahan kekecewaan dan kesedihannya. Ia lalu bercerita pada orang lain atau bahkan ke media sosial. Tentu ini bukan yang sepenuhnya ditolerir atau dibenarkan. Bagaimanapun aib-aib rumah tangga harus dijaga, bukan jadi konsumsi publik. 

Tetapi sadarkah suami, bahwa Anda bisa menjadi penyebab istri curhat pada dunia luar tentang kisruhnya kondisi pernikahan? Tidak ada asap bila tidak ada api. Istri yang merasa tertekan sementara suami tidak peduli dengan keadaan rumah tangga, terkadang tidak bisa menahan diri lalu jatuh pada perbuatan haram. 

Oleh karena itu ada beberapa hal yang perlu dilakukan para suami agar hubungan Anda berdua tetap harmonis, dan suami menjadi tempat curhat istri sehingga ia tidak merasa perlu menceritakan perkara yang begitu sensitif pada pihak lain, apalagi ke media sosial. 

Pertama, emosi istri bisa sedemikian meluap hingga bercerita pada orang lain atau dunia luar karena merasa hak-haknya tidak terpenuhi. Maka tunaikanlah hak istri sebaik-baiknya karena itu merupakan kewajiban suami. Allah Ta’ala berfirman:
Dan istri-istrimu memiliki hak sebagaimana kewajiban (untuk ditunaikan) secara ma’ruf (TQS. Al-Baqarah [2]: 228).

Istri memang harus bersabar menghadapi kurangnya pengayoman dari suami, baik secara materi maupun kasih sayang. Tetapi lelaki yang sengaja melalaikan hak istri jelas kemungkaran. Dalam Al-Qur’an terdapat perintah pada suami untuk berlaku makruf pada istri, menunaikan nafkah kebutuhan hidup, serta tidak mencari-cari kesalahan istri. 

Kedua, biasanya istri bercerita pada pihak luar karena merasa kebutuhan emosionalnya tidak dipenuhi suami. Maka, berikan perhatian dan bantuan pada istri. 

Ada hal menarik yang dilakukan Nabi SAW bila istrinya akan naik ke atas unta yang diriwayatkan Imam Bukhari. Beliau duduk dan menjadikan lututnya yang mulia sebagai tumpuan injakan alias foot step bagi Shafiyyah binti Huyai bin Akhtab ra untuk naik ke punggung unta. 

Ketika Shafiyyah menangis, Rasulullah tidak membiarkan atau meninggalkannya, namun beliau mengusap air mata istrinya. Imam Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. menemani istri-istri beliau manakala mereka sakit. 

Ketiga, tabiat istri adalah senang bercerita, pun untuk tema yang sederhana. Karenanya, para suami, jadilah pendengar yang baik. Suami tidak perlu memberikan solusi atau menanggapi setiap cerita istri, dengan menjadi pendengar yang baik, antusias, dan ikut secara emosional seperti tersenyum atau tertawa maka sudah menjadi hadiah yang berharga untuk istri. 

Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dengan judul Ummu Zarra’. Hadis ini adalah cerita Aisyah ra. pada Rasulullah SAW. tentang sebelas orang wanita yang menceritakan kehidupan pernikahan mereka. Selain berisi ibrah tentang kisah-kisah mereka, dalam hadits ini juga terkandung hikmah betapa Nabi SAW sabar dan antusias mendengarkan kisah Aisyah. Beliau tidak memotong apalagi mencela cerita Aisyah. Itulah pribadi lelaki yang dimuliakan Allah SWT. 

Saat istri tidak mendapati suaminya pendengar yang baik, bisa ditebak ia akan bercerita pada orang lain atau lebih buruk lagi curhat di media sosial. Ia memang bersalah, tetapi kesalahan lebih besar lagi dipikul oleh suaminya yang membuatnya begitu. 

Tidak sedikit suami mencukupkan nafkah pada istri tetapi tidak menjalankan poin ke-2 dan 3. Mereka merasa sudah menjadi suami yang baik dengan memberikan nafkah materi pada istrinya, tetapi lupa bahwa yang dinikahinya adalah wanita yang punya kebutuhan emosional. 

Banyak suami yang tidak tahu kalau istri-istri mereka berkeluh kesah di luar sehingga akhirnya menjatuhkan marwah suami mereka. Sedangkan suami merasa diri mereka sudah menjadi lelaki yang baik untuk istrinya. Benar-benar musibah untuk keduanya. 

Sebelum pasangan bocor ke dunia luar, perbaiki hubungan dengan istri. Termasuk, tanyakan padanya, pada siapa curhat ketika ada masalah dengan diri Anda; orang luar, medsos? Mudah-mudahan ia dengan jujur menjawab kalau suaminya adalah lelaki terbaik, pendengar terbaik, dan sahabat terbaik.


Oleh: Ustaz Iwan Januar
Pakar Parenting Islam
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar