Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

INDEF: Ada Tekanan Sangat Besar terkait Impor Pangan


Topswara.com -- Menanggapi kebijakan impor pangan, Head for Centre of Macroeconomic and Finance INDEF, Dr. M. Rizal Taufikurahman menyatakan, ada tekanan yang sangat besar kepada kebijakan pemerintah.

“Saya melihat ada tekanan yang sangat besar kepada kebijakan pemerintah diluar kekuatan pemerintah itu sendiri, siapa mereka ya tentu saja mereka yang memiliki kepentingan terhadap impor,” tuturnya dalam acara Kajian Paradigma #38 : Negara Agraris Impor Pangan, Ada Apa?. Sabtu (27/3/2021) di kanal YouTube Follback Dakwah.

Menurut Rizal, kebijakan pemerintah memang sangat dipengaruhi banyak faktor termasuk perdagangan impor ataupun ekspor. “Disitu terkait dengan kepentingan para pelaku, baik dari inportir maupun eksportir,” ujarnya.

Ia melihat ada satu kekuatan di luar pelaku ini yang mempengaruhi terhadap kebijakan importasi beras pada kondisi saat ini.

“Siapa mereka? yang pasti para pengusaha. Pelaku-pelaku ekspor atau pengusaha ini pasti memburu profit atau memburu rente. Mereka inilah yang sebenarnya sangat mempengaruhi terhadap pasar beras atau pasar pangan kita,” tegasnya.

Menurutnya, stok beras 7,38 juta ton yang ada di bulog sudah mulai turun mutunya. “Itu sisa dari impor 2,5 juta ton yang di tahun 2019. Ini menunjukkan bahwa selama ini stok beras yang didistribusikan tidak langsung habis secara optimal,” ujarnya.

Ia menilai dari hitungan bisnis, para pelaku ini untuk 1 juta ton, kalau per kilonya diambil 2,000-3,000 rupiah itu sudah untung banyak. “Untung berapa triliun? Itu sudah bisa terbayangkan. Memang kebijakan ini sudah lama terjadi dan sebenarnya pengulangan dari kebijakan-kebijakan yang sudah terjadi sebelumnya,” ujarnya.

Menurutnya, pemerintah seharusnya pro terhadap perbaikan dan kesejahteraan petani. “Diproteksi dan disubsidi. Di negara manapun, bahkan di negara maju sekalipun, namanya petani itu harus benar-benar disayang, bukan dibiarkan berjibaku sendiri mencari pasar,” paparnya.

Apalagi bangsa yang sangat besar jumlah penduduk petaninya banyak, menurutnya, harus dirawat dan disayangi. “Diberikan berbagai subsidi dan insentif untuk mereka mau bercocok tanam,” pungkasnya. [] Aslan La Asamu
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar