Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Fashion Street Penyakit Latah Masyarakat Hedonis


Topswara.com -- Jika di Jepang ada harajuku maka di Indonesia ada Citayam Fashion Week yang di awal kemunculannya begitu viral, aksi sekelompok remaja yang berlenggak-lenggok bak model di jalan zebra cross maupun trotoar menjadi sebuah fenomena yang latah diikuti oleh para remaja. 

Tak hanya di Jakarta rupanya demam fashion street menjalar sampai ke daerah-daerah bahkan tidak menutup kemungkinan sampai ke pelosok desa. Tak ketinggalan di Sulawesi Tenggara yakni Kota Bau-Bau.

Melansir dari laman tribunNews.com, sejumlah mahasiswa UM Buton menggelar fashion show dengan tema UM Buton Fashion Week. Mereka berjalan menyeberangi Jl. Betoambari dengan mengenakan kain tenun khas Buton. Aksi ini kemudian direkam dan videonya viral di medsos, (27/7/2022).

Selain itu, ada rencana selanjutnya untuk melakukan pergelaran busana yang berjudul “Raha Fashion Week” yang akan di adakan oleh anak muda Raha lewat Dteras Entertainment yang akan dikolaborasikan bersama dengan anak-anak Kreatif Milenial Raha, yang di adakan di Area By-pass Kota Raha, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. 

Kira-kira pada 6 sampai 7 Agustus 2022. Dalam acara tersebut, bukan hanya diadakan street fashion sahaja, tetapi akan di meriahkan juga dengan dance dan live music. Bahkan kini sudah diperkirakan 40 orang yang telah mendaftar untuk ikut dalam Raha Fashion Week tersebut. (Kendariinfo.com, 02/08/2022)

Bukan hanya para ABG, fashion street juga diramaikan oleh kaum pelangi seolah para pelaku LGBT mendapat panggung untuk menunjukkan eksistensi mereka. Fenomena ini seolah sengaja di-framing oleh berbagai media sehingga aksi-aksi Jalanan seperti ini semakin eksis dan menjamur karena mendapat apresiasi dan dukungan oleh banyak kalangan baik dari kalangan artis maupun pemerintah. 

Bukannya memberikan proteksi, penguasa justru ikut latah menjadi bagian dari fenomena tersebut dengan dalih mendukung kreativitas anak muda. Sehingga kata-kata EGP, suka-suka gue, masbuloh dari generasi latah ini seolah menjadi mantra yang melegitimasi aksi para remaja dalam mengekspresikan diri di jalanan. 

Dengan paham kebebasan berekspresi asalkan tidak mengganggu orang lain maka setiap orang bebas mengekspresikan diri sekalipun mengganggu ketertiban umum. 

Ini realitas yang terjadi di negeri sekuler, konsep fun, food and fashion yang senantiasa diminati generasi remaja yang berasaskan kebebasan tanpa rambu-rambu syariat agama. Inilah wajah buruk sistem kapitalis-sekuler yang diterapkan di negeri ini. Para remaja tak lagi sibuk menimba ilmu tapi menghabiskan waktu dengan nongkrong dan membuat konten. 

Fenomena ini menggambarkan wajah buruk pendidikan sekuler yang diterapkan di negeri ini, walau tak semua generasi seperti yang ada di citayam namun keberadaan mereka mewakili potret buruknya pendidikan di negeri ini. Inilah salah satu bukti negara yang tidak berhukum kepada Islam pasti akan merusak generasinya.

Sosiolog Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta Drajat Tri Kartono menilai, Street Fashion ini merupakan salah satu cara anak muda untuk menonjolkan identitasnya. Aksi street fashion, para ABG ini mampu menarik perhatian, sehingga keberadaan mereka diakui oleh masyarakat luas. Atau bisa dibilang ini fenomena remaja yang sedang mencari jati diri.

Namun tentunya fenomena ini perlu disikapi dengan tepat, terutama bagi remaja muslim, yang jelas ini adalah sebuah fenomena unik yang cukup mengusik. Fenomena ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa remaja sedang mengalami krisis identitas. 

Serbuan pemikiran tentang kebebasan di media sosial telah mengubah mindset mereka akan kehidupan. Mereka begitu mendewasakan kebebasan dan tak lagi berpikir jernih untuk masa depannya.

Dalam Islam generasi remaja adalah tonggak kebangkitan yang pundaknya memikul harapan kebangkitan umat maka dibutuhkan adanya tiga peran yang bersinergi untuk menyelamatkan para generasi dari paparan gaya hidup bebas akibat sistem sekuler.

Pertama, dibutuhkan peran negara, negara akan membendung serangan musuh-musuh Islam ke tengah-tengah kaum muslim dan menjaga masyarakat agar tetap dalam keimanan yang sesuai syariat Islam. Negara akan memberikan pembinaan kepada remaja guna mempersiapkan generasi yang nantinya akan membawa perubahan peradaban sesuai dengan syariat Islam.

Kedua, dibutuhkan peran keluarga, dalam masa pencarian identitas diri yang penuh gejolak ini, orang tua sebagai pendidik pertama dan utama memiliki peran yang sangat penting dalam pembinaan akhlak putra-putrinya yang akan mengantarkan ke arah kematangan dan kedewasaan. 

Sehingga akhlak karimah dapat terinternalisasi dalam pada diri setiap anak dan berdampak positif bagi kehidupan mental dan spiritualnya, dengan demikian anak-anak dapat mengendalikan dirinya, menyelesaikan persoalannya, menghadapi tantangan hidupnya dan dapat memberikan kekuatan yang positif bagi anak dalam menjalani proses hidup serta dapat menyikapi dampak negatif yang diakibatkan oleh sistem liberalisme.

Allah SWT berfirman dalam QS At-Tahrim [66]:6  “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Ketiga, peran masyarakat, masyarakat sebagai kontrol sosial juga sangat berperan dalam pembentukan kepribadian Islam remaja, kepedulian terhadap sesama akan membentuk jiwa-jiwa yang tidak akan diam menyaksikan kemudaratan merajalela, dari kepedulian masyarakat dalam menegakkan amar makruf nahi mungkar akan muncul generasi Islam yang bertakwa dan bermartabat sehingga segala penyimpangan remaja dapat dikendalikan. Menjadi generasi yang shalih, penyejuk pandangan dan hati kedua orang tua dan masyarakatnya.

Demikianlah negara Islam menjaga akidah masyarakatnya, kepala negaranya hadir sebagai perisai dan penyelamat umat, sehingga akidah masyarakatnya terjaga.
Mari selamatkan generasi muda negeri ini dengan mewujudkan diterapkannya Islam secara kaffah. Wallahu alam bisshawab.


Oleh: Nahmawati, S.IP
Pegiat Opini
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar