Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Masjid Al-Jabbar dan Tahun Politik


Topswara.com -- Tidak bisa dipungkiri mata umat Islam di Jawa Barat khususnya, tertuju kepada Masjid Al-Jabbar yang sejak diresmikan pada hari Jum’at, 30 Desember 22 hingga saat ini. Selama masa liburan, masyarakat berduyun-duyun mengunjungi masjid apung tersebut via motor maupun mobil, bahkan via kereta api. 

Lokasi masjid yang viral ini memang dekat dengan Stasiun Cimekar, sehingga masyarakat dapat dengan mudah menjangkaunya setelah terlebih dahulu berjalan kaki dari Stasiun Cimekar melalui Komplek Bumi Panyileukan.

Setelah liburan usai, ternyata animo masyarakat tetap tinggi. Terbukti dengan tetap penuhnya tempat parkir masjid dan sekitar masjid oleh kendaraan roda dua dan empat, serta bis-bis pariwisata dari berbagai daerah.

Titik kemacetan baru pun muncul, antrian kendaraan memanjang sejak depan Komplek Bumi Panyileukan hingga mulut Jalan Cimincrang. Di seputar Gede Bage juga terbentuk kemacetan baru. Ini berarti muncul masalah baru yang harus segera dicari solusinya.

Di dalam dan seputar Masjid Al-Jabbar, masyarakat melakukan berbagai aktivitas seperti berfoto, botram, bahkan sekelompok anak berenang di kolam sekeliling masjid. Aktivitas ini ternyata memunculkan masalah baru berupa gundukan sampah yang tidak tertampung oleh tempat sampah yang disediakan, karena tempat sampah yang ada pun nampaknya tidak memadai untuk bangunan masjid yang begitu luas. 

Bila masyarakat awam tertarik pada masjid ini untuk “sekedar” shalat dan berfoto ria, maka bisa jadi para politikus juga akan turut melirik masjid ini demi perolehan suara mereka kelak. Hal ini merupakan keniscayaan karena saat ini kita mulai menapaki tahun politik yang biasanya suhunya tiba-tiba memanas. 

Politik kini dimaknai sebagai upaya mencapai sesuatu dengan segala cara apapun, tanpa menghiraukan halal haram sebagai tolok ukur dalam hidup. Pemaknaan ini meniscayakan siapapun bisa berupaya dengan cara apapun yang dimungkinkan mencapai tujuan yang diharapkan. 

Definisi ini bisa jadi akan membuat para politikus berbondong-bondong mendatangi masjid viral ini untuk shalat di dalam masjid; membagikan sembako atau buka bersama saat bulan Ramadhan nanti. Aktivitas-aktivitas tersebut dilakukan sambil tak lupa menggandeng awak media sehingga bisa diketahui oleh masyarakat dan berharap rakyat makin mengenalnya sehingga kelak mau memilihnya saat Pemilu tiba.

Sementara politik dalam Islam memiliki makna bahasa pemeliharaan (pengurusan) kepentingan. Dalam kamus dikatakan, “Sustu ar ra’yata siyasatan, ai amartuha wa nahaituha, ai ra’itu syu’unaha bil awamir wan nawahi.” (Aku memimpin rakyat dengan sungguh-sungguh, yaitu aku memerintah dan melarangnya, atau aku mengurusi urusan-urusan mereka dengan perintah dan larangan-larangan tertentu).

Kepedulian terhadap kepentingan kaum muslimin artinya mengurusi kepentingan mereka serta mengetahui apa yang diberlakukan penguasa terhadap rakyatnya. 

Mengingkari kejahatan penguasa termasuk berpolitik dan peduli terhadap kepentingan umat Islam, menasihati pemimpin yang lalim adalah juga bentuk kepedulian terhadap kepentingan kaum muslimin, mendongkrak otoritas penguasa (yang tidak Islami) yaitu memeranginya merupakan kepedulian terhadap kepentingan kaum muslimin dan mengurusi persoalan-persoalan mereka.

Menyibukkan diri dalam politik, yakni memperhatikan kepentingan kaum muslimin, adalah dengan cara menolak tindakan aniaya penguasa serta aniaya musuh terhadap mereka.

Banyak hadis yang menunjukkan adanya tuntutan yang tegas, yakni Allah telah menuntut kaum muslimin dengan tuntutan yang tegas agar mempedulikan kepentingan kaum muslimin, yaitu agar mereka berpolitik. 

Salah satu hadis berbunyi, “Barang siapa di pagi hari perhatiannya kepada selain Allah, maka Allah akan berlepas diri dari orang itu. Dan barang siapa di pagi hari tidak memperhatikan kepentingan kaum muslimin maka tidak termasuk golongan mereka (kaum muslimin).”

 Dalam hadis lain disampaikan bahwa, “Bani Israil dulu dipimpin oleh para nabi. Tatkala seorang nabi wafat, maka diganti dengan nabi baru, dan sesungguhnya tidak ada nabi setelahku tetapi akan ada para khalifah yang jumlahnya banyak (artinya, para khalifah akan memimpin kalian-penj.)”.

Pada masa Rasulullah SAW., masjid merupakan pusat pengurusan berbagai keperluan umat, tidak hanya sebagai tempat ibadah mahdhah semata sehingga masjid pun menjadi pusat pengembangan tsaqafah (ilmu) Islam, pusat penyebaran agama Islam dan pusat pengembangan peradaban Islam. 

Hal ini dilanjutkan oleh khulafaur rasyidin dan para khalifah setelahnya. Maka umat Islam seharusnya  memfungsikan masjid seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Wallahu a’lam.


Oleh: Dra. Rivanty Muslimawaty, M. Ag.
Dosen di Bandung dan Aktivis Muslimah 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar