Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Uniol 4.0 Diponorogo Beberkan Dampak dan Strategi Islam Atasi Bencana


Topswara.com-- Dosen Online (Dosol) Uniol 4.0 Diponorogo, Tri Widodo dan Adri M. Pamboedi mengungkap bencana merupakan kejadian paling mengerikan di muka bumi karena bencana umumnya menimbulkan dampak yang sangat besar.

“Bencana selalu mendatangkan kerugian baik dari segi material maupun imaterial. Besaran kerugian yang diakibatkan tentu saja bervariasi antara bencana yang satu dengan yang lain, tergantung pada skala dan intensitasnya, khususnya dampak yang ditimbulkan bagi manusia dan berbagai kepentingannya," ungkapnya dalam Kuliah Online WAG Uniol Diponorogo, Senin (12/01/2021).

Mereka menambahkan, beberapa dampak akibat terjadinya bencana. Pertama, dampak terhadap lingkungan bencana juga dapat menimbulkan berbagai kerusakan lingkungan. Ia misalkan, kecelakaan kapal tanker di laut yang minyak (olie) yang diangkut dan tumpah di laut akan mencemari laut dan mengganggu makhluk hidup di laut tersebut.

Kedua, dampak terhadap infrastuktur. Ia katakan, bencana dalam skala besar dapat menyebabkan rusaknya prasarana dan sarana sehingga menyebabkan berbagai aktivitas terganggu. Selain itu menurutnya, bencana dapat menyebabkan kerugian berupa kehilangan harta benda yang tak sedikit jumlahnya.

Ketiga, dampak terhadap kehidupan. Ia jelaskan, bencana memang tidak dapat diduga kapan dan di mana terjadinya sehingga tak heran jika menyebabkan banyak korban jiwa. "Beberapa bencana yang sangat dahsyat bahkan dapat memakan jutaan korban jiwa. Tidak hanya manusia, bencana juga mengakibatkan matinya banyak hewan yang tidak sempat menyelamatkan diri dari bencana," imbuhnya.

Keempat, dampak terhadap perekonomian. Ia katakan, bencana menimbulkan banyak kerusakan yang dapat mempengaruhi sumber daya alam maupun sumber daya manusia, akibatnya pembangunan perekonomian akan terhambat. "Selain itu, bencana akan menyebabkan kelangkaan sumber daya sehingga akan timbul berbagai masalah dalam perekonomian suatu negara. Bencana juga dapat mempengaruhi harga komoditas pangan dan energi yang tentunya akan memicu terjadinya inflasi," jelasnya.

“Bencana selalu mendatangkan kerugian baik dari segi material maupun imaterial. Besaran kerugian yang diakibatkan tentu saja bervariasi antara bencana yang satu dengan yang lain, tergantung pada skala dan intensitasnya, khususnya dampak yang ditimbulkan bagi manusia dan berbagai kepentingannya,” bebernya.

Mereka menjelaskan, pengalaman-pengalaman individual menggambarkan betapa bencana menorehkan dampak buruk secara psikologis-emosional.

“Angka statistik tidak mampu menggambarkan dampak jenis ini, melainkan hanya dapat diketahui lewat kesaksian-kesaksian para korban. unaidi (47 tahun),  korban banjir tahun 2006 di Situbondo, menggambarkan kegetirannya, pikiran tidak menentu, resah, stres, trauma melihat kejadian itu dan saat teringat barang yang hilang, menangis,” imbuhnya.

“Pada umumnya, bencana alam yang terjadi di Indonesia merupakan peristiwa yang berulang. Atau contoh lainnya yang sudah menjadi rutinitas ialah bencana hidrometeorologi setiap tahunnya selalu menimpa Tanah Air," tukasnya.

Begini Strategi Islam dalam Menghadapi Musibah

Menurutnya, sebagai negara yang berada di wilayah rawan bencana, masyarakat Indonesia tidak bisa mengelak atau menghindar. Namun katanya, setidaknya upaya-upaya membangun sikap dan strategi dalam menghadapi musibah harus dilakukan oleh individu, masyarakat dan negara.

"Dalam menghadapi musibah sikap yang perlu dilakukan meliputi aspek keyakinan dan aspek penanganan. Seorang mukmin dituntut meyakini bahwasanya tidak ada satupun musibah yang menimpa umat manusia kecuali atas izin Allah," tuturnya.

"Tidak hanya itu saja, seorang mukmin diperintahkan untuk mengambil pelajaran dari musibah agar ia memperbaiki diri dan kembali taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala," imbuhnya.

Ia menjelaskan, adapun dalam aspek penanganan terhadap musibah, Khilafah Islamiyah sebagai negara yang mengatur dengan hukum Islam menggariskan kebijakan-kebijakan komprehensif yang terhimpun dalam manajemen bencana model Khilafah Islamiyah.

Ia menjelaskan dalam menghadapi musibah karena faktor non alam seperti kondisi wabah penyakit Covid-19 yang terjadi saat ini Islam menangani dengan cara sebagai berikut. Pertama, setiap muslim wajib mengimani bahwa wabah penyakit adalah bagian dari musibah yang diberikan Allah SWT. Kedua, menumbuhkan optimisme bahwa wabah penyakit akan mendatangkan pahala dan menaikkan derajat bila disikapi dengan sabar. Ketiga, tidak mencaci maki penyakit. 

Keempat, berobat dengan pengobatan yang halal. Kelima, menghilangkan faktor penyebab penyakit. Keenam, tetap optimis dan haram meminta kematian. Ketujuh, mengembangkan teknologi kedokteran dan medis yang mutakhir serta berkhidmat pada kemanusiaan. Kedelapan, mengisolasi wilayah wabah, mencegah warga keluar dan masuk.

Ia menjelaskan, Islam memberikan panduan hidup agar musibah non alam semisal kecelakaan pesawat udara bisa diminimalkan, di antaranya. Pertama, meminimalkan faktor kesalahan manusia (human error) dengan mencetak tenaga operator yang terkait dengan pesawat dan penerbangannya menjadi tenaga yang ahli. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi." Ada seorang sahabat bertanya; 'bagaimana maksud amanat disia-siakan?' Nabi menjawab; "Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu." (HR. Bukhari) 

Kedua, membangun kesadaran semua pihak dalam kegiatan penerbangan untuk tidak menimbulkan bahaya sehingga bisa mewujudkan prinsip zero risk. Rasul saw. telah bersabda, “Lâ dharara wa lâ dhirâra (Tidak boleh memadaratkan diri sendiri maupun orang lain).” (HR Ahmad, Ibnu Majah, al-Hakim, al-Baihaqi, Malik dan Asy-Syafii).

Ketiga, negara membuat aturan yang ketat dan tegas demi meminimalkan terjadinya technical error dan organization error.

Ia memaparkan, dalam menghadapi musibah alam Khilafah Islamiyah menerapkan manajemen bencana yang meliputi penanganan pra bencana, ketika, dan sesudah bencana. "Manajemen bencana model Khilafah Islamiyah tegak di atas akidah Islamiyah. Prinsip-prinsip pengaturannya didasarkan pada syariat Islam, dan ditujukan untuk kemashlahatan rakyat," pungkasnya. [] Alfia Purwanti


Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar