Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Standar Kecantikan dalam Islam

Topswara.com -- Setiap perempuan pasti senang jika dipuji cantik atau dibilang awet muda. Pun sangat takut jika mulai terlihat kerutan di sana sini, khususnya di wajah. 

Pada dasarnya, setiap perempuan diciptakan cantik. Apapun jenis kulitnya, rambut, bentuk tubuh dan lainnya. Semuanya cantik dengan keunikannya masing-masing. Namun seiring perkembangan zaman, kini definisi cantik memiliki standarnya sendiri.

Tentu saja standar ini dipengaruhi oleh banyak hal, misalnya karena budaya atau tren kecantikan yang lagi viral. Sehingga menganggap, perempuan hanya bisa dikatakan cantik jika sesuai tren yang sedang terjadi. Maka, setiap negara pasti punya standar kecantikan masing-masing yang berbeda.

Di Indonesia, perempuan dikatakan cantik jika tubuhnya langsing, kulitnya putih, tinggi semampai dan rambutnya lurus panjang. Berbeda dengan Prancis yang menganggap perempuan cantik jika berdandan minimalis, natural dan rambut berantakan alami. 

Mata bundar dan kulit putih merupakan standar kecantikan di Korea Selatan. Bahkan seringkali perempuan Korea melakukan operasi wajah demi mendapatkan kata cantik. Berbeda dengan di Australia, di sana perempuan cantik adalah mereka yang berkulit agak gelap dan bertubuh atletis. Di Mauritania lebih unik lagi. Standar cantik yaitu perempuan dengan tubuh yang gemuk.

Perempuan Indonesia jika mengikuti standar kecantikan yaitu berkulit putih, tinggi semampai dan rambut lurus panjang, dipastikan bakal insecure. Karena manusia  mempunyai gen berbeda dan siklus hormonal yang tidak sama. Sehingga tidak mungkin semua orang mempunyai kulit putih mulus dan rambut hitam lurus. Apalagi jika Muslimah mengikuti standar kecantikan ala manusia sampai berusaha mewujudkannya, ini bisa berbahaya.

Fisik, Standar Cantik ala Kapitalisme 

Standar kecantikan perempuan yang berbeda-beda pada masing-masing negara jika kita amati, pasti tentang fisik. Jadi kecantikan hanya dinilai dari fisik sesuai selera yang membuat standar.

Kita wajib tahu jika standar kecantikan itu ternyata dipaksakan melewati media. Jika dulu zamannya majalah ya lewat majalah lalu dilanjutkan dengan kompetisi kecantikan mulai level kampung sampai internasional dan itu disiarkan live di televisi, kalau sekarang via sosial media. 

Pelan-pelan kita akan dipengaruhi agar mempunyai keinginan untuk menjadi cantik seperti yang telah mereka standarkan. Kemudian kita akan dikenalkan dengan berbagai macam produk kecantikan agar bisa cantik seperti wajah idola. Maka muncullah salon-salon kecantikan yang seolah-olah menjadi jawaban dari keinginan para perempuan yang ingin menjadi cantik.

Muncullah berbagai macam produk kecantikan
dari masker lumpur hingga masker emas, banyak wanita kerap menggunakannya untuk merawat kulitnya. Bahkan dengan pengunaan terapi urine pada wajah yang konon kabarnya dapat menghilangkan jerawat dan mengenyalkan kulit. 

Selain itu, muncul pula obat pelangsing, krim pemutih dan pencerah, pengencang wajah dan lain-lain beserta iklan- iklannya yang akan membuat para perempuan berlomba-lomba membelinya. Maka mengalirlah uang ke perusahaan kosmetik, salon kecantikan, dokter-dokter pelaku operasi plastik dan semakin banyak yang ingin cantik dengan standar fisik.

Produsen produk kecantikan semakin kaya dan konsumen semakin ketagihan dengan produk mereka. Karena saat para perempuan berhenti memakai produk mereka, maka bisa jadi wajahnya menjadi kusam kembali bahkan bertambah rusak. 

Dan ini merupakan salah satu dampak penerapan kapitalisme. Kapitalisme adalah sebuah cara pandang tentang kehidupan di mana semua hanya dinilai dengan uang dan manfaat semata. Semakin banyak para perempuan yang ketagihan produk kecantikan, maka semakin kaya raya pula para produsen kecantikan.

Sadarlah, selama kita hidup dalam sistem kapitalisme, maka standar ini akan terus dipertahankan dengan ukuran-ukuran yang terus berubah sesuai keinginan mereka dan uang pun akan terus mengalir ke mereka.

Para Muslimah yang telah teracuni paham kapitalisme pasti bakalan mematok kebahagiaannya dengan standar kecantikan ini. Maka mereka akan berbondong-bondong untuk memborong produk-produk tersebut. Sibuk perawatan sampai-sampai lupa kalau punya kewajiban untuk mengkaji Islam, mengamalkan dan mendakwahkannya. Lebih galau jika kulit yang menghitam, sulit bersyukur dan insecure. Naudzubillah.

Standar Cantik dalam Islam

Islam mempunyai standar dengan sangat indah, sederhana serta tidak berorientasi pada fisik. Fisik atau tubuh kita adalah pemberian Allah SWT. Allah tidak akan bertanya, mengapa kulit kita hitam legam. Artinya, fisik tidak akan dihisab dan bukan penentu kita mau masuk surga atau neraka.

Muslimah cerdas tidak akan pernah memusingkan masalah yang tidak dihisab. Jadi santai saja. Muslimah yang cerdas hanya fokus pada perkara-perkara yang berupa pilihan. Karena itulah yang nantinya akan dimintai pertanggungjawaban.

Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh-tubuh kalian, tidak pula pada rupa kalian. Akan tetapi, Dia melihat kepada hati-hati kalian dan amalan kalian."
(HR. Al-Bukhari)

Agar kita tidak teracuni paham rusak ini, maka kita butuh mengkaji Islam, menginstal pemahaman yang benar sehingga mampu menjadikan standar kebahagiaan hanya ridha Allah saja. Namun tidak cukup dengan mengkaji Islam jika masyarakatnya  masih menganut paham kapitalisme, sehingga akan mudah terbawa arus. 

Maka, kita juga harus mengajak masyarakat berubah menjadi masyarakat islami dengan cara berdakwah. Tidak cukup sampai di sini, ternyata negara juga berperan penting untuk membentuk masyarakat islami. Negara perlu menerapkan sistem untuk mengatur tayangan media yang tidak sesuai dengan syariat. Terlebih negara Islam akan menjadikan media sebagai alat mengedukasi dan menguatkan ketakwaan individu masyarakatnya. Dari media itu akan dibuat arus tentang definisi kecantikan yang benar. Begitu pula apa yang harus dikejar oleh Muslimah.

Gambaran tentang ibunda kaum Muslimin yaitu Khadijah RA begitu luar biasa dalam mendukung dakwah suaminya. Bagaimana dengan Aisyah RA yang dengan kecerdasannya beliau mengajarkan hadis dengan sangat banyak. Inilah standar kecantikan dalam  sistem Islam di mana seorang Muslimah hanya berbuat demi mengejar ridha Allah semata.

Tentunya kaum Muslimah pasti ingin kehidupannya kembali diatur dengan sistem Islam. Caranya mudah, janji Allah SWT tentang kembalinya sistem Islam sebagai sistem kehidupan sudah ada. Tinggal kita mau menjemput janji-Nya dengan istikamah, mengkaji Islam dan ikut mendakwahkannya bersama kelompok dakwah Islam ideologis yang aktif melakukan perbaikan di tengah masyarakat untuk melanjutkan kembali kehidupan Islam []

Nabila Zidane
(Forum Muslimah Peduli Generasi dan peradaban)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar