Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Pejabat Makin Kaya, Rakyat Makin Terluka


Topswara.com -- Satu setengah tahun sudah Indonesia hidup di tengah wabah pandemi Covid-19. Selama itu pula rakyat Indonesia selain menghadapi badai Covid-19, juga mengalami kelesuan ekonomi dan ketahanan keluarga yang terancam. Tidak sedikit kepala keluarga yang di PHK. Tidak sedikit juga kepala keluarga yang dipotong gaji bulanannya. Usaha-usaha gulung tikar. Banyak pedagang kecil yang tertatih mencari pendapatan hariannya.

Namun berdasarkan laporan harta kekayaan penyelenggara negara (LHKPN), 70 persen penyelenggara negara memiliki harta berlimpah selama pandemi berlangsung. (Merdeka.com, 9/9/2021)

Kondisi ini berbanding terbalik dengan apa yang dialami rakyat. Sebuah ironi di tengah pandemi yang belum berhenti.

Naiknya pendapatan penyelenggara negara bukan suatu hal yang patut disyukuri. Sebab rakyat justru semakin melarat di tengah pandemi. Mungkin itu adalah hal yang patut dievaluasi. Sudah siapkah para penyelenggara negara tersebut mempertanggung jawabkan harta kekayaannya di hadapan Allah? Apakah ia dapatkan harta tersebut sebab senantiasa memikirkan dan mengurus rakyatnya? Apakah waktu dan pikirannya senantiasa terkuras untuk mengurusi urusan rakyat? Ataukah ia hanya memikirkan diri dan kelompoknya?

Pemerintahan saat ini memang bukanlah pemerintahan Islam. Namun tidak salah jika kita sebagai negeri Muslim terbesar, yang pejabatnya juga mayoritas Muslim, berkaca kepada pemimpin Muslim terdahulu dalam bersikap.

Sejarah merekam Khalifah Umar bin Khattab sampai menghitam kulitnya sebab beliau tidak memakan daging dan minyak Samin karena ingin merasakan apa yang dialami oleh rakyat. Sebuah rasa empati yang dimiliki seorang pemimpin. Demikian juga Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang diawal kepemimpinannya memiliki kekayaan 400.000 Dinar. Sedangkan diakhir kepemimpinannya jika diaudit hanya sekitar 400 Dinar. Ini adalah gambaran bahwa pemerintah benar-benar menggunakan pikiran dan waktunya untuk rakyat. 

Pemimpin betul-betul memprioritaskan kebaikan rakyat. Sehingga bisnisnya tidak menjadi prioritasnya lagi. Berbeda dengan sistem pemerintahan (sekuler dan kapitalistik) saat ini yang sangat berpeluang untuk memperkaya diri dengan kursi kekuasaan. Tidak ada rasa empati di tengah pandemi. Yang ada pejabat makin kaya rakyat makin terluka.

Sebaik-baik pemimpin adalah ia yang seperti ibu menyusui anaknya. Ia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, melainkan memikirkan dan memberikan yang terbaik untuk anaknya. Seburuk-buruk pemimpin adalah seperti penyapih, yang ia tahu anaknya masih butuh persusuan namun tidak diberikannya.

Wallahu a'lam bishawwab

Oleh: Annida K Ummah
(Aktivis Dakwah)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar