Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Omicron Merubah Arah Pandemi


Topswara.com -- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut varian Omicron mampu mengubah arah pandemi. Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebutkan bahwa saat ini Omicron sudah terdeteksi di 57 negara. Varian baru ini juga dianggapnya mampu menyebar lebih cepat dibandingkan varian-varian sebelumnya. (CNBCIndonesia, 12/12/2021). 

Menurut Tedros fitur tertentu dari Omicron, termasuk penyebaran global dan sejumlah besar mutasi, menunjukkan bahwa itu bisa berdampak besar pada perjalanan pandemi.

Varian virus Omicron yang pertama kali dideteksi di Afrika Selatan pada 24 November lalu, kini telah menyebar di 57 negara termasuk Indonesia. Varian Omicron juga dikenal sebagai garis keturunan B.1.1.529 yaitu sebuah varian SARS-Cov-2. Penyebarannya cukup cepat dan sulit dideteksi karena tidak ada gejala atau tanda-tanda terinfeksi virus bagi penderita. 

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengumumkan kasus pertama COVID-19 varian Omicron pada Kamis (16/12/2021). Varian tersebut diketahui menginfeksi seorang pekerja pembersih di RSDC Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta. (Kemkes.go.id, 16/12/2021).

Merespon penyebaran Covid-19 varian Omicron yang sangat cepat. WHO menghimbau negara-negara mempercepat vaksinasi dan menjaga langkah-langkah untuk melindungi masyarakat dari infeksi Covid-19. WHO khawatir Omicron menjadi sebab munculnya gelombang pandemi ketiga karena tidak memadainya informasi dan pelayanan. 

Hal tersebut menjadi bukti kesekian kali kegagalan sistem kapitalis dalam menangani pandemi. Sistem kapitalis akan selalu menempatkan kepentingan ekonomi di atas segalanya. Dimana meraih manfaat adalah asasnya. Tak peduli bagaimana kondisi yang sedang dialami apakah terjadi pandemi atau tidak. Meraih sebanyak-banyaknya materi akan tetap menjadi tujuan. Tak heran bila kita jumpai beberapa oknum DPR yang korupsi dana bantuan sosial dikala pandemi. 

Penguasa hari ini juga terus berupaya menggenjot perekonomian negeri dan membiarkan masyarakat beraktivitas seperti biasa dengan diberlakukannya new normal. Mereka hanya diimbau untuk tetap mematuhi protokol kesehatan dalam aktivitasnya.  Memang betul roda perekonomian penting untuk kesejahteraan hidup. Namun, tidak dibenarkan jika mengorbankan nyawa rakyat demi kepentingan ekonomi. 

Dalam kondisi seperti itu kemunculan gelombang baru pandemi Covid-19 terus menghantui dunia. Sebagaimana kita ketahui pandemi yang hampir dua tahun ini tak kunjung berakhir. Salah satu penyebabnya adalah kecacatan dalam penanganannya. Negara tidak siap dengan munculnya wabah, baik secara medis maupun perekonomian. Banyak tenaga kesehatan yang tumbang dan ribuan masyarakat menjadi korban.

Dunia membutuhkan sistem yang bisa menghentikan pandemi. Sistem ini harus sistem yang shahih bukan seperti sistem sekuler-kapitalis. Sistem ini adalah sistem Islam dimana Al-Qur’an dan hadis akan senatiasa menjadi landasan kebijakannya. 

Dalam sejarah kaum Muslim wabah tidak hanya terjadi kali ini. Wabah tha'un pernah melanda umat Muslim pada zaman Rasulullah SAW hingga masa setelahnya. Seperti Tha’un syirawaih yang terjadi pada tahun keenam hijriyah. Tha’un ‘Amwas yang terjadi pada masa Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. Wabah tersebut melanda hingga ke negeri Syam dengan korban jiwa hampir 25.000 orang. 

Tha’un pada zaman Ibnu Zubair yang menyebabkan kematian selama tiga hari dimana ada 70.000 korban jiwa setiap harinya. Wabah tersebut terjadi pada bulan Syawwal tahun 69 Hijriyah. Tha’un Fatayat terjadi pada tahun 87 hijriyah dan mayoritas melanda para gadis. Tha’un black death (maut hitam) terjadi pada abad ke 14 masehi. Penyebarannya berawal dari Eropa, Asia dan Afrika hingga masuk kedunia Islam melalui kota-kota besar di Timur Tengah yang menyebabkan kematian kurang lebih 200 juta orang. Namun, wabah-wabah tersebut bisa cepat diatasi. 

Penanggulangan wabah yang relatif singkat dalam sistem Islam ditopang oleh dua tujuan pokok, yakni nenjamin kehidupan normal diluar area yang terjangkiti wabah dan memutus rantai penularan.

Berikut beberapa hal yang dilakukan Khilafah sebagai sistem penerapan Islam kaffah dalam mengatasi pandemi : 

Pertama, lockdown syar’i. 
Rasulullah SAW bersabda: “Apabila kalian mendengar wabah di suatu tempat, maka janganlah memasuki tempat itu, dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu sedang berada di tempat itu, maka jangan keluar darinya.” (HR. Imam Muslim). 

Prinsip yang diajarkan oleh Rasulullah SAW ini sangat efektif untuk memutus rantai penularan wabah. Selain menjaga masyarakat dari penularan mereka tetap bisa beraktivitas seperti biasa dan roda perekonomian tetap berjalan. Sedangkan, bagi tempat yang terjangkit wabah akan cepat teratasi dan tidak berlarut-larut. 

Kedua, pengisolasian yang sakit.
Rasulullah SAW bersabda: “Sekali-kali janganlah orang yang berpenyakit menular mendekati yang sehat.” (HR. Imam Bukhari)

Pemisahan antara yang sehat dan yang sakit bisa dilakukan dengan testing massif. Kemudian yang terinfeksi wabah harus segera diisolasi dan diobati hingga benar-benar sembuh. Karena sesungguhnya setiap penyakit ada obatnya. 

“Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obat, dan diadakan-Nya bagi tiap-tiap penyakit obatnya. Maka berobatlah kamu tetapi janganlah berobat dengan yang haram.” (HR. Imam Bukhari)

Ketiga, kesehatan adalah kebutuhan pokok publik yang harus dijamin pemenuhannya oleh negara. Sehingga, masyarakat dapat mengakses kesehatan tanpa keluar biaya. 

Keempat, begara akan membiayai berbagai penelitian terkait pengobatan yang efektif dan efisien. Baik itu obat-obatan, vaksinasi, atau sejumlah upaya mitigasi untuk menangani pandemi. Sehingga persiapan dalam penanganan pandemi sudah maksimal dan penanganannya bisa cepat diatasi. 

Pelaksanaan prinsip-prinsip tersebut akan menutup rapat peyebaran virus Covid-19 atau yang lainnya. Namun, pelaksanaan ini harus dalam sistem kehidupan Islam yang didukung dengan sistem kesehatan Islam dalam khilafah islamiyah. Karena hanya khilafah satu-satunya sistem yang shahih dari Allah SWT untuk mengatur kehidupan manusia. 

Adapun keberhasilannya telah terbukti mampu menghentikan pandemi. Berbeda dengan sistem Kapitalis-Sekuler dimana setiap kebijakannya berorientasi pada keuntungan pemilik modal untuk meraih manfaat sebanyak-banyaknya. Sehingga wajar bila pandemi terus berlarut dan tak kunjung berakhir. 

Apakah kita akan tetap mempertahankan sistem yang nyata tidak bisa memberikan solusi tuntas terhadap permasalahan yang ada?

Wallahu a’lam bishawab


Oleh: Anisa Alfadilah
(Sahabat Topswara)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar