Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Zaitun Dibuldoser Penjajah, Palestina Menanti Fajar Khilafah


Topswara.com -- Pohon zaitun Palestina bukan sekadar sumber penghidupan, melainkan simbol identitas dan ikatan rakyat dengan tanah leluhurnya. Ketika pohon-pohon itu dirusak, bukan hanya ekonomi yang terancam, tetapi juga keberlangsungan hidup rakyat Palestina di tanahnya sendiri.

Zaitun Dihancurkan, Rakyat Terancam

Diwartakan Al Jazeera (16/10/2026), terjadi serangan terhadap petani Palestina yang memanen zaitun di Abu Falah, Tepi Barat. Sekitar 80 pemukim Israel bertopeng menyerang petani dan jurnalis foto Amerika Serikat, Heidi Levine. Sehari kemudian, sejumlah diplomat Eropa yang mengunjungi petani Palestina di Taybeh juga mengalami serangan. 

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mendesak Israel menindak kekerasan pemukim. Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee turut mengecam serangan terhadap jurnalis Amerika tersebut. Uni Eropa juga menyampaikan kecaman. Namun, pernyataan diplomatik belum cukup menghentikan kekerasan yang berulang (economictimes.com, 18/10/2026).

Penghancuran pohon zaitun berdampak langsung pada kehidupan keluarga Palestina yang menggantungkan penghasilan dari pertanian. Ketika pohon dirusak, panen terancam, dan petani diintimidasi, mereka kehilangan sumber penghidupan sekaligus menghadapi tekanan untuk meninggalkan tanahnya. Penyerangan terhadap jurnalis juga menghambat upaya mengungkap kekerasan kepada dunia.

Krisis Kepemimpinan Umat

Penderitaan Palestina telah lama menjadi perhatian dunia. Namun, berbagai kecaman belum menghasilkan perlindungan yang memadai.

Ketimpangan perhatian pun terlihat ketika serangan terhadap warga atau diplomat negara Barat segera menuai protes, sementara rakyat Palestina terus menghadapi kekerasan. Padahal, keadilan semestinya berlaku bagi setiap manusia, tanpa memandang kewarganegaraannya.

Persoalan ini bukan sekadar kurangnya kecaman, melainkan lemahnya tekanan politik untuk menghentikan penindasan. Di sisi lain, negara-negara muslim belum menyatukan potensi politik, ekonomi, dan pertahanannya menjadi kekuatan efektif untuk melindungi Palestina. Kepentingan nasional dan hubungan diplomatik kerap lebih dominan daripada tanggung jawab terhadap sesama muslim.

Doa, bantuan kemanusiaan, dan solidaritas publik tetap penting. Namun, semua itu perlu disertai langkah politik nyata untuk menghentikan penjajahan, melindungi warga sipil, dan menuntut pertanggungjawaban atas kekerasan. Palestina membutuhkan lebih dari sekadar simpati: rakyatnya membutuhkan perlindungan yang nyata.

Khilafah, Perisai Umat

Palestina memiliki kedudukan istimewa bagi umat Islam karena di sanalah Masjidilaqsa berdiri, kiblat pertama kaum muslimin sekaligus tujuan perjalanan Isra’ Nabi Muhammad saw.

Kedudukan ini semestinya menumbuhkan tanggung jawab umat untuk membela rakyat Palestina dari penindasan.

Allah Swt. berfirman:
“Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama hanya bagi Allah semata. Jika mereka berhenti, maka tidak ada (lagi) permusuhan, kecuali terhadap orang-orang zalim.” (QS Al-Baqarah: 193).

Ayat ini adalah perintah Allah yang mewajibkan umat Islam untuk mengusir para penjajah dari tanah mereka. 

Rasulullah saw. bersabda:
“Perumpamaan kaum mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh turut merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR Muslim).

Hadis ini menegaskan bahwa penderitaan Palestina merupakan persoalan seluruh umat Islam. Persaudaraan tersebut semestinya diwujudkan melalui kekuatan bersama, bukan berhenti pada rasa sedih dan bantuan kemanusiaan.

Rasulullah saw. juga bersabda, “Sesungguhnya imam (pemimpin) adalah perisai; orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung dengannya.” (HR Muslim).

Hadis ini menegaskan tanggung jawab kepemimpinan untuk melindungi umat.

Khilafah adalah institusi kepemimpinan yang menyatukan umat berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, mengurus kemaslahatan umat, serta menjaga wilayah dari ancaman.

Kesatuan kepemimpinan diharapkan dapat mengarahkan potensi politik, ekonomi, dan pertahanan umat untuk melindungi mereka dari kezaliman.

Dalam pandangan Islam, melindungi umat bukan sekadar pilihan politik, melainkan amanah kepemimpinan yang harus dijalankan sesuai syariat.

Pohon zaitun Palestina mengingatkan kita bahwa penjajahan merampas lebih dari sekadar tanah: ia mengancam penghidupan, identitas, dan masa depan rakyat. Ketika zaitun dimusnahkan penjajah, umat Islam tidak cukup hanya berduka. Solidaritas harus menjadi kekuatan dan kepemimpinan harus menjadi perisai.

Palestina menanti fajar pembebasan melalui persatuan umat dan tegaknya kepemimpinan Islam. Khilafahlah yang akan menyerukan sekaligus memimpin langsung pasukan kaum Muslim di seluruh dunia untuk membebaskan Palestina. 

Sungguh kaum Muslim memiliki sumber daya yang dahsyat. Cukup untuk menghancurkan zionis d tanah Palestina. Umat juga memiliki kekuatan militer dan pasukan yang berlipat-lipat dibandingkan dengan pasukan Yahudi. 

Wallahu'alam.


Zahida Ar-Rosyida 
(Pegiat Opini Islam Kaffah) 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar