Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Hidup dan Matiku Hanya untuk-Mu


Topswara.com-- Suatu hari, Rasulullah SAW memegang pundak Abdullah bin Umar. Beliau SAW kemudian berpesan, "Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau pengembara."

Rupanya putra Umar bin Khattab itu sangat terkesan dengan ucapan singkat Rasulullah hingga dia berkata, "Jaga nikmat hidupmu sebelum ajal menjemputmu." 

Ya, hidup ibarat perjalanan. Dan diri kita adalah musafir. Sebagaimana perkataan Ibnul Qayyim, "Manusia sejak tercipta dilahirkan untuk menjadi pengembara." 

Sayangnya, sifat pengembaraan manusia sering membuatnya alpa kala berada di padang sabana kehidupan. Manusia menjadi rakus dalam berburu rezeki. Hingga ia lupa sebenarnya hidup untuk apa dan siapa. Terlalu mengejar sarana, lalai hakikat tujuan hidup di dunia.  

Dari Mana Kita?

Setiap manusia siapa pun dia, entah disadarinya atau tidak, pasti memiliki pertanyaan mendasar dalam dirinya: dari mana saya, untuk apa saya hidup, ke mana saya setelah mati. Jawaban dari ketiganya akan menjadi pemandu menjalani hidup keseharian. 

Maka bila tak mampu menjawabnya, ia akan gegana (gelisah, galau, merana), hatinya diliputi kebimbangan, hidupnya terombang-ambing dalam ketidakpastian.

Lantas, dari mana manusia berasal? Di sinilah pentingnya manusia melakukan aktivitas tafakur terhadap diri, manusia lain, alam semesta sekitarnya, dan kehidupan secara umum. Aktivitas ini akan mengantarkan kita pada keberadaan Allah SWT Sang Maha Pencipta, pun sebagai ayat-ayat kebesaran-Nya. 

Dalam banyak ayat Al-Qur'an, Allah SWT memerintahkan manusia untuk memikirkan tentang penciptaan-Nya. Seperti dalam QS. Ali Imran: 190-191, QS. Ar Ruum: 21, QS. Al Ghasiyah: 17-20, dan seterusnya. 

Kala ia mampu menyinergikan hasil penginderaan pada alam semesta dan mengaitkannya dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur'an, maka paduan ayat kauniyah dan ayat qauliyah ini akan memberikan pencerahan bahwa dari Allah-lah ia berasal.  

Untuk Apa Kita Hidup?

Selain menciptakan manusia, Allah SWT pun membekalinya dengan seperangkat aturan agar menjadi pengarah hidup sekaligus solusi permasalahan. Allah SWT Maha Mengetahui atas karakter hamba-Nya, sekaligus Maha Pengasih Penyayang tak ingin sang hamba mengalami kesulitan. 

Dia turunkan Islam sebagai agama kamil wa syamil melalui Rasulullah SAW sebagai bekal manusia menjalani hidup di seluruh aspek kehidupan. Maka, tak lain dan tak bukan, hidup semestinya hanya untuk menyembah, beribadah, dan taat pada-Nya. 

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." (QS. Adz Dzariyaat: 56)

Ke Mana Kita Setelah Mati?

Lalu, saat ajal telah tiba, kita hendak ke mana? 

كُلُّ نَفۡسٍ ذَآٮِٕقَةُ الۡمَوۡتِ ۖ ثُمَّ اِلَيۡنَا تُرۡجَعُوۡنَ‏

"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan." (QS. Al Ankabut: 57).

Setelah nyawa tiada, kita melanjutkan perjalanan pada kehidupan abadi yaitu akhirat. Di sana kelak kita harus mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita di dunia. Sudahkah sesuai dengan aturan Allah SWT, atau justru sering menyelisihinya? 

Saat mulut terbungkam, dan kaki serta tangan yang bicara. Yaa Rabb...

Dengan demikian, kita ini berasal dari Allah, hidup hanya untuk Allah, dan kelak kembali pada Allah. Hidup dan mati hanya untuk-Mu ya Allah. 

قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ

"Katakanlah (Muhammad), 'Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam'." (QS. Al An'am: 162).


Oleh: Puspita Satyawati
(Founder Kajian Sholihah, Sleman, DIY)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar